
Rean cukup terkejut saat tiba-tiba sang nenek menggebrak meja yang ada di depannya. Tatapan matanya tajam tertuju kepada Dena.
"Lancang sekali kamu bicara seperti itu kepadaku!" Sang nenek langsung berdiri dan menuding Dena dengan tangan kanannya. "Kamu benar-benar seperti ibumu yang pembangkang. Kalian memang s*mpah. Kalian seharusnya bersyukur bisa kami tampung!"
Kali ini, Dena sudah tidak sabar lagi. Emosinya langsung memuncak saat nama ibunya dibawa-bawa.
"Jaga bicara Nenek. Selama ini aku dan mami hanya bisa diam dengan semua perlakuan Nenek. Namun, kali ini aku tidak akan tinggal diam. Selama ini, apakah Nenek pernah menganggap Mami ada? Apakah pernah Nenek menanyakan apa yang mami mau dan inginkan? Setelah kejadian waktu itu, mami sama sekali tidak pernah merasakan kehangatan keluarga. Mami selalu mendapatkan tekanan dari Nenek."
"Apakah itu yang disebut keluarga? Apakah begitu yang seharusnya orang tua lakukan dengan membeda-bedakan anak?" Dena benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Rean yang melihat hal itu berusaha untuk menenangkan sang istri. Dia tidak ingin ada pertengkaran lagi. Namun, justru sang nenek yang tidak terima.
"Dasar k*rang aj*r! Tidak tahu diuntung! Kamu lupa siapa yang membuat kalian jadi seperti ini, hah?!"
"Memang benar nenek sudah berjasa kepada kami. Tapi, apa nenek pernah menanyakan apa yang kami inginkan. Sejak kejadian tante keguguran, apakah pernah nenek menganggap mami ada? Bahkan, nenek selalu saja menyalahkan mami dan menganggap jika tante keguguran karena mami."
"Kenapa nenek selalu menuduh mami yang bersalah? Apakah nenek hanya mencari kambing hitam karena masih tidak terima dengan kecelakaan yang dialami tante waktu itu? Apa nenek tau jika mami sangat tersiksa, sangat menderita?" Kali ini Dena tak kuasa menahan air matanya.
Dena bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh sang mami. Dia tahu jika maminya selalu saja menangis karena perlakuan sang nenek. Maminya juga tidak punya keberanian untuk menolak semua permintaan nenek.
"Apa nenek tau jika mami tertekan dengan semua permintaan nenek? Apa nenek pernah sekali saja memikirkan perasaan mami? Nenek selalu meminta mami untuk melakukan ini itu. Nenek selalu memaksa mami menuruti permintaan nenek, termasuk perjodohanku. Apa nenek pernah memikirkannya?"
Sang nenek langsung terduduk. Dia menatap wajah Dena dengan tatapan terkejut. Hal yang sama juga dilakukan oleh tante Dena. Selama ini, sang tante memang memiliki segalanya. Dia memiliki kasih sayang dan dukungan dari nenek. Dia sama sekali tidak dekat dengan mami Dena. Jadi, dia juga tidak mengetahui apa yang dirasakan mami Dena.
"Jika nenek tidak menganggap mami keluarga, tidak apa-apa. Kami tidak menuntut hal itu dari nenek. Kami hanya butuh ketenangan dalam menjalani kehidupan ini. Kami ingin melakukan apa yang menurut kami baik, tanpa ada tekanan. Kami ingin tenang, Nek. Kami ingin bahagia menjalani kehidupan ini tanpa ada perasaan tertekan lagi." Tangis Dena kembali luruh. Dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
Nenek dan tante Dena masih terdiam. Entah apa yang mereka rasakan setelah mendengarkan perkataan Dena. Cukup lama mereka terdiam tanpa ada yang bersuara. Hingga beberapa saat kemudian, nenek tiba-tiba langsung berdiri. Tanpa berpamitan, dia berjalan menuju pintu.
"Ayo, pulang," ucap nenek sambil menoleh ke arah tante Dena. Buru-buru tante Dena mengikuti langkah kaki nenek.
Malam itu, Rean memasak makan malam seadanya. Mereka makan malam bersama dengan pikiran yang entah kemana. Rean juga tidak banyak bertanya malam itu. Dia tahu jika sang istri sedang tidak bisa diajak bercanda.
***
Dua hari berlalu sejak kejadian itu, Rean sudah bersiap ke kampus. Hari ini, dia ada jadwal kuliah siang. Dena yang sudah kembali bersikap normal pun membantu sang suami untuk bersiap.
"Kenapa pakai kemeja ini, Yang?" Rean masih memprotes pilihan kemeja yang dipilihkan sang istri.
"Biarin. Cakepan pakai ini."
Rean hanya bisa mencebikkan bibirnya. Dia masih tidak terlalu suka dengan pilihan kemeja yang dipilihkan oleh sang istri. Saat ini, Rean memakai kemeja berwarna maroon dengan lengan digulung hingga siku. Menurut Dena, Rean sangat cocok dengan outfit seperti itu. Namun, tidak dengan Rean. Dia merasa terlalu formal berpenampilan seperti itu.
Belum sempat Rean memprotes, terdengar suara ponsel Dena. Sang istri segera menghubungkan panggilan tersebut saat mengetahui sang mami menelepon.
"Hallo, Mi."
Terdengar suara isak tangis sang mami di seberang sana. Dena langsung panik mendengarnya. "Mi, ada apa? Kenapa mami menangis?"
"Hiks, May. Nenek baru saja datang. Dia datang meminta maaf kepada mami dan papi. Hiks."
"Eh?"
\=\=\=
Tinggal part unboxing nih 🤭