The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Kejutan untuk Kenzo



Setelah dari lapangan golf, Kenzo dan Reyhan segera menuju restoran tempat Vanya dan Fida menunggu untuk makan siang. Reyhan tidak mengetahui jika saat itu Fida juga sudah berada di restoran tersebut. 


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kenzo dan Reyhan sudah tiba di restoran. Reyhan segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Dia sedikit celingak celinguk melihat di sekelilingnya. Kenzo yang menyadari tingkah Reyhan pun mengerutkan keningnya.


"Apa yang kamu cari Rey?" Tanya Kenzo.


"Ah, itu Tuan. Saya mencari mobil nona. Apa nona tidak membawa mobil sendiri?" Tanya Reyhan sambil melepas seatbeltnya.


"Oh, itu. Tidak. Dia naik taksi online. Sudah, ayo segera turun." Ajak Kenzo. 


Reyhan segera mengangguk dan mengikuti Kenzo. Mereka berjalan memasuki restoran tersebut untuk mencari keberadaan Vanya. Kenzo dan Reyhan saling mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Vanya.


Netra mata Kenzo melihat Vanya dan Fida tengah berada di dekat taman. Dia mengajak Reyhan segera menemuinya. Dan, betapa terkejutnya Reyhan saat melihat Fida juga sudah ada di sana. 


Hal yang sama juga dirasakan oleh Fida. Dia juga cukup terkejut saat melihat Reyhan berada di depannya, meski hal itu sudah diprediksi sebelumnya. Namun entah mengapa dia masih saja merasa terkejut.


"Mas, sudah datang?" Kata Vanya yang mendapat tepukan pada bahunya. Dia memang duduk membelakangi pintu masuk saat itu. Jadi, dia tidak mengetahui jika Kenzo dan Reyhan sudah datang.


"Sudah lama ya? Maaf kami terlambat." Kata Kenzo sambil mendudukkan diri di dekat Vanya.


Reyhan yang masih berdiri pun merasa bingung. Dia masih bingung harus duduk dimana. Kursi yang tersisa pada meja itu berada di samping Fida. Reyhan terlihat enggan untuk mendudukinya.


Kenzo yang menyadari jika Reyhan masih tidak bergerak pun menatap ke arahnya.


"Kenapa masih berdiri? Cepat duduk." Kata Reyhan sambil menunjuk kursi di dekat Fida dengan gerakan kepalanya.


Reyhan dengan ragu-ragu segera duduk di dekat Fida. Mereka terlihat canggung duduk berdekatan seperti itu. Namun, bukan Fida namanya jika tidak membuat Reyhan senam jantung.


"Sayang, mau pesan apa?" Tanya Fida kepada Reyhan dengan santainya.


Sontak saja Reyhan langsung tersedak air liurnya sendiri. Dia langsung terbatuk-batuk setelah mendengar perkataan Fida. Sementara Fida langsung menepuk-nepuk bahu Reyhan sambil tangan satunya menyurukkan air minumnya kepada Reyhan.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Reyhan langsung menenggaknya. Sementara Kenzo yang masih terkejut dengan perkataan Fida pun masih diam mengamati interaksi Fida dan Reyhan.


Reyhan segera menenggak air minum tersebut hingga tandas. Setelahnya, dia segera meletakkan gelas yang sudah kosong tersebut dan mengelap mulutnya dengan tisu yang ada di depannya. Fida yang melihat hal itu pun langsung tersenyum.


"Ciieee, sudah mau minum segelas berdua nih. Ngomong dong jika mau minum segelas berdua, nanti aku bagi. Jangankan segelas berdua, seranjang berdua pun aku rela berbagi kok." Kata Fida dengan santainya.


Sontak saja Reyhan menoleh menatap wajah Fida dengan mata membulat. Dia baru menyadari jika air minum yang dihabiskannya adalah air minum Fida. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Hal yang bisa dilakukan oleh Reyhan hanya mendelik tajam menatap Fida.


Bukannya takut, Fida malah terlihat biasa saja. Dia dengan santainya mengalihkan pandangan pada Vanya dan Kenzo yang masih menatap interaksi mereka dengan ekspresi berbeda. Vanya menatap interaksi Fida dan Reyhan dengan ekspresi geli, sedangkan Kenzo menatap interaksi Fida dan Reyhan dengan ekspresi terkejutnya.


"Kalian nggak kompak, ih. Satu kelihatan menahan tawa, satu kelihatan terkejut." Kata Fida sambil memanyunkan bibirnya menatap Vanya dan Kenzo.


"Yyeee, mana ada itu." Jawab Vanya sambil berusaha menahan senyumannya. "Sudah, sudah. Aku sudah lapar. Cepat pesan gih." Kata Vanya sambil memberikan daftar menu makanan masing-masing kepada Fida, Reyhan dan Kenzo. Sementara dirinya membuka daftar menu makanan yang ada di depannya dengan harap-harap cemas.


Satu, dua, tiga, empat, lima.


Vanya menghitung sampai lima saat Kenzo membuka daftar menu makanan yang ada di depannya. Selam menunggu reaksi Kenzo, Vanya berharap-harap cemas. Dia bahkan tidak bisa fokus pada daftar menu makanan yang ada di depannya. Dia hanya menggigiti bibir bawahnya menunggu reaksi Kenzo.


Sementara Kenzo, setelah membuka daftar menu makanan yang diberikan oleh Vanya, netra matanya menatap sebuah foto hasil USG di sana. Di bawahnya, ada sebuah tulisan tangan yang cukup menyita perhatiannya.


Hi, Daddy!


I can't wait to meet you. 


Kenzo masih diam terpaku menatap catatan kecil di bawah foto USG tersebut. Otaknya masih mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan beberapa kali pun Kenzo membaca tulisan itu akan tetap sama.


Setelah mulai mengerti, Kenzo mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya tiba-tiba berdegup cukup kencang. Dia memutar tubuhnya menghadap Vanya yang saat itu tengah cemas menunggu reaksi darinya.


"Sa-sayang, i-ini?" Kenzo mendadak gagap saat hendak meminta kejelasan dari Vanya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca berharap apa yang diharapkannya menjadi kenyataan.


Vanya yang mengerti dengan maksud Kenzo pun segera mengangguk sambil tersenyum. 


Hati Kenzo langsung menghangat. Cairan yang sedari tadi sudah menumpuk di ujung matanya langsung luruh begitu saja pada pipinya. Kenzo langsung menarik lengan Vanya dan memeluknya dengan cepat. Diberikannya kecupan berkali-kali pada pucuk kepala Vanya sambil bibirnya tak berhenti mengucapkan terima kasih.


Vanya membalas pelukan Kenzo. Dia mengusap-usap punggung Kenzo dengan lembut. Vanya sama sekali tidak mengira jika Kenzo akan bereaksi seperti ini. Vanya hanya mengira jika Kenzo akan biasa saja menanggapi berita kehamilannya. Namun, kenyataannya Kenzo benar-benar meneteskan air mata karena haru. Vanya sangat bersyukur sang suami bahagia dengan kehamilannya.


Sementara Fida yang melihat adegan di depannya ikut merasa bahagia. Dia bahkan tanpa sadar mengapit lengan Reyhan sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Reyhan. Reyhan yang masih belum mengerti pun langsung menoleh menatap tingkah Fida.


"Ini apaan sih main pegang-pegang?" Kata Reyhan.


Fida yang tersadar pun segera melepaskan pelukan pada tangan Reyhan.


"Maaf Sayang, terbawa suasana. Hehehe." Jawab Fida sambil tersenyum nyengir.


Setelah mendengar perkataan Reyhan dan Fida, Kenzo dan Vanya segera melepaskan pelukannya. Mereka segera membenahi posisi duduknya. Sementara Reyhan yang masih belum mengerti pun segera bertanya.


"Ada apa, Tuan?" Tanya Reyhan.


Kenzo yang memperhatikan wajah Reyhan yang terlihat masih bingung pun tersenyum. Dia mengambil foto USG tersebut dan menunjukkannya pada Reyhan.


"Aku akan menjadi daddy, Rey! Jadi daddy! Aaarrrggghhh." Kata Kenzo dengan suara keras sambil menggoyang-goyangkan foto USG tersebut.


Beberapa orang yang berada di sekitar mereka melihat ke arah Kenzo. Mereka tersenyum melihat tingkah Kenzo.


Reyhan yang mendengarnya pun langsung tersenyum. Dia ikut bahagia melihat sang atasan akan menjadi seorang ayah. Dia mengucapkan selamat kepada Kenzo dan Vanya.


"Selamat, Tuan dan Nona. Sebentar lagi, kalian akan menjadi orang tua. Saya ikut bahagia mendengarnya. Saya berdoa semoga calon bayi dan ibunya sehat-sehat selalu sampai hari kelahiran tiba." Kata Reyhan.


Kenzo dan Vanya pun tersenyum dan mengangguk bersamaan. Fida juga mengucapkan selamat dan doa serta harapan yang sama.


Kenzo masih memandangi foto USG tersebut. Dia bahkan lupa belum memesan makanannya hingga Vanya harus mengingatkannya kembali. Setelahnya, mereka langsung memesan makan siangnya.


Reyhan baru menyadari tingkah aneh Kenzo saat mendengar penjelasan Kenzo dan Vanya tentang kehamilannya.


"Jadi, apa karena kehamilan nona Vanya selera makan anda berubah, Tuan?" Tanya Reyhan.


Kenzo mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Reyhan bingung.


"Maksud kamu?" 


"Selama beberapa hari ini selera makan anda berubah. Beberapa hari yang lalu, anda minta makan siang di warung pinggir jalan. Keesokan harinya, anda minta makan siomay. Lalu setelahnya, anda ingin makan rujak langsung dari cobeknya. Apakah itu bisa diartikan ngidam?" Tanya Reyhan.


"Ngidam?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungannya ya, klik like, komen dan vote. Boleh kasih rate bintang lima juga boleh, biar othor nggak kesepian.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda


Thank you