The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 143



Tiga hari sudah Cello dan Shanum berada di Indonesia. Mama Revina dan papa Bian juga sudah mengunjungi kedua cucu mereka. Hanya satu orang yang membuat Shanum kangen. Ya, dia adalah Rean. Hanya dia yang belum menjenguk keponakannya karena sang istri batu saja mengalami kecelakaan di Bandung.


"Bagaimana kondisi Dena sekarang, Ma?" tanya Shanum saat mama Revina mengunjunginya lagi siang itu.


"Sudah lumayan membaik, kok. Hanya saja, bahu kanannya masih sakit. Jadi, tangan kanannya belum bisa digerakkan."


"Bagaimana sih kejadiannya, Ma?"


"Hhhh, mama sih tidak tahu pasti kronologis kejadiannya. Hanya saja, saat itu dia terburu-buru untuk menyusul adik kamu yang memang sedang ada di Bandung untuk menunggui distro barunya di sana. Rencananya, distro itu akan buka akhir minggu ini. Tapi, karena ada kejadian ini jadi harus molor lagi."


Kening Shanum berkerut. Dia masih belum bisa memahami cerita sang mama.


"Memangnya kenapa Rean tidak mengajak Dena sekalian ke Bandung, Ma?" tanya Shanum penasaran. Shanum pikir, kejadian ini mungkin tidak akan terjadi jika mereka bersama-sama pergi ke Bandung.


"Kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga adik kamu?!" tanya mama Revina terkejut.


Shanum langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia masih bingung dengan maksud sang mama.


"Memangnya apa yang terjadi, Ma? Ada apa dengan pernikahan mereka?" tanya Shanum penasaran. Entah mengapa jantungnya menjadi tidak nyaman. Rasa khawatir menyusup begitu saja pada hati Shanum.


Sambil menghembuskan napas beratnya, mau tidak mau mama Revina menceritakan kehidupan rumah tangga Rean dan juga Dena. Seketika Shanum langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna setelah mendengar cerita sang mama.


"Mama serius ini terjadi pada Rean?!" Shanum seolah masih tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh mama Revina.


"Tentu saja Mama yakin. Mama bahkan melihat sendiri," jawab mama Revina sambil menghembuskan napas beratnya.


"La-lalu bagaimana sekarang, Ma?" Shanum terlibat masih khawatir. Walaupun dia dan Rean sering bertengkar, namun Shanum tetap mengkhawatirkan kondisi adiknya tersebut.


"Kamu jangan khawatir. Semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin dengan adanya kejadian kecelakaan kemarin, menyadarkan mereka berdua. Mama sempat berpikir apakah hal itu terjadi karena Mama dan Papa mengizinkan Rean menikah dengan usia yang terlalu muda. Namun, setelah melihat sikap Rean yang jauh lebih dewasa, Mama dan Papa hanya bisa berdoa dan berharap mereka bisa bahagia."


Pembicaraan tentang Rean hari itu berakhir saat Drew bangun dari tidur siangnya. Dia sudah merengek untuk minta susu seperti biasanya. Badan Drew yang sedikit hangat membuatnya merasa tidak nyaman. Drew jadi gampang menangis dan merengek.


Malam harinya, mommy Fara membawa Dryn ke dalam kamarnya. Dia akan mengajak tidur Dryn bersamanya malam itu. Mommy Fara tidak ingin Dryn tertular demam Drew.


Daddy El yang baru saja selesai membersihkan diri langsung ikut bergabung bersama dengan istri dan cucunya di atas tempat tidur. Dryn yang malam itu belum tidur, bahkan sedang bermain-main dengan botol susunya.


"Yang, warna mata Drew dan Dryn sepertinya mewarisi Cello deh ini," kata daddy El sambil menciumi pipi gembul cucunya tersebut.


"Iya sih, tapi hidungnya benar-benar mirip papanya Shanum."


"Eh, masa begitu?"


"Tentu saja. Lihat hidung Dryn mancung banget ini. Bahkan, sudah kelihatan jika hidungnya nanti akan sangat mancung."


"Hidungku juga mancung lho, Yang." Kara daddy El sambil menarik-narik ujung hidungnya.


"Kalau kamu itu yang mancung bukan hidungnya, Mas!"


"Eh, lalu apa?"


"Tonggak kehidupan."


"Oh, kalau itu jelas, sudah pasti. Kamu mau lihat?" tanya daddy El sambil beranjak berdiri dan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.


"Nggak mau!"