The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 49



Adrian langsung melepaskan pegangan tangannya pada tangan Kinan. Entah mengapa ucapan sang papa berhasil membuat Adrian salah tingkah. Mama Adrian langsung tergelak melihat tingkah putra semata wayangnya tersebut.


"Sudah, sudah. Jangan kamu goda lagi putramu itu, Pa. Kasihan, dia baru kasmaran. Jika digoda terus, yang ada Adrian jadi bete dan nggak jadi menikah. Mama sudah mau punya cucu."


Sontak saja ucapan mama Adrian sukses membuat Kinan dan Adrian terkejut. Cucu? Belum juga apa-apa sudah minta cucu. Apalagi, ini kan hanya sandiwara, batin Kinan.


Setelahnya, Kinan dan Adrian langsung duduk menempati posisi masing-masing. Mereka duduk melingkari meja makan tersebut. Kini, Kinan sudah duduk disamping Adrian dan sang mama. Di seberang Kinan, ada papa Adrian yang sudah lebih dulu menempati kursinya.


Acara perkenalan pun mulai dilakukan. Orang tua Kinan saling memperkenalkan diri. Hal yang sama pun juga dilakukan oleh Kinan. Dia juga menceritakan keluarganya yang tinggal di salah satu kabupaten di Bandung.


Tentu saja hal itu juga baru diketahui oleh Adrian. Adrian memang tidak mengetahui kehidupan Kinan sebelum ini. Setelah perkenalannya cukup, mereka segera memesan makan malam. 


"Kamu mau makan apa, Han?" tanya Adrian kepada Kinan.


Sontak saja Kinan langsung menoleh saat mendengar panggilan Adrian. Dia cukup terkejut karena Adrian tiba-tiba memanggilnya seperti itu. Ekspresi Kinan tersebut juga berhasil membuat orang tua Adrian bingung.


"Kenapa, Kin? Ada yang salah dengan panggilan Adrian?" tanya mama Adrian.


Seketika Kinan menggelengkan kepala.


"Tidak, Tante. Hanya saja, saya merasa malu jika Mas Adrian memanggil seperti itu di luar," jawab Kinan berusaha mencairkan suasana.


Suara gelak tawa langsung terdengar dari mama dan papa Adrian.


"Kenapa harus malu dengan panggilan kesayangan kalian? Bukankah itu bisa semakin menumbuhkan rasa cinta diantara kalian?" Mama Adrian berkata di sela-sela tawanya.


Wajah Kinan langsung merah setelah mendengar ucapan mama Adrian. Cinta? Yang benar saja, batin Kinan.


"Sudahlah, Ma. Jangan membuat Kinan malu lagi. Ini katanya mau makan malam, jangan digodain terus."


Mama Adrian langsung mengerucutkan bibir sambil menatap tajam ke arah sang putra.


"Godain bagaimana? Mama kan ngomong apa adanya, Yan. Lagian, kamu ini sudah tua, seharusnya kamu jauh lebih gercep. Nggak takut apa itu 'si gaman' andalan kamu karatan saking belum pernah dipakai?"


Sontak saja ucapan mama Adrian membuat Kinan terkejut. Dia langsung membulatkan kedua bola matanya dan menoleh ke arah Adrian.


Apa maksudnya itu? Belum pernah dipakai? Kok bisa? Dia kan duda. Apa jangan-jangan, dia duda tapi masih perjaka? Batin Kinan.


Adrian yang menyadari ekspresi Kinan langsung mendengus kesal. Dia menatap tajam ke arah Kinan dengan bibir mengerucut.


"Apa?" tanya Adrian.


Secepat kilat Kinan menggelengkan kepala. Dia akan menyimpan pertanyaan itu untuk nanti. Saat ini, Kinan harus fokus pada acara makan malam tersebut.


Setelah memesan makanan, obrolan kembali dilanjutkan. Orang tua Adrian dengan semangat menanyakan keluarga Kinan. Bahkan, mama Adrian meminta alamat orang tua Kinan dengan jelas. Dia berniat mampir ke rumah orang tua Kinan.


Awalnya, Kinan menolak hal itu. Namun, karena kebetulan papa Asrian memang ada proyek kerja sama dengan pihak pemerintah di sana untuk pembangunan beberapa fasilitas umum di sana, mau tidak mau Kinan memberikan alamat rumah orang tuanya.


\=\=\=


Kasih dukungan like dan komen yang banyak ya, biar othor semangat up. 


Rasanya, jika cuma sak uprit komennya, othor berasa sendirian nih. 🤧