
"Hhhmm, dia tidak ingin dijodohkan. Jadi, dia memintaku untuk mencarikan pacar bohongan. Dan, aku berharap semoga pacar bohongannya nanti bisa sampai jadi pacar halalnya." Jawab Vanya sambil tersenyum.
Klontang
Reyhan tak sengaja meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit lebih keras mengenai meja kaca di ruang tengah tersebut. Sontak saja Vanya dan Kenzo langsung menoleh menatap wajah Reyhan yang juga terkejut.
"Ada apa sih, Rey? Kamu seperti kurang fokus." Kata Kenzo.
Reyhan langsung menoleh menatap wajah Kenzo. Dia terlihat salah tingkah setelah mendengar perkataan Kenzo. Sementara Vanya hanya bisa mengulum senyumannya melihat ekspresi Reyhan.
"Ehm, it-itu anu, licin, Tuan." Jawab Reyhan sambil tersenyum nyengir.
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban Reyhan. Setelahnya, dia beranjak berdiri dan mengajak Reyhan segera mengikutinya ke ruang kerja.
Vanya segera membereskan camilan dan cangkir kopi mereka. Reyhan membantu Vanya membawa cangkir kopi kotor ke bak pencuci piring. Dia hendak membantu mencucinya, namun dicegah oleh Vanya.
"Nggak usah dicuci, Rey. Biarkan saja. Nanti aku bisa mencucinya sendiri. Segeralah ke ruang kerja. Mas Kenzo sudah menunggu." Kata Vanya sambil memasukkan makanan ke kulkas.
"Baiklah. Terima kasih untuk makan malam dan kuenya Nona. Saya permisi dulu." Kata Reyhan sambil beranjak pergi.
Namun, Vanya menghentikan langkah kaki Reyhan dengan perkataannya.
"Ehm, Rey. Boleh aku minta tolong?" Tanya Vanya.
Reyhan berhenti dan berbalik menghadap Vanya sambil mengerutkan keningnya.
"Minta tolong apa, Nona?" Tanya Reyhan.
"Ehm, bisa kamu carikan seseorang yang sekiranya bisa membantu Fida?" Pancing Vanya.
"Membantu sahabat Nona? Maksudnya?"
"Hhhhmmm, begini Rey, Fida kan tidak mau melanjutkan perjodohannya. Dia ingin membatalkannya dengan mengatakan jika dia sudah punya pacar atau kekasih kepada orang tuanya. Sedangkan Fida belum punya pacar. Apa kamu bisa membantu mencarikan laki-laki itu?" Tanya Vanya penuh harap agar pancingannya berhasil mempengaruhi Reyhan.
Reyhan sedikit terkejut dengan pertanyaan Vanya. Dia terlihat sedang berusaha untuk mengatur ekspresinya. Vanya tersenyum kecil melihat hal itu.
"Ehm, saya harus mencarikan orang yang bisa menjadi pacar bayaran sahabat Nona, begitu?" Tanya Reyhan.
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan. Dia berusaha sedikit antusias dengan hal itu. Sementara Reyhan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Eehmm, tapi saya tidak tahu kriteria pacar yang diinginkan sahabat Nona. Selain itu, jika saya yang mencarikan, apakah nanti bisa sesuai dengan kriteria sahabat Nona? Apakah bisa membangun chemistry di antara mereka?" Kata Reyhan.
Vanya mengerutkan keningnya. Dia memikirkan kembali pertanyaan Reyhan. Ah, ada benarnya dengan hal itu. Vanya masih menatap wajah Reyhan sambil berpikir.
"Eehmm, chemistry itu kan bisa di bangun. Seiring dengan berjalannya waktu, intensitas pertemuan dan komunikasi yang lancar, pasti bisa membangun chemistry itu." Jawab Vanya dengan yakin.
Reyhan sedikit mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
"Baiklah, saya akan berusaha mencarikan orang yang bersedia menjadi pacar bayaran untuk sahabat Nona." Kata Reyhan sambil berusaha tersenyum.
Vanya tersenyum lebar setelah mendengar jawab Reyhan. Dia hanya bisa berharap rencananya akan berhasil.
"Terima kasih Rey. Aku tunggu dalam waktu tiga hari mulai besok. Semoga kamu bisa segera mendapatkan orang tersebut." Kata Vanya sambil tersenyum. Dia akan menyusun rencana agar Reyhan gagal menjalankan tugasnya.
Reyhan membulatkan mata dan mulutnya. Dia benar-benar terkejut mendengar perkataan Vanya. Bagaimana mungkin dirinya bisa menemukan laki-laki untuk menjadi pacar bayaran Fida hanya dalam waktu tiga hari. Batin Reyhan.
Belum sempat Reyhan memprotes perkataan Vanya, Kenzo sudah memanggilnya dari depan pintu ruang kerjanya. Mau tidak mau, Reyhan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Kenzo. Pekerjaan yang akan mereka bahas jauh lebih penting. Reyhan segera masuk ke ruang kerja Kenzo.
Malam itu, Kenzo dan Reyhan mendiskusikan banyak hal hingga menjelang pukul sebelas malam. Karena sudah sangat lelah, Kenzo dan Reyhan menyudahi diskusi mereka. Reyhan dan Kenzo segera menuju kamar masing-masing.
Kenzo langsung ikut bergabung di dalam swlimut dan merebahkan diri di belakang Vanya. Dia memeluk Vanya dari belakang dan mulai memejamkan matanya. Namun, pergerakan yang di lakukannya membuat Vanya terbangun. Vanya menoleh menatap wajah Kenzo yang berada di belakangnya.
"Emhh, sudah selesai, Mas?" Tanya Vanya sambil membalik tubuhnya hingga menghadap Kenzo. Dia langsung menyurukkan wajahnya pada dada bidang sang suami yang hanya terlapisi kaos tipis.
"Hhhmmm, tidurlah lagi." Jawab Kenzo sambil memberikan sebuah kecupan pada kening Vanya agar dirinya kembali lagi terlelap.
Namun, bukannya memejamkan mata Vanya malah menengadahkan kepalanya menatap wajah Kenzo. Vanya justru mengangkat tangan kirinya untuk membelai pipi kanan sang suami. Seketika Kenzo membuka matanya.
"Jangan menggodaku sekarang. Aku tidak yakin bisa mengendalikan diri setelah ini." Kata Kenzo memperingatkan Vanya.
Vanya segera menarik tangannya sambil mengerucutkan bibirnya. Kenzo yang melihat hal itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menyambar bibir Vanya dan melu*matnya dengan rakus. Vanya pun tidak menolak perlakuan Kenzo. Dia bahkan mulai mengimbangi serangan Kenzo.
Namun, setelah beberapa saat mereka terbuai dalam suasana yang mulai memanas, Vanya tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Dia mendorong wajah Kenzo sedikit menjauh. Kenzo yang kesal dengan perbuatan Vanya pun langsung menatapnya tajam. Vanya yang mengerti jika Kenzo tengah kesal pun berusaha menenangkannya.
"Maaf, Mas. Jangan marah dulu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Kata Vanya sambil mengusap-usap dada Kenzo.
Kenzo menyipitkan matanya menatap wajah Vanya.
"Ada apa?" Tanya Kenzo.
"Ehm, mulai besok selama tiga hari kedepan, bisa tidak mas Kenzo membuat Reyhan sibuk?" Tanya Vanya sambil tangannya membuat pola-pola melingkar pada dada bidang Kenzo.
"Membuat Reyhan sibuk? Maksudnya bagaimana?" Tanya Kenzo masih tidak mengerti.
"Begini, tadi aku sudah meminta Reyhan untuk mencarikan laki-laki untuk menjadi pacar bayaran Fida. Aku hanya memberikan waktu tiga hari untuknya. Jika selama tiga hari itu dia sibuk, maka dia akan kesulitan untuk mendapatkan laki-laki itu. Aku jadi punya alasan untuk membuatnya jadi pacar bayaran Fida." Jawab Vanya dengan penuh antusias. Dia benar-benar sudah mulai melupakan rasa kantuknya.
Kenzo memikirkan perkataan Vanya sebentar sebelum kemudian kembali mengangguk. Ternyata dia juga punya rencana untuk hal itu.
"Baiklah. Aku akan membuat Reyhan sibuk mulai besok. Aku juga ingin melihat dia menikah dan merasakan melon dan kawan-kawannya. Hehehehe." Jawab Kenzo sambil tergelak.
Vanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Kenzo kembali menyambar bibir yang menggoda di depannya itu.
Hhhmmpphhh ewmmmhhhppphhh
"Maashhh ih. Tuman kamu. Apa kamu berpikir menikah itu hanya sebatas mengolah melon dan kawan-kawannya?!" Gerutu Vanya.
"Tentu saja tidak, Sayang. Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Bagiku, itu hanya bonus. Pernikahan jauh lebih dari sekedar mengolah melon dan kawan-kawannya. Kamu jangan berpikir aku hanya mau mencari melon dan memikirkan hokya-hokya terus. Bagiku, pernikahan itu sakral. Meski awalnya kita menikah karena keterpaksaan, tapi pada akhirnya, kita bisa menerima pernikahan ini dengan ikhlas. Jangan pernah berpikir aku hanya akan mengambil keuntungan dari pernikahan ini." Kata Kenzo sambil merengkuh tubuh Vanya.
"Iya, Mas. Aku minta maaf." Kata Vanya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Kenzo.
"Sama-sama, Sayang. Aku juga minta maaf. Sekarang, waktunya tidur. Jangan menggodaku lagi. Aku tidak yakin bisa mengendalikan diri setelah ini." Kata Kenzo sambil mencoba memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote
Thank you