
Daddy El dan juga yang lainnya masih terlibat percakapan di dalam ruang kerja Zee. Vanno juga masih ikut ngobrol di sana. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara sekretaris Zee yang memberitahukan jika orang yang mereka tunggu baru saja datang. Dia sudah menunggu di sebuah ruangan khusus.
"Baguslah, rupanya tamu yang kita tunggu sudah datang. Ayo, kita segera temui dia dan menyelesaikan masalah ini dengan segera." Kata Vanno sambil beranjak berdiri.
Vanno menoleh menatap sang cucu sebelum beranjak berdiri.
"Dave sudah menyiapkan semuanya, kan? Aku nggak mau menjelaskan sesuatu kepada seseorang tanpa disertai bukti."
"Sudah, Pa. Semuanya sudah di urus oleh Dave. Tinggal Papa yang menjelaskan semuanya nanti."
"Baguslah. Dengan begini, aku habya bisa berharap jika masalah Cello bisa segera terselesaikan dengan baik.
"Aamiin " jawab mereka semua serempak.
Beberapa saat kemudian, mereka segera berjalan menuju sebuah private room yang terdapat di samping ruang kerja Ken. Saat itu, kebetulan sekali Ken juga tengah berjalan menuju ke ruangannya. Dia menoleh dan menatap beberapa orang yang ada di depannya.
"Dad, ada apa kemari?" Tanya Ken sambil mengernyitkan keningnya. Dia menatap beberapa orang yang ada di depannya. "Eh, El, Cello? Ada kalian juga?" lanjut Ken.
"Iya, Om. Apa kabar?" Sapa daddy El sambil mengulurkan tangannya dan disusul oleh Cello untuk menjabat tangan Ken.
"Baik. Daddy kamu apa kabar?"
"Baik, Om."
Ken mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, Ken membiarkan beberapa orang masuk ke dalam private room tersebut, termasuk Zee, sang putra. Namun, dia masih menahan langkah sang daddy. Ken menatap wajah daddynya dengan kening berkerut. Mengerti maksud tatapan sang putra, Vanno pun langsung menjawabnya.
"Memangnya kenapa jika Daddy datang kemari. Ini kan kantor Daddy juga," jawab Vanno dengan ketus.
"Sekarang kan gantian daddy yang bekerja dari rumah. Untuk pekerjaan di kantor, sudah jadi urusan kalian."
"Memangnya apa yang daddy kerjakan di rumah?" Tanya Ken sambil mencebikkan bibirnya.
"Tentu saja ngerjain mommy kamu." Jawab Vanno dengan entengnya sambil berjalan menuju private room.
"Astaga, inget umur, Dad. Sudah lewat enam puluh tahun juga masih saja ke arah sana pikirannya." Lagi-lagi Ken hanya bisa menatap tajam ke arah sang daddy. Mau tidak mau, dia mengikuti langkah kaki daddynya karena penasaran.
Ya, Ken memang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pasalnya, dia baru saja datang dari Singapura kemarin sore.
"Biarin. Mau usia sudah tua juga tapi tonggak kehidupan masih saja muda. Jika kamu tidak percaya, tanya saja mommy kamu sana."
"Mana ada begitu?"
"Tentu saja ada. Dengar Ken, mungkin jika usia kalian yang masih muda-muda, itu tonggak bisa langsung hidup hanya karena pandangan dari pasangannya saja. Makanya disebut tonggak pandangan hidup. Kalau sudah seusia Daddy, sudah lain ceritanya, tapi masih tetap saja bisa hidup."
"Eh, mana ada yang begitu, Dad?"
"Tentu saja ada. Jika sudah seusia Daddy ini, namanya bukan lagi tonggak pandangan hidup, tapi tonggak pegangan hidup. Hahahaha."
Seketika Ken langsung cengo saat mendengar perkataan sang daddy.
"Dasar, semakin tua semakin meresahkan!"
Sudah hari senin, mohon bantuan vote ya, agar semangat upnya. Terima kasih.