
Revina sedikit terkejut saat melihat seorang wanita dengan pakaian yang cukup terbuka membukakan pintu.
"Eh, Bian. Aku kira kamu tidak datang." Katanya sambil tersenyum lebar. Nampak sekali wanita itu tengah menunggu kedatangan Bian.
"Tentu saja aku akan datang." Jawab Bian.
"Aku tahu." Kata wanita tersebut sambil tersenyum genit.
Bian masih diam tak bergerak dari posisinya. Wanita itu terlihat berjalan mendekat ke arah Bian dengan bibir tak menyurutkan senyumannya. Dia hendak meraih lengan Bian, namun segera ditepisnya.
"Aku ingin bertemu, Juna." Kata Bian.
Wanita itu masih mengerucutkan bibirnya karena penolakan Bian. Namun, dia segera berjalan untuk membukakan pintu lebar-lebar. Wanita itu masih tidak memperhatikan keberadaan Revina.
"Dia ada di dalam. Masuklah." Kata wanita tersebut.
Bian segera menoleh ke arah Revina. Dia mengajak Revina untuk segera masuk ke dalam rumah. Saat itulah wanita tadi memperhatikan keberadaan Revina. Dia memegang lengan Bian dan mendekapnya hingga membuat Bian berhenti.
"Tunggu, siapa ini, Bian?" Tanya wanita itu sambil menatap Revina dengan tatapan menyelidiknya. Dia terlihat sangat tidak suka dengan keberadaan Revina di sana.
Belum sempat Bian menjawab pertanyaan wanita itu, terdengar sebuah suara berteriak memanggil namanya.
"Om Biaaaannn." Teriak suara seorang anak laki-laki sambil berlari dan merentangkan kedua tangannya ke arah Bian.
Bian yang melihat hal itu langsung melepaskan belitan tangan wanita itu dan berjongkok untuk menangkap anak laki-laki tersebut.
"Juna apa kabar? Seneng nggak di Bandung?" Tanya Bian sambil sesekali menciumi pipi anak laki-laki tersebut.
"Baik, Om. Juna senang di Bandung, banyak temannya." Jawab anak laki-laki yang bernama Juna tersebut.
Bian terlihat bahagia mendengar perkataan Juna. Dia kembali menciumi pipi anak kecil yang berumur sekitar lima tahun tersebut.
"Eh, Nak Bian sudah datang?" Sapa seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Eh, iya Bu." Jawab Bian sambil menjabat tangan wanita paruh baya tersebut. Tak lupa juga dia mengecupnya sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.
Namun saat hendak berbalik, wanita paruh baya tersebut menyadari keberadaan Revina yang berada di belakang Bian.
"Eh, Nak Bian siapa dia?" Tanya wanita tersebut sambil menunjuk ke arah Revina.
Bian menolehkan kepalanya ke arah Revina. Dia sedikit bergeser hingga kini berada di samping Nova. Ya, wanita yang berpakaian cukup terbuka tersebut adalah Nova, Nova Agustina.
Sebenarnya, anak laki-laki yang bernama Juna tersebut adalah anak dari mendiang kakak perempuan satu-satunya Bian, Sabina Andaresta Atmaja. Sabina menikah dengan Deva Wardana, kakak kandung dari Nova Agustina. Sabina dan Deva sudah meninggal dunia sejak usia Juna masih dua tahun. Kini, Juna diasuh oleh sang nenek, bu Halimah dan tantenya, Nova.
Nova yang berdiri di samping Bian langsung melingkarkan tangannya pada lengan Bian. Ya, Nova memang tergila-gila kepada Bian. Bahkan, sejak kakak dan kakak iparnya masih ada, Nova sudah menunjukkan rasa tertariknya kepada Bian. Namun, hal sebaliknya justru diperlihatkan oleh Bian. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan segala tingkah Nova. Bian hanya menganggap Nova sebagai keluarganya, tidak lebih.
"Ini Revina, Bu." Kata Bian sambil menatap bu Halimah. "Rev, kenalkan ini bu Halimah, neneknya Juna." Kata Bian sambil menatap wajah Revina.
Revina masih mengamati interaksi Nova dan Bian. Dia bisa melihat jika Bian merasa sangat risih dengan segala tingkah Nova yang berlebihan. Namun, setelah mendengar perkataan Bian, Revina langsung menjabat tangan bu Halimah.
"Perkenalkan, saya Revina, Bu. Calon istri mas Bian."
Duaaaaarrrrr.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Diluar hujan, petirnya di teras depan pintu.
Jangan lupa kasih vote ya, mumpung sudah ada jatah vote. Terima kasih juga buat yang pencet like dan komen. Salah satu bentuk dukungan untuk othor agar semangat up.