The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Musim - 2 Obrolan Pertama



"Ja-jadi mau melakukannya malam ini?" Tanya Reyhan sambil melirik ke arah Fida.


Fida pun langsung mengangguk sambil tersenyum. Reyhan hanya bisa mencengkeram kemudi dengan kuat. Jantungnya berdegup sangat kencang. Keringat dingin tiba-tiba merembes pada pelipisnya. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju rumah dengan hati-hati.


Sekitar lima belas menit kemudian, Reyhan dan Fida sudah sampai di rumah. Rumah Reyhan berada di komplek perumahan yang sama dengan rumah Kenzo dan Vanya, hanya berbeda blok. Fida langsung mengambil beberapa paper bag yang ada di jok belakang mobil Reyhan, sementara sang suami segera mengambil koper milik mereka berdua.


Fida sudah tahu rumah Reyhan, namun dia belum pernah masuk ke dalamnya. Dia begitu bahagia saat memasuki rumah tersebut. Rumah minimalis dengan dekorasi modern yang nyaman. Fida masih diam terpaku di dekat ruang keluarga. Setelahnya, dia beranjak menuju dapur.


Sementara Reyhan sudah naik ke lantai dua dan meletakkan kedua koper yang dibawanya di dalam kamar tidur mereka. Setelahnya, dia kembali turun untuk menemui Fida.


"Ehm, ada yang masih kurang?" Tanya Reyhan saat menghampiri Fida yang kini tengah berdiri di depan mini bar yang berada di dapur minimalis tersebut.


Fida langsung menoleh menatap wajah Reyhan. Bibirnya langsung menampakkan senyumannya saat melihat sang suami tengah berdiri di san. Seketika Fida langsung mendekati sang suami dan melingkarkan kedua tangannya memeluk Reyhan dari depan. Kepalanya disandarkan pada dada bidang sang suami.


Ini pertama kalinya mereka melakukan adegan yang cukup intim. Sebelum-sebelumnya, hanya ada gandengan tangan. Kecupan di pipi Reyhan pun hanya beberapa kali, dan itu pun Fida yang melakukannya. 


Deg deg deg


Jantung Reyhan berdegup sangat cepat. Dia panik sendiri mendapati perlakuan Fida yang tiba-tiba. Fida yang menyadari jika sang suami tengah sibuk pun langsung menengadahkan kepalanya. Dia menatap wajah Reyhan yang tepat berada di atas kepalanya. (Maklum, tinggi badan Fida hanya sebatas dagu Reyhan 🤭)


"Kok detak jantungnya kenceng banget sih, Mas? Kamu gugup ya?" Tanya Fida.


Reyhan yang gelagapan langsung menggaruk tengkuknya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih diam saja tanpa berani membalas pelukan Fida.


"Ehm, i-tu anu…." Kata Reyhan gugup.


Fida langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Reyhan. Dia masih menunggu jawaban Reyhan.


"Itu anu apa, Mas?" Tanya Fida tidak sabar.


"Ehm, sa-saya masih gugup." Jawab Reyhan sambil berusaha tersenyum.


Fida tersenyum gemas saat melihat tingkah sang suami. Dia mengapit kedua pipi Reyhan dengan kedua tangannya hingga bibir Reyhan terjepit, monyong jadinya.


"Iihhh, gemes banget suamiku. Jadi nggak sabar pengen nyerang. Hehehe." Kata Fida sambil terkekeh geli.


"Eh, ma-mana ada yang seperti itu?!" Kata Reyhan.


"Ada dong. Nanti aku tunjukkan agar kamu percaya, Mas. Tapi, sebelum itu terjadi, aku mau ngomong dulu." Kata Fida sambil melepaskan pelukannya pada pinggang Reyhan. "Ayo, kita duduk di ruang makan dulu." Lanjut Fida sambil menarik lengan sang suami.


Reyhan mengikuti kemauan sang istri. Dia mengekori Fida dan mendudukkan diri berhadap-hadapan di ruang makan minimalis tersebut.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" Tanya Reyhan.


Fida tersenyum mendengar pertanyaan Reyhan.


"Mas, bisa nggak jika ngomong denganku jangan pakai kata 'saya', kok rasanya seperti sedang di kantor dan ngobrol dengan klien deh." Kata Fida.


Reyhan pun mengangguk mengiyakan. Sebenarnya, dia juga merasa seperti itu. Dia menyetujui usulan Fida.


"Lalu, apa ada lagi yang ingin dibicarakan?" Tanya Reyhan.


"Iya, ada Mas." Jawab Fida. Kali ini, wajahnya terlihat serius. Dia terlihat tidak sedang bercanda.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Reyhan.


"Maksudnya?" Tanya Reyhan semakin penasaran.


"Ehm, sebenarnya begini Mas. Seperti yang mas Reyhan ketahui, aku sudah mulai ada tanda-tanda datang bulan. Kemungkinan jika sudah seperti ini, dua sampai tiga hari lagi pasti akan datang tamu bulananku, Mas. Jika kita melakukan hubungan suami istri itu sekarang, apa mas Reyhan yakin bisa menahannya selama seminggu lagi?" Tanya Fida.


"Eh, ke-kenapa menanyakan hal itu?" Reyhan terlihat malu. Wajahnya sudah memerah setelah mendengar pertanyaan Fida.


"Memangnya kenapa jika aku menanyakan hal itu, Mas? Kata Vanya, suaminya dulu benar-benar tidak bisa menahan diri setelah buka puasa. Bahkan, dia sudah seperti minum obat saja tiga kali sehari. Aku hanya khawatir jika mas Reyhan merasa tidak nyaman nanti jika harus menunggu lagi setelah baru berbuka puasa." Jelas Fida.


Reyhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apa. Dia sendiri sebenarnya membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan pernikahan ini. Jadi, mungkin inilah saatnya untuk membiasakan diri dengan pernikahannya.


"Ehm, a-aku kira, kita bisa menundanya sampai tamu bulanan kamu selesai. Lagipula, kita juga harus membiasakan diri dengan pernikahan kita, kan." Jawab Reyhan akhirnya.


Fida tersenyum setelah mendengar perkataan Reyhan. Dia semakin yakin dengan pernikahannya ini. Sang suami benar-benar tidak menuntut banyak hal. Fida langsung menggenggam tangan Reyhan sambil mengulas senyumannya.


"Terima kasih, Mas. Aku pikir juga seperti itu. Jadi nanti, kita bisa langsung gaspol agar bisa segera di beri momongan." Kata Fida sambil mengerling nakal ke arah Reyhan.


"Mo-mongan?" Tanya Reyhan. Sebenarnya, dia masih belum memikirkan masalah momongan. Namun, dia menyadari jika cepat atau lambat hal itu pun akan terjadi.


"Iya dong. Aku juga ingin seperti Vanya yang sudah punya baby El yang gemoy itu, Mas. Nanti, buatkan aku yang gemoy seperti itu juga ya. Eh, tidak. Jangan, jangan yang seperti  baby El. Nanti ketularan mesom seperti daddynya. Yang seperti kamu deh, imut dan nggemesin." Jawab Fida sambil tersenyum dan mencubit pipi sang suami.


"Eh, me-memang bisa begitu?" Tanya Reyhan gugup. Dia merasa salah tingkah dengan godaan Fida.


"Bisa dong." Jawab Fida sambil masih mengulas senyumannya. "Berhubung kita menunda serangan malam pertama, kita nyicil dulu yuk. Kita kenalan dulu." Kata Fida sambil beranjak berdiri dan menarik lengan sang suami.


"Ke-kenalan? Maksudnya?" Tanya Reyhan bingung. Dia masih mengerutkan keningnya melihat senyuman smirk Fida.


"Tentu saja kenalan onderdil kita, Mas." Jawab Fida sambil berjalan di depan Reyhan.


"Kita mau buka bengkel?" 


"Iya, Mas. Bengkel reparasi onderdil pembuat anak."


🙄🤔


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Haduh, bang Reyhan. Othor lama-lama gemes sama kamu. Polos kok kebangetan. Belum pernah menonton video pemersatu bangsa apa ya, sama othor juga belum pernah. 😂


Sabar bang Reyhan, nanti di ajari sambil praktik oleh tutor Fida.


Mohon maaf kemarin dua hari banyak kerjaan di RL. Dan kemungkinan selama satu minggu kedepan juga masih lumayan sibuk. Tapi othor tetap usahakan up.


Terima kasih.