
Kinan hanya mendengus dan berdecak kesal setelah mendengar pertanyaan Dena.
"Kamu kira kami ngapain saja? Aku juga pikir-pikir dulu mau di apa-apain oleh Duda," jawab Kinan sewot.
Dena langsung terkekeh geli melihat sang sahabat sudah langsung sewot sambil mengerucutkan bibir.
"Sudah-sudah. Maaf aku menyela ceritamu. Sekarang, lanjutkan lagi, gih." Dena meminta Kinan melanjutkan kembali ceritanya.
Mau tidak mau, Kinan akhirnya melanjutkan ceritanya. Dia juga menceritakan tentang tawaran Adrian yang kalau dipikir-pikir akan menguntungkan kedua belah pihak tersebut.
Tak lupa juga, Kinan menceritakan tentang rencana Adrian akan datang menjemputnya setelah selesai seminar dan akan menghadiri acara resepsi pernikahan Miss Adhia.
Tentu saja Dena cukup terkejut mendengar cerita Kinan. Pasalnya, acara seminar dan resepsi pernikahan Miss Adhia akan digelar di Bandung. Dan, jarak Jakarta-Bandung juga tidak dekat. Rasanya cukup mustahil jika Adrian akan mau pergi jauh-jauh kesana.
"Kamu yakin dia mau nyusul kamu ke Bandung? Ya, meskipun jarak Jakarta-Bandung tidak jauh-jauh amat sih, tapi kalau dilihat dia adalah orang sibuk, rasanya mustahil jika dia mau datang ke sana," ucap Dena.
Kinan memikirkan ucapan Dena yang ada benarnya. Kinan tahu persis siapa Adrian Hanggara. Seorang pengusaha yang cukup sukses. Dan, Kinan yakin pekerjaannya juga cukup banyak.
Awalnya, Kinan tidak menyadari hal itu sebelum Dena menanyakannya. Namun, setelah Dena menanyakan hal itu, Kinan menjadi sedikit ragu.
"Aku tidak berpikir sampai situ, Den." Kinan tampak pasrah. Wajah yang tadi penuh semangat, kini terlihat lesu.
Dena merutuki dirinya yang menanyakan hal itu kepada Kinan sehingga membuat wajah sahabatnya tersebut bersedih.
"Maaf, Kin. Aku tidak bermaksud membuat kamu kepikiran dan sedih. Nanti, kamu bisa tanyakan hal ini kepadanya, kan? Jika dia memang serius dengan tawarannya, aku yakin dia juga serius ingin menjemput kamu."
Kinan menoleh ke arah Dena. Wajah sahabatnya tersebut terlihat yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.
Setelah itu, obrolan kembali dilakukan. Kinan masih banyak menceritakan tentang sosok Adrian yang dikenalnya beberapa hari ini. Bahkan, Kinan juga menceritakan bagaimana perlakuan Adrian terhadapnya saat berada di butik Zarine.
Dena mendengarkan cerita Kinan dengan tak kalah antusiasnya. Dia sesekali memberikan respon yang sekiranya bisa membuat Kinan memiliki pandangan lain terhadap Adrian.
Tak terasa menjelang pukul satu siang Dena dan Kinan telah bercerita. Saat itu, Rean baru saja pulang dari distro. Kinan harus buru-buru pulang agar tidak melihat kebucinan hakiki yang diberikan oleh sepasang suami istri baru tapi sudah agak lama tersebut. Maksud e piye thor? Ndak tahu, othor e ya bingung 🤧
Sepulang dari rumah Dena, Kinan langsung mengemudikan mobilnya menuju minimarket. Entah mengapa hari itu Kinan ingin masak olahan ikan.
Tak butuh waktu lama, Kinan sudah selesai berbelanja. Dia segera memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil, dan segera beranjak pulang.
Kinan sampai rumah sudah menjelang sore. Dia bergegas membersihkan diri dan mulai menyiapkan makan malam dengan olahan ikan.
Kebetulan, Kinan masak ikan rica-rica pedas cukup banyak sore itu. Setelah maghrib, Kinan membagikan masakan tersebut kepada tetangga samping rumahnya. Hal itu sering Kinan lakukan saat kebetulan dia sedang masak sedikit lebih banyak.
Saat Kinan pergi ke rumah tetangga, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Kinan tidak menyadari jika ada tamu yang berkunjung ke rumahnya hingga dia kembali dari rumah tetangga.
Begitu keluar dari rumah tetangga, Kinan baru melihat sebuah mobil sudah terparkir di depan rumahnya. Kinan tahu persia mobil siapa itu.
"Lho, Om? Ada apa kesini malam-malam begini? Jangan bilang Om sudah kangen aku, ya?"
\=\=\=
Kuyy lah. Kasih rekomendasi mulut Kinan diapain nih.
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya.