
Pagi itu, Cello terlihat sedang bersiap-siap untuk berangkat ke tempat pelatihan. Cello benar-benar beruntung karena kurang dari satu minggu lagi pelatihannya sudah selesai. Dia dan keempat temannya yang lain, juga sudah berhasil menyelesaikan latihannya tersebut.
Hari itu, Cello berangkat agak lebih siang dari biasanya. Dia tidak akan ke tempat pelatihan, namun dia harus ke kantor administrasi pusat. Cello beserta keempat rekannya akan mengambil sertifikat pelatihan hari itu.
"Hari ini berangkat agak siang, Mas?" tanya Shanum setelah memberikan kedua putranya kepada mbak Siti. Mereka sudah biasa bermain di teras belakang untuk mendapatkan matahari pagi.
"Iya. Hari ini pengambilan sertifikat pelatihan di kantor administrasi pusat."
"Bareng yang lainnya juga?"
"Iya, Yang. Kami kan selesai barengan ini nanti."
"Acara pelepasannya kapan, Mas?" tanya Shanum sambil merapikan tempat tidur mereka.
"Tiga hari lagi. Acara pelepasannya juga digabung bareng-bareng dengan tempat pelatihan lainnya, Yang."
Shanum hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Setelah sarapan, Cello berangkat ke kantor pusat pagi itu. Dia mengendarai mobilnya sendiri pagi itu. Sekitar satu jam kemudian, Cello sudah sampai di kantor pusat. Dia segera memarkirkan kendaraannya di tempat yang masih kosong.
Saat Cello keluar dari mobil, tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil namanya dari arah belakang.
"Cello?!"
Cello segera membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang dikenalnya.
"Om Bernard?! Benarkah ini Anda?" tanya Cello tak percaya.
Keduanya langsung berjabat tangan sambil berpelukan singkat. Wajah Cello dan Om Bernard terlihat senang sekali mereka dapat bertemu di tempat tersebut. Saat keduanya masih merasa terkejut, tiba-tiba mereka diinterupsi oleh sebuah suara.
"Kalian saling kenal?"
Baik om Bernard dan Cello langsung menoleh ke samping mereka. Terlihat wajah seorang wanita muda dengan kening berkerut.
"Tentu saja Al, Uncle sangat mengenal Cello. Dia dari Indonesia," jawab om Bernard sambil masih mengulas senyumannya.
"Kalian saling kenal juga?" kali ini Cello tang terkejut.
"Eh, benarkah Om? Waahh kenapa kebetulan sekali. Kami teman satu kelompok," kata Cello.
"Benarkah?!" Om Bernard terlihat terkejut. Dia menoleh menatap ke arah Alicia dengan kening berkerut. "Apa laki-laki ini yang kamu maksud dulu, Al?" tanya om Bernard sambil menatap ke arah Alicia.
Wajah Alicia terlihat merah menahan malu. Namun, dia langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan om Bernard. Seketika terdengar gelak tawa om Bernard. Cello yang melihat hal itu semakin bingung. Sementara Alicia semakin malu saat melihat tawa om Bernard.
"Ada apa, Om?"
"Hahahaha, kamu tahu Cell, beberapa bulan yang lalu Alicia pernah bilang ke Om jika dia patah hati karena laki-laki yang disukainya ternyata sudah menikah. Waktu itu Om tanya siapa laki-laki itu, tapi dia tidak menjelaskannya. Hari ini Om baru tahu jika laki-laki itu adalah kamu. Hahahaha,"
Cello cukup terkejut mendengar penjelasan om Bernard. Namun, dia berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan keterkejutannya di depan Alicia. Cello tidak ingin membuat Alicia tambah malu.
"Om Bernard ini bisa saja. Aku kan memang sudah menikah dari tahun kemarin, Om." Kata Cello sambil berusaha terdengar santai.
"Hahaha, kamu benar, Cell. Bahkan, aku juga ikut turun tangan untuk kasus yang menimpa kamu waktu itu."
"Hehehe, iya, Om. Dan untuk itu, aku mengucapkan banyak terima kasih."
"Sama-sama. Melalui kejadian itu, Om banyak belajar dan mengambil hikmahnya. Sekarang, Om bahkan sudah menikah kembali." Kata om Bernard sambil tersenyum lebar.
"Eh, benarkah?"
"Tentu saja. Dan, sekarang Om jauh lebih bahagia."
"Kalau boleh tahu, siapa istri Om sekarang?" tanya Cello penasaran.
"Ah, kamu sudah mengenalnya, Cell."
"Eh benarkah? Siapa ya?" gumam Cello sambil mengingat-ingat.
"Dia…,"
Hayoo, kira-kira siapa ya? 🤭
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya.