The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Pengenalan



Cup


Kenzo tiba-tiba mendaratkan kecupan singkat pada pipi kanan Vanya. Jantung Vanya? Jangan ditanya lagi. Suara degup jantungnya mungkin sudah bisa didengar oleh Kenzo. Kenzo melepas pelukannya dan menarik Vanya agar duduk di sofa bed yang ada di balkon tersebut. Mereka duduk berdampingan, masih canggung.


Seketika suasana menjadi hening. Vanya masih diam menunggu Kenzo memulai pembicaraan. Hingga akhirnya Kenzo membuka obrolan lebih dulu.


"Eehhmm seperti yang kita bicarakan sebelum menikah waktu itu, aku ingin kita memulai pernikahan ini dengan ikhlas. Kita belum saling mengenal dan terbiasa akan hadirnya masing-masing. Tapi, aku berharap jika kita akan berusaha untuk saling mengenal dan saling terbiasa." Kata Kenzo.


Vanya masih diam mendengarkan. Dia hanya mengangguk mengiyakan.


"Lalu, kita harus mulai dari mana?" Tanya Vanya.


Kenzo terlihat memikirkan sesuatu sebelum akhirnya kembali bersuara.


"Kebiasaan." Kata Kenzo. Vanya yang bingung dengan perkataan Kenzo pun langsung menoleh menatapnya. 


"Kebiasaan yang bagaimana Mas?" Tanya Vanya.


"Ya, seperti yang ibu kamu bilang saat kita akan kembali kemarin. Cinta ada karena terbiasa. Aku ingin menumbuhkan rasa cinta itu ada diantara kita, di pernikahan ini, karena kebiasaan yang akan kita lakukan." Kata Kenzo.


"Lalu, kebiasaan apa yang akan kita lakukan?" Tanya Vanya.


Kenzo menoleh menatap Vanya sebelum menjawab. Dia mengeluarkan selembar kertas yang sudah ada coretan menggunakan pena disana. Vanya mengernyitkan dahinya bingung saat Kenzo menyerahkannya.


"Bacalah." Perintah Kenzo.


Vanya pun membuka kertas itu dan mulai membaca. Dia membulatkan matanya begitu membaca tulisan yang ada pada lembaran kertas itu. Dia menoleh kepada Kenzo sambil membulatkan matanya dengan besar.


"Apa-apaan ini Mas. Maksudnya apa?" Tanya Vanya.


Kenzo menatap Vanya dengan sabar sebelum menjelaskan. "Itu beberapa cara yang bisa kita lakukan agar kita bisa semakin dekat kan. Mungkin, dengan cara seperti itu, rasa itu akan segera hadir di antara kita." Jawab Kenzo.


Vanya memutar bola matanya dengan jengah. Bisa-bisanya Kenzo melakukan hal ini kepadanya.


"Tidak harus seperti ini juga dong Mas. Coba lihat ini, hampir semua hal yang ditulis disini harus aku yang melakukannya. Apa ini coba, membangunkan suami dengan morning kiss, memeluk suami saat akan berangkat dan pulang kerja, makan siang di kantor suami, setiap hari minimal kasih sepuluh kiss untuk suami, dan apalagi ini yang terakhir, memandikan suami? Dikira Mas ini sudah meninggal apa dimandikan segala." Kesal Vanya. 


Kenzo yang mendengar Vanya hanya bisa menggeram kesal. "Enak saja, ngarep banget apa jadi janda." Gerutu Kenzo.


"Iihh, amit-amit." Kata Vanya sambil mengetuk-ngetuk meja. "Nikah aja baru kemarin, belum juga belah melon masak iya sudah jadi janda." Lanjut Vanya.


Kenzo mengernyitkan dahinya. "Apa itu belah melon? Bukannya belah duren ya?" Tanya Kenzo bingung.


"Aku nggak suka duren Mas, lebih baik melon." Kata Vanya.


"Ganti, ogah yang model begini. Namanya enak di dikau ndak enak di daku Mas kalau gini ini." Jawab Vanya.


"Lhah, masak iya hanya aku yang merasa enak jika seperti itu. Bukannya kamu nanti juga akan merasa enak ya?" Kata Kenzo.


Vanya menggeleng dengan cepat. "Nggak mau. Aku maunya rasa cinta itu memang ada bukan karena nafsu semata. Tapi memang berasal dari hati." Kata Vanya.


Kenzo yang mendengarnya hanya bisa mengangguk. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Kenzo.


"Eehhmm, kita kan belum saling mengenal. Kita juga belum tahu masa lalu masing-masing, kebiasaan, kesukaan dan sebagainya. Kita mulai pendekatan dulu. Kita pacaran. Bagaimana?" Kata Vanya.


"Pacaran? Lha, kita kan sudah menikah."


"Tidak apa-apa kan, aku belum pernah pacaran." Kata Vanya sambil memasang wajah sedih. "Apa mas Kenzo sudah pernah pacaran?" Tanya Vanya penasaran.


Mendengar pertanyaan Vanya, Kenzo segera menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu menahu tentang hal-hal yang berbau romantisme.


"Belum. Aku juga belum pernah pacaran." Jawab Kenzo.


"Benarkah?"


Kenzo mengangguk mengiyakan. "Benar. Aku memang belum pernah berpacaran dengan siapapun." Jawan Kenzo.


"Lalu, siapa Celine?" Tanya Vanya.


Deg.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Satu lagi insyaAllah agak siang ya 🤗