
Bisa di skip jika sudah baca 🙏
Rean hanya bisa mencebikkan bibir setelah mendengar perkataan Papa Bian. Meskipun begitu, dia menuruti perkataan sang papa.
"Lalu, ini mobilnya bagaimana? Aku kan bawa motor, Pa."
"Ehm, kamu bawa pulang saja. Biar nanti motor kamu dibawa Egi."
Rean hanya bisa menganggukkan kepala. Dia segera memberikan kunci motornya kepada papa Bian. Setelah itu, Rean segera pamit pulang.
Seperti dugaan, mama Revina langsung heboh saat melihat Rean pulang dengan mengendarai mobil barunya. Mungkin karena mama Revina tidak mengerti modifikasi mobil, jadi dia menganggap mobil Rean masih orisinil.
"Sepertinya mobil kamu masih ori, Re."
"Maksudnya bagaimana, Ma?"
"Ya, belum ada modifikasi. Mama sempat khawatir Papa kamu akan memodifikasi mobil lagi."
Glek. Rean benar-benar merasa tidak enak hati. Namun, dia juga tidak bisa berkata apa-apa kepada sang mama.
"Kamu mampir ke kantor Papa kamu, Re?" tanya mama Revina sambil membuatkan jus untuk sang putra.
"Iya, Ma. Tadi pulang kuliah langsung kesana."
"Lalu, motor kamu dimana?"
"Nanti dibawa Egi, Ma."
Mama Revina mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Nanti malam, kamu tidur di rumah kakak kamu, ya. Kasihan Cello nggak ada yang nemenin."
"Daddy El dan mommy Fara kemana, Ma?"
"Mereka ada acara selama beberapa hari."
Rean hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, dia segera ke kamar untuk membersihkan diri.
Malam harinya Rean langsung berangkat menuju rumah Cello. Dia ingin menemani sang kakak, karena hari-hari ini sudah mulai memasuki hari kelahiran bayi Shanum. Saat Cello dan Rean sedang bermain game, terdengar suara teriakan Shanum yang memekakkan telinga dari dalam kamar.
"Maaasss, aauuuhhhh, perutku sakit!"
Mendengar teriakan Shanum, sontak saja Cello dan Rean langsung melompat dan berlari ke dalam kamar. Mereka langsung panik saat mendapati tubuh Shanum sudah hampir melorot ke lantai.
"Sayaang!"
"Kaaakk!"
Rean dan Cello langsung berteriak. Beruntung Cello langsung menangkap tubuh Shanum yang hampir menyentuh lantai tersebut.
Rean langsung berlari menuju garasi untuk menyiapkan kendaraan. Setelah itu, dia kembali ke kamar Shanum untuk membantu mengambilkan barang-barang kebutuhan persalinan.
Perdebatan kecil pun terjadi di dalam kendaraan. Cello yang tidak tega melihat Shanum kesakitan, hanya bisa berteriak-teriak meminta Rean untuk lebih cepat.
"Cepat, Re! Ngebut, cepat!"
"Macet ini, Kak!
"Cari jalan pintas, putar balik!"
"Mana bisa begitu, ini kita di tengah-tengah!"
Shanum hanya bisa berusaha menenangkan sang suami. Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Rean sudah memasuki halaman rumah sakit. Shanum langsung dibawa ke ruang persalinan.
Rean terpaksa menemani Shanum karena Cello harus mengurus administrasi terlebih dahulu. Rean segera memasuki ruangan persalinan tersebut. Dilihatnya, Shanum sudah bersiap untuk menuruni brankar dengan bantuan seorang perawat. Rean segera membantunya untuk turun.
"Masih harus jalan-jalan ya, Kak?" Tanya Rean setelah mereka keluar dari ruang persalinan.
"Iya. Karena dengan berjalan-jalan, akan membuat tekanan pada kepala janin pada mulut rahim sehingga akan membantu mempercepat pembukaan persalinan. Jalan kaki juga membantu menstimulasi kontraksi yang kemudian mendorong proses pembukaan. Begitu kata dokter Risma dulu." Jelas Shanum. Saat itu, dia belum merasakan kembali kontraksi pada perutnya.
Rean masih dengan setia menemani sang kakak berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Beruntung saat itu adalah malam hari, jadi aktivitas di rumah sakit tersebut tidak terlalu padat.
"Mas Cello belum selesai?" Tanya Shanum sambil mengeratkan pegangannya pada lengan Rean. Dia sudah mulai merasakan kontraksi kembali.
"Sepertinya belum, Kak. Mungkin sebentar lagi."
Shanum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia kembali fokus dan mencengkram erat lengan Cello saat terjangan kontraksi tersebut kembali melanda.
"Auuughhhh," rintih Shanum.
"Mulai lagi ya, Kak? Mau duduk dulu?" Tawar Cello. Dia benar-benar tidak bisa melihat sang kakak kesakitan seperti itu. Rean benar-benar tidak tega.
"Boleh. Duduk di kursi depan sebentar," jawab Shanum.
Rean segera membawa Shanum untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari lift.
Saat itu, bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Terlihat seorang perempuan baru saja keluar dari dalam lift tersebut sambil membawa sebuah kantong yang berisi makanan.
Perempuan tersebut cukup terkejut saat melihat Rean sedang membantu Shanum mendapatkan posisi yang nyaman untuknya.
"Ccckkk, sudah punya istri juga masih suka menggoda perempuan di kampus," gumamnya.
\=\=\=
Urutannya memang begini ya. Bisa di skip jika sudah baca.