The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 106



Sontak saja semua orang yang berada di dalam kelas tersebut menoleh ke arah Rean. Tak terkecuali dosen tersebut. Kening perempuan cantik tersebut berkerut saat kedua bola matanya menatap ke arah Rean. Sepertinya, ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa waktu yang lalu.


"Eheemmm. Mohon jangan membuat keributan di kelas saya," ucap dosen perempuan tersebut sambil menatap ke arah Rean.


Rean segera tersadar dan tersenyum sambil mengangguk.


Kena kau sekarang. Saat ini, kamu tidak akan bisa mengelak lagi, batin Rean sambil masih menatap wajah dosennya tersebut.


Menyadari dirinya tengah diperhatikan, dosen perempuan tersebut melirik ke arah Rean sebentar sebelum kembali fokus kepada mahasiswa yang lainnya.


"Baiklah, sebelum perkuliahan kita dimulai, alangkah baiknya kita berkenalan dulu. Perkenalkan, nama saya Denada Mayyangta Gusnadi. Kalian bisa memanggil saya Miss Dena. Dalam semester ini, kalian akan berada di kelas saya untuk mata kuliah dasar ini. Jadi, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik."


"Seperti yang sudah saya sampaikan kepada ketua kelas kalian kemarin, saya akan mempunyai beberapa program yang harus kalian ikuti dan kerjakan. Baik individu maupun kelompok. Dan juga, setiap akhir perkuliahan, saya akan mengadakan kuis."


"Perlu kalian ketahui, saya hanya memberi kalian kelonggaran untuk tidak mengikuti perkuliahan saya sebanyak tiga kali dalam satu semester. Jadi, bagi kalian jika ada yang membolos lebih dari tiga kali, jangan ada yang berharap kalian akan mendapatkan nilai yang lebih dari C. Apa bisa dipahami?" tanya miss Dena sambil mengedarkan pandangannya.


"Mengerti, Miss." Jawab para mahasiswa tersebut kompak.


"Bagus. Ada pertanyaan?" Tanya miss Dena sambil kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. 


Para mahasiswa tampak sedikit takut dengan tatapan dosen muda tersebut. Sepertinya, dia adalah tipe-tipe dosen killer yang siap untuk menguliti para mahasiswanya dengan berbagai macam tugas.


Hampir semua mahasiswa yang berada di dalam kelas tersebut menundukkan kepala. Mereka terlihat tidak berani menatap ke arah dosen tersebut.


"Buset, cantik-cantik galak bener. Auranya nyeremin," bisik Dandi pada telinga Rean.


Namun, hal itu tidak membuat Rean takut. Justru dia merasa sangat penasaran dengan dosen cantiknya tersebut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rean langsung mengangangkat tangan kanannya. Seketika miss Dena menoleh ke arah Rean dengan kening berkerut.


"Iya. Ada pertanyaan?" Tanya miss Dena dengan ekspresi datarnya.


Kening miss Dena langsung berkerut setelah mendengar pertanyaan Rean. Tampak sekali dari ekspresi wajahnya dia terlihat tidak suka dengan pertanyaan Rean.


"Saya mempersilahkan untuk mengajukan pertanyaan terkait dengan mata kuliah yang saya ajarkan, bukan tentang informasi pribadi."


"Memang kenapa jika bertanya tentang informasi pribadi, Miss? Siapa tahu nanti pertanyaan seperti itu akan keluar dalam soal kuis atau ujian?"


Sontak saja terdengar suara koor dari dalam kelas.


"Hhhuuuuu, ngarep saja kamu, Re!" 


"Modus itu, mah!"


"Jangan di jawab, Miss."


Ya, begitulah suara-suara yang berasal dari teman-teman Rean setelah mendengar perkataannya tersebut. Kelas mulai terlihat gaduh saat para mahasiswa tersebut mulai sibuk menggoda Rean. Miss Dena mulai terlihat kesal karena kelasnya sudah mulai tidak kondusif.


"Sudah, sudah! Saya tidak mau ada kegaduhan lagi di dalam kelas," ucap misa Dena sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Setelahnya, tatapan matanya kembali ke arah Rean.


"Dan kamu, jangan lagi membuat keributan di kelas saya!" Kata miss Dena dengan tatapan galaknya.


"Baiklah, aku tidak akan membuat keributan di dalam kelas lagi. Tapi, aku berjanji akan membuat keributan di hati Anda, Miss."


"Eeeeeaaaa!"


Dohlah, embuh wis. Othor nyerah wis, othor angkat piring lah.