The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Permintaan Siaran Ulang Fida



"Kamu mulai ngawur Van, sudah tahu sendiri aku belum punya pacar. Siapa yang akan aku bawa ke hadapan orang tuaku dan ku perkenalkan sebagai calon suami, coba." Ketus Fida.


"Reyhan. Reyhan yang akan kamu perkenalkan sebagai pacar kamu dan calon suami kamu." Jawab Vanya.


"Diaa?!" Tunjuk Fida kepada Reyhan sambil meninggikan suaranya.


Vanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iiihh ogah. Jika kemarin-kemarin kamu meminta dia untuk berpura-pura jadi pacarku, mungkin aku mau, Van. Tapi sekarang, aku tidak mau." Jawab Fida sambil menatap tajam ke arah Reyhan.


Kenzo dan Vanya saling pandang. Mereka sedikit bingung dengan perubahan sikap Fida.


"Memangnya kenapa, Fid?" Tanya Vanya.


"Orang dia belok gini. Mana mau aku pura-pura jadi pacarnya." Cibir Fida.


"Sudah kubilang aku tidak belok!" Kata Reyhan tiba-tiba.


"Jika kamu tidak belok, kenapa kamu tadi tidak bereaksi apa-apa saat kucium." Kata Fida sambil menatap Reyhan dengan tatapan tajamnya.


Sontak Vanya dan Kenzo terkejut saat mendengar perkataan Fida. Mereka membulatkan mata dan mulutnya sambil menatap wajah Fida dan Reyhan bergantian. Reyhan yang menyadari jika dirinya diperhatikan oleh Kenzo dan Vanya pun berusaha untuk menjelaskan.


"I-ini bukan seperti yang anda pikirkan, Tuan. Tadi itu hanya kecelakaan." Kata Reyhan.


"Huuhhh, kecelakaan." Cibir Fida.


"Maksudnya apa Rey?" Kali ini Kenzo yang bertanya.


"Ehm, sebenarnya begini Tuan. Tadi, kami bertemu dengan ibu-ibu yang juga hendak memeriksakan kehamilannya. Ibu itu duduk di sebelah saya dengan sang suami berada di sebelahnya lagi. Sejak awal duduk si ibu senyum-senyum terus sambil menatap saya. Entah apa yang membuat sang suami marah-marah kepada saya, padahal saya tidak melakukan apa-apa."


"Tiba-tiba sang suami langsung mendorong saya dan memarahi saya. Saya kebingungan karena saya tidak tahu salah saya dimana. Lalu, tiba-tiba lagi si suami hendak mencengkram bagian depan kaos saya, namun Fida langsung menghempaskannya. Karena keseimbangan kami tidak stabil, akhirnya kami sama-sama jatuh terjengkang dengan posisi saya berada di bawah Fida."


"Dan, dan hal itu terjadi begitu saja. Saya juga tidak tahu kenapa i-itu bisa pas" kata Reyhan.


"Jadi kalian sempat adu mulut?" Tanya Vanya penasaran.


"Adu mulut? Bertengkar maksudnya?"  Tanya Kenzo.


"Iihh, bukanlah, Mas. Maksudnya, bibir mereka saling nempel." Jawab Vanya. Selanjutnya, dia masih menunggu jawaban dari Reyhan dan Fida.


"Iya. Dan kamu tahu Van, itu first kiss ku, Van. Huaaa aaaa." Jawab Fida dengan ekspresi sok lebay nya.


"Waahhh, ada yang sudah ngerasain nih." Goda Vanya sambil tersenyum.


"Ngrasain apanya, orang nggak ada rasanya sama sekali." Jawab Fida.


"Lhah, masa iya nggak ada rasanya?" 


"Iya lah, Van. Orang cuma nempel doang. Jadi berasa nyium tembok." Jawab Fida sambil menoleh menatap wajah Reyhan dengan tatapan sinisnya.


Reyhan yang mendapat tatapan dari Fida pun langsung membalas dengan tatapan tajamnya. 


"Enak aja kalau ngomong. Kamu belum tahu saja rasanya." Kata Reyhan dengan sewot.


"Justru karena aku sudah tahu rasanya makanya aku bilang seperti nyium tembok, datar plus anyep." Jawab Fida tak mau kalah.


"Sudah kubilang kan, tadi itu kecelakaan, tidak sengaja. Ini perempuan ngeyel banget dibilangin." Reyhan mulai ikut terpengaruh.


"Harusnya meskipun kecelakaan kan bisa dibuat lebih baik. Aku sudah rugi tau." Kata Fida.


"Mana ada kecelakaan dibuat jadi lebih baik. Dasar perempuan aneh." Reyhan sudah benar-benar ikut terpengaruh.


Seketika Vanya dan Kenzo langsung melongo. Jadi, mereka tadi berdebat karena yang satu minta siaran ulang, sedangkan yang satunya tidak mau, batin Vanya.


Vanya menoleh menatap Kenzo yang sepertinya masih terkejut mendengar perdebatan kedua orang di depannya tersebut.


"Mana ada siaran ulang untuk urusan begituan. Jangan mengada-ada." Lanjut Reyhan. Dia sudah merasa tidak enak membahas masalah itu di hadapan Vanya dan Kenzo.


"Tunggu, tunggu sebentar. Fid, apa maksudnya semua ini?" Tanya Vanya.


Seketika Fida menoleh menatap wajah Vanya. Dia mencebikkan bibirnya sambil mendengus kesal.


"Dia menolak mengulang kegiatan tadi. Padahal itu first kiss ku, Van. Aku kan juga mau yang berkesan, bukan seperti tadi, anyep." Jawab Fida sambil mendelik menatap wajah Reyhan. Sedangkan yang diperhatikan langsung membuang muka.


"Hhhhhh, lagian Fid, mana ada siaran ulang untuk hal begituan. Kamu itu ada-ada saja." Jawab Vanya.


Fida hanya mendengus kesal setelah mendengar perkataan Vanya.


"Suda, sudah. Untuk urusan siaran ulang atau apalah itu namanya, kalian bisa lakukan nanti jika sudah menikah. Sekarang, kita bahas bagaimana caranya agar perjodohan kamu bisa dibatalkan, Fid." Kata Vanya.


Fida dan Reyhan pun langsung menoleh menatap wajah Vanya. Mereka hanya bisa pasrah dengan rencana Vanya. 


Setelahnya, mereka membahas apa yang akan dilakukan agar orang tua Fida benar-benar percaya dengan Reyhan.


"Mengapa harus seperti ini rencananya?" Protes Reyhan kepada Vanya. Dia merasa keberatan jika harus bersikap seolah-olah dia adalah pacar Fida beneran.


"Ya harus seperti itu. Jika tidak, orang tua Fida akan curiga. Kamu harus benar-benar datang ke rumah Fida dan mengaku sebagai pacar Fida yang serius akan menikahinya nanti jika sudah lulus kuliah. Kalian juga harus benar-benar berakting seperti sepasang kekasih yang saling mencintai agar orang tua Fida percaya dan tidak curiga." Kata Vanya.


Baik Fida dan Reyhan hanya bisa menghembuskan napas beratnya setelah mendengar perkataan Vanya. Setelah membahas beberapa hal lagi, mereka segera beranjak untuk beristirahat. Kenzo sudah memberikan peringatan kepada Vanya agar tidak terlalu capek.


Saat ini, Vanya sudah berada di dalam kamar di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya. Dia sedang menunggu Kenzo yang tengah berganti pakaian.


"Mas, kapan kita memberitahu keluarga tentang kabar kehamilanku ini?" Tanya Vanya saat melihat Kenzo sudah selesai dan sedang berjalan ke arahnya.


"Besok saja. Mama dan papa sedang ada di Jambi. Ayah dan Ibu juga pasti sudah tidur sekarang." Jawab Kenzo sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.


"Baiklah." Kata Vanya sambil mengubah posisinya untuk memeluk tubuh sang suami. Entah mengapa sejak menikah Vanya sangat suka dengan posisi tidur seperti itu. Apalagi saat sedang hamil seperti ini. Rasa nyaman dan seperti dilindungi menyusup ke dalam hatinya.


"Mas, kamu belum ceritakan semuanya dari mana kamu tahu jika Rasha bekerja sama dengan Elsa?" Tanya Vanya sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami.


"Oh, itu semua karena Reyhan. Waktu itu, aku ingin makan rujak langsung dari cobeknya. Reyhan segera mencarikan penjual rujak yang ada di sekitar kantor. Namun, dia tidak menemukannya. Rethan memutuskan untuk mencari di dekat SMA Merdeka. Saat dia sedang menunggu penjual membuatkan rujak, Reyhan melihat Rasha dan Elsa masuk ke restoran yang ada di dekat SMA tersebut. Karena penasaran ada hubungan apa antara Elsa dan Rasha, Reyhan memutuskan untuk mencari tahu. Dari sana Reyhan mengetahui rencana Elsa dan Rasha untuk menggoyahkan rumah tangga kita." Jawab Kenzo.


Mata Vanya membulat sempurna setelah mendengar jawaban Kenzo. Mulutnya terbuka saat menyadari sesuatu.


"Apa mungkin itu ada kaitanya dengan ancaman Elsa waktu itu?" Gumam Vanya.


"Ancaman?! Apa maksud kamu?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih adakah yang menunggu?