
Revina langsung berteriak tertahan. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jangan lupakan juga kedua matanya yang membulat dengan sempurna setelah mendengar penjelasan Keyya.
"A-apa ti-tidak malu melakukannya, Bu?" Tanya Revina. Pasalnya, Keyya sudah menjelaskan apa saja yang biasa dia lakukan untuk menyenangkan sang suami. Dan hasilnya, benar-benar membuat Kaero candu terhadapnya.
"Kenapa mesti malu? Dia kan suami kita. Jika dengan melakukannya suami kita merasa senang, apa itu salah?"
"Ti-tidak, Bu. Tapi, hanya dengan membayangkannya saja, saya merasa malu Bu."
"Kamu merasa malu karena belum terbiasa. Dulu, aku juga masih malu-malu ketika melakukannya untuk pertama kali. Namun, aku memberanikan diri sesekali untuk meminta lebih dulu. Bahkan, aku juga mulai mengambil alih permainan. Hasilnya, mas Kaero benar-benar puas." Kata Keyya sambil tersenyum.
"Benarkah?" Revina masih penasaran.
"Tentu saja. Aku beri sedikit bocoran. Kebanyakan, para laki-laki lebih suka jika pasangannya bisa ekspresif diatas ranjang. Kebanyakan para suami juga lebih suka jika istri-istri mereka bisa mengeluarkan des*han dan kata-kata sedikit 'horor' yang bisa membuat mereka lebih bersemangat."
"Mereka kebanyakan juga suka jika para istri mengambil inisiatif dan saling terbuka dengan style atau posisi saat pertempuran di atas ring empuk. Kamu bisa mulai mencobanya nanti." Kata Keyya sambil mengedipkan mata kepada Revina.
Seketika Revina menjadi salah tingkah. Bagaimana dia akan mempraktekkannya, sementara bagian bawahnya saja masih terasa, ah sudahlah.
Keyya yang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Revina pun hanya bisa tersenyum. Dia mengusap-usap bahu kiri Revina untuk menyemangatinya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Buat senyaman mungkin untuk kalian. Bicarakan baik-baik apa yang membuat kalian nyaman dan tidak nyaman. Selebihnya, biarkan mengalir apa adanya."
Revina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia berusaha untuk memahami apa yang dikatakan oleh istri atasannya tersebut. Revina tahu, jika antara teori dan praktek langsung pun, biasanya akan berbeda.
"Terima kasih, Bu. Sebisa mungkin saya akan melakukannya. Saya juga ingin membuat mas Bian hanya melihatku seorang." Kata Revina penuh semangat.
Keyya yang mendengar hal itu langsung tersenyum. Dia merasa yakin jika Keyya bisa melakukannya.
"Harus itu. Buat suami kamu tidak menoleh ke kanan dan kiri. Pastikan dia selalu menatap ke arahmu."
Revina kembali menganggukkan kepalanya. Dia semakin yakin dengan rencana yang sudah mulai berputar di kepalanya. Hingga sebuah pertanyaan kembali muncul dibenaknya.
"Ada beberapa yang justru menyukainya. Beberapa suami beranggapan jika istri mereka mengeluarkan suara-suara seperti itu, mereka justru menikmatinya. Dan itu membuat para suami semakin bersemangat. Sedangkan jika para istri diam saja, para suami bisa beranggapan mereka sedang bergelut dengan gedebok pisang. Hehehehe. Itu kata suamiku sih sebenarnya. Tapi aku juga tidak tahu yang lainnya."
Revina akan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Baiklah. Aku akan mencobanya, Bu. Aku akan berusaha membuat mas Bian senang." Kata Revina penuh semangat.
"Memangnya, apa yang mau kamu lakukan untuk meyenangkanku?" Tanya Bian yang tiba-tiba sudah berada di belakang Revina dan Keyya.
Seketika Revina dan Keyya langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka cukup terkejut saat melihat Bian dan Kaero sudah berdiri di sana.
"Eh, kalian sudah selesai?" Kali ini Keyya yang bertanya.
"Hhhmmm, siapa tadi yang ngomongin gedebok pisang?"
"Waduh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Sabar dulu ya, lanjutannya masih otewe.