The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 117



Sore itu, papa Bian, mama Revina dan juga Rean berpamitan pulang. Namun, Rean tidak langsung ikut kedua orang tuanya pulang. Dia meminta izin untuk pergi ke rumah Dandi sebentar. 


"Acaranya jam berapa sih, Mas?" Tanya mama Revina saat berada di perjalanan menuju rumah.


"Jam tujuh malam."


"Pak Kaero dan bu Keyya datang?"


"Iya. Mereka sudah di Jakarta, kok."


"Waahh, mau minta resep ke bu Keyya nih," ucap mama Revina dengan penuh semangat.


Papa Bian yang mendengar perkataan sang istri pun langsung menolehkan kepalanya. Dia menatap wajah mama Revina sekilas sambil mengerutkan keningnya.


"Minta resep apa? Kamu mau buat masakan apa, Yang?" Tanya papa Bian.


"Ccckkk, sembarangan. Memang siapa yang mau minta resep masakan. Aku mau minta resep terbaru 'masak sosis'," jawab mama Revina.


Papa Bian yang sudah sangat hafal dengan apa yang dimaksudkan oleh sang istri hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


"Memang mau pakai resep seperti apa lagi sih, Yang? Mau pakai gaya yang seperti apa lagi?"


"Ya siapa tahu bu Keyya punya rekomendasi gaya terbaru, Mas."


"Kalau untuk itu, nggak usah tanya kepada bu Keyya. Aku sudah punya banyak."


Seketika mama Revina langsung menoleh menatap ke arah sang suami. Kedua bola mata dan mulutnya membesar setelah mendengar perkataan papa Bian.


"Serius, Mas? Yakin kamu punya banyak rekomendasi?"


"Hhhmmm."


"Kok bisa?"


"Pak Kaero memberiku sebuah flashdisk. Setelah dibuka, ternyata isinya begituan semua. Aku sampai bergidik saat melihat jumlahnya." 


"Hhaah? Benarkah? Memangnya berapa jumlahnya, Mas?"


"Entahlah. Aku tidak tahu pastinya berapa. Tapi aku pernah lihat video nomor enam ribu lima ratus sekian."


"Astaga! Ternyata kamu diam-diam suka lihat video begituan ya, Mas?!" Tanya mama Revina dengan tatapan tajamnya. 


"Nggak sengaja, Yang," elak papa Bian.


Mama Revina langsung mencebikkan bibirnya. Dia masih menatap kesal ke arah sang suami.


"Pokoknya, nanti jika sampai di rumah aku mau melihatnya sekaligus praktek. Titik."


"Hhaaah, yakin mau sore-sore begini?"


"Yakin lah."


Papa Bian hanya bisa pasrah setelah mendengar jawaban mama Revina. Sepertinya, dia tidak akan bisa selamat sore itu.


Sementara di rumah Cello, mommy Fara sedang memandikan baby Drew dan baby Dryn. Shanum masih belum berani memandikan kedua putranya sendiri. Sementara, dia hanya bisa mengamati dan membantu sang mertua saat memandikan dan memakaikan baju kedua putranya.


"Sayang, sepertinya si kakak haus, kamu susuin dulu deh." Kata mommy Fara sambil memberikan baby Drew.


"Iya. Aku bawa duduk dulu." Jawab Shanum sambil mengambil alih baby Drew ke dalam gendongannya dan membawanya ke arah sofa yang sudah disiapkan untuknya ketika menyusui.


Setelah selesai, kini giliran baby Dryn yang mendapat giliran mendapatkan asupan nutrisi alaminya.


"Sayang, kamu harus banyak-banyak makan. Kali ini, kamu tidak hanya menyusui satu bayi, tapi langsung dua. Jangan menunda-nunda makan ya, agar asi nya tidak sampai kehabisan."


"Iya, Mom."


"Ya sudah, mommy tinggal ke dapur dulu. Kamu mau dibuatkan makanan apa?"


"Ehm, nggak usah Mom. Aku lagi nggak mau makan apa-apa. Seadanya saja."


Mommy Fara langsung mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mommy Fara langsung beranjak menuju dapur untuk mulai menyiapkan makan malam. 


Tak berapa lama kemudian, Cello terlihat memasuki kamarnya. Dia sudah mulai terbiasa melihat sang istri tengah menyusui sang putra.


"Waahh, jadi si pabrik sudah di sabotase kakak dan adik, nih. Hhhmmm, daddy kebagian yang mana nih?" Kata Cello sambil menoel hidung baby Dryn yang tengah mengenyot sumber nutrisinya.


"Daddy bagian bawahnya saja. Juga sama-sama bisa buat beceks,"


Dohlah embuh wis. Part iki mau isine kok saingan thok 🤦‍♀️