The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.6



Tiga hari sudah Fara dirawat di rumah sakit. Selama tiga hari juga mommy Vanya membujuk Fara agar mau tinggal di rumahnya. Namun, Fara tetap menolak. Fara tidak ingin tinggal di rumah mommy Vanya dan merepotkan keluarganya. Akhirnya, mommy menemukan cara agar Fara mau menerima tawarannya. Mommy Vanya meminta Fara untuk tinggal di rumah mama Tari. Sepeninggal papa Mike, mama Tari akan tinggal sendiri nanti. Kezia tetap tinggal bersama dengan suaminya di Singapura. 


Meskipun rumah mommy Vanya sudah pindah di dekat rumah mama Tari, mereka masih tetap tinggal di rumah yang berbeda. Mommy Vanya tetap membutuhkan orang untuk menemani mama Tari. Dengan berbagai bujukan, akhirnya Fara menyetujui permintaan mommy Tari.


Pada hari ke tiga, mommy Vanya dan El menjemput Fara di rumah sakit. Mereka akan langsung membawa Fara ke rumah mama Tari.


"Ehm, barang-barang saya masih di kontrakan, Tante." Kata Fara saat El mendorong kursi rodanya menuju mobil.


"Tidak apa-apa. Nanti jika kamu sudah sembuh, kamu bisa mengambilnya. Semua kebutuhan kamu sudah Tante siapkan di rumah Mama." Jawab mommy Vanya.


"Terima kasih, Tante. Maaf merepotkan."


"Tidak merepotkan kok Sayang. Tante malah senang ada kamu. Nanti, jika El sudah kembali kuliah, Tante jadi tidak akan kesepian lagi." Jawab mommy Vanya sambil tersenyum lebar.


"Salah sendiri punya anak hanya satu." Kata El menyahuti perkataan sang mommy.


"Sembarangan. Memang itu semua mommy yang mau? Tanyakan kepada daddy kamu itu kenapa mommy tidak boleh hamil lagi." Jawab mommy Vanya sambil menatap El dengan tatapan tajamnya.


"Hhhhh, itu pasti kesepakatan daddy, om Reyhan dan om Ken." Jawab El.


"Maksudnya?"


"Lihat saja, anak-anak mereka semua juga hanya satu. Om Reyhan hanya mempunyai satu putri, Revina. Om Ken, juga hanya mempunyai satu putra, Zee. Pasti mereka janjian semua." Kata El.


"Eh, benar juga ya. Kok selama ini mommy tidak menyadarinya. Tapi tunggu dulu. Om Reyhan sudah hampir punya dua anak dulu. Tante Fida kan pernah hamil lagi adiknya Revi, tapi sayangnya dia keguguran. Jadi tidak mungkin mereka janjian, kan."


"Ya mungkin setelah kejadian itu, om Reyhan melarang tante Fida untuk hamil lagi."


"Ah, apa iya begitu?" Gumam mommy Vanya sambil berhenti di sebelah mobil El.


Fara yang sejak tadi mendengarkan perdebatan kedua orang ibu dan anak tersebut hanya bisa diam. Dia masih tidak mengenal orang-orang yang dibicarakan oleh mommy Vanya dan juga El.


Setelahnya, El segera membantu Fara untuk naik ke dalam mobil. Setelah semua barang-barang Fara dimasukkan, mereka segera menuju rumah mama Tari.


Menjelang sore, mereka tiba di rumah mama Tari. Mama Tari langsung menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Beberapa hari yang lalu, saat diberitahu jika Fara akan menemaninya, mama Tari langsung bersemangat. Sudah lama dia ingin memiliki cucu perempuan. Berhubung putra dan putri mama Tari masing-masing hanya memiliki satu anak laki-laki, mama Tari merasa sangat bahagia jika ada perempuan yang menemaninya.


Kurang lebih dua minggu sudah Fara tinggal di rumah mama Tari. Luka di kakinya sudah lumayan membaik. Meskipun begitu, dia masih berjalan memakai kruk. Mama Tari benar-benar menganggap Fara seperti cucunya sendiri. Apalagi saat mengetahui latar belakang keluarganya. Mama Tari benar-benar merasa kasihan.


Pagi itu, Fara sudah bersiap-siap ke sekolah. Kelulusan seluruh siswa kelas dua belas sudah diumumkan sejak dua hari yang lalu. Fara juga sudah dinyatakan lulus. Hari itu, Fara beserta teman sekelasnya mendapat giliran untuk mengambil beberapa surat kelulusan dan undangan untuk pelaksanaan wisuda.


"Hari ini biar El yang mengantar kamu ke sekolah." Kata mama Tari.


"Eh, tidak usah Oma. Fara bisa sendiri kok." Kata Fara. Ya, mama Tari memang meminta Fara untuk memanggilnya Oma. Mama Tari sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri.


Tut tut tuuuttt.


Pada dering ketiga panggilan telepon diangkat oleh El.


"Hallo, Oma. Ada apa? El masih ngantuk ini. Hooaammm." 


"Kamu ini jam segini masih tidur. Sudah jam tujuh lebih kok masih ngerong. Cepat ke rumah Oma sekarang."


"Ada apa sih Oma? Minta mommy saja."


"Kamu lupa mommy kamu ke rumah nenek kamu sejak dua hari yang lalu? Sudah, Oma nggak mau tahu. Cepat ke rumah Oma sekarang. Oma hitung sampai…."


Belum sempat mama Tari menyelesaikan perkataannya, El sudah langsung menjawab.


"Iya, iya. El berangkat sekarang. Tut." 


El langsung mematikan panggilan teleponnya dan segera beranjak bangun. Dia masih saja takut saat sang oma mengancam dengan ancaman hitungan seperti itu. Bisa-bisa jatah liburannya akan dikurangi sebanyak kelebihan angka yang diperolehnya.


Tak butuh waktu lama bagi El untuk bersiap-siap. Dia hanya cuci muka dan menggosok gigi. Tanpa mandi. El juga hanya memakai kaos polos hitam dan celana pendek selutut dengan alas kaki memakai sandal jepit. Dia pergi ke rumah oma dengan naik sepeda onthel.


Jarak rumah daddy dan mommynya hanya sekitar lima puluh meter, membuat El cepat sampai di rumah mama Tari. Begitu masuk ke dalam rumah, El sudah dikejutkan oleh suara sang oma.


"Lah, kok koloran saja ini anak?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mumpung hari Senin, mohon bantuan vote ya. Jangan lupa klik like dan komen.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda


Thank you