The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 100



Sesampainya di rumah, Kinan segera memasukkan barang belanjaannya dan bergegas membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, makanan dan kue pesanan Kinan untuk para tetangga sudah datang. Kinan berniat mengantarkan makanan tersebut dengan Adrian nanti setelah maghrib. Sekaligus untuk memperkenalkan Adrian kepada para tetangga.


Setelah menyimpan makanan dan kue tersebut dengan baik, Kinan mulai menyiapkan bahan makanan yang akan diolahnya untuk makan malam. Sebenarnya, Kinan bisa saja memesan makan malam untuk mereka malam itu. Namun, entah mengapa dia benar-benar ingin memasakkan makan malam untuk sang suami.


Saat membayangkannya saja, sudah membuat Kinan bahagia. Dia benar-benar sudah merasa seperti seorang istri sungguhan. Eh, memang benar istri sungguhan, kan? Bukan abal-abal.


Malam itu, Kinan memasak masakan sederhana. Olahan daging ayam dan sup menjadi pilihannya. Kinan juga membuat bakso yang kebetulan tadi dia sempat membeli bakso di supermarket.


Hingga menjelang maghrib, semua masakan Kinan sudah selesai. Saat itu, Kinan juga mendapatkan pesan dari Adrian jika dia mampir kembali ke apartemen untuk mengambil baju ganti. Karena selama sekitar satu minggu, dia akan tinggal di rumah kontrakan Kinan.


Kinan segera membersihkan diri setelahnya. Dan, tak berapa lama kemudian, Adrian sudah datang sambil membawa sebuah koper yang berisi pakaiannya. Adrian juga membawa beberapa dokumen kantor yang harus dikerjakannya ke rumah Kinan.


Setelah memasukkan barang-barang, Adrian segera membersihkan diri. Tak lagi merasa canggung, Kinan dengan sigap langsung membereskan pakaian Adrian di lemari baju miliknya karena dia tidak mempunyai lemari lain yang kosong. Mau membeli yang baru pun rasanya juga percuma.


Kini, Adrian sudah berganti baju dengan baju yang sudah disiapkan oleh Kinan. Setelah itu, mereka berdua bergegas mengunjungi para tetangga dekat. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar tiga puluh menitan mereka sudah kembali ke rumah. Ada lima tetangga kanan kiri Kinan yang mereka kunjungi malam itu. Mereka juga tidak terlalu lama mengobrol.


Begitu kembali ke rumah, Kinan dan Adrian segera menyantap makan malam. Sembari melakukan beberapa obrolan ringan, Kinan dan Adrian juga membahas tentang beberapa kebiasaan mereka masing-masing.


Setelah menyelesaikan makan malam, Adrian langsung beranjak menuju ruang tengah rumah Kinan. Dia membawa laptop dan beberapa berkas dokumen yang harus diperiksanya.


Hal yang sama juga dilakukan Kinan setelah membereskan meja makan. Kinan segera mengambil laptop dan berniat meng entry nilai para mahasiswanya.


Tak butuh waktu lama, Kinan sudah menyelesaikan pekerjaannya sekitar empat puluh menit kemudian. Kinan bersyukur sudah menyicilnya beberapa waktu yang lalu. 


Setelah mematikan laptop, Kinan menoleh ke arah Adrian yang tengah fokus pada layar laptopnya. Adrian tampak serius memeriksa pekerjaannya saat itu.


"Apa masih banyak?" tanya Kinan sambil masih menatap Adrian.


Adrian menoleh sekilas dengan kedua alis terangkat. "Lumayan. Ada apa?"


"Ehm, nggak ada apa-apa, sih. Tapi, aku mau mencoba sesuatu."


Lagi-lagi Adrian menoleh. Dia merasa bingung dengan maksud ucapan Kinan.


"Mencoba sesuatu? Apa itu?" tanya Adrian.


"Setelah kita menikah, kita kan belum ngapa-ngapain. Ya, kemarin-kemarin sih memang kita masih di rumah Mama dan capek. Tapi, sekarang kan kita sudah tinggal berdua. Masa kamu nggak ada niatan ngapa-ngapain aku gitu, Mas?"


Ealah, ngarep banget diapa-apain, sih. 🤧