
Pesan itu bukan merupakan pesan terakhir yang dikirim oleh Fida kepada Reyhan. Beberapa hari berlalu, Fida masih terus mengirimkan pesan gombale mukiyo kepada Reyhan meski dia tahu Reyhan tidak akan membalasnya. Fida cukup bahagia saat Reyhan sudah mau membacanya.
Entah mengapa pagi itu Fida memiliki keberanian untuk menyampaikan perasaannya kepada Reyhan. Berkali-kali dia mengetik kemudian menghapusnya karena merasa tidak yakin dengan tulisannya. Akhirnya, setelah mencoba mengetik berkali-kali, Fida cukup yakin dengan apa yang akan disampaikannya.
08.53
Aku tidak terlalu berharap untuk menjadi seseorang yang penting dalam hidupmu, karena hal itu harapan yang terlalu besar untukku. Namun, aku hanya berharap suatu saat nanti engkau mau melihatku dan tersenyum ke arahku.
Maafkan aku yang tidak tahu diri ini jika terlalu berharap lebih kepadamu.
Aku menyukaimu.
Ketik Fida dan dia memberanikan diri untuk mengirimnya. Fida masih menunggu beberapa saat apakah pesannya itu dibaca oleh Reyhan atau tidak. Hingga menjelang siang, pesan darinya tak kunjung dibaca. Fida hanya bisa pasrah menerima hal itu.
Dia tidak menyesali perbuatannya. Baginya, dia akan mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dia bukan tipe orang yang menyembunyikan apa yang dirasakannya.
Hingga keesokan harinya, setelah pulang dari kampus, Fida berpisah dengan Vanya di tempat parkir. Vanya akan langsung pulang karena harus memasakkan makan malam pesanan Kenzo. Sementara Fida, dia berencana untuk mampir ke minimarket untuk membeli kebutuhan pribadinya.
Saat Fida memarkirkan sepeda motornya, dia segera berjalan untuk memasuki minimarket tersebut. Fida segera mengambil trolley dan mulai memilih kebutuhan pribadinya. Sesekali dia membuka ponselnya dan membalas beberapa pesan dari teman-temannya.
Fida terus mendorong trolley sambil mengedarkan pandangannya pada barang-barang yang dibutuhkannya. Hingga netra matanya menangkap sosok laki-laki yang beberapa minggu ini mengisi dunia halunya.
Ya, dia adalah Reyhan. Reyhan yang masih menggunakan jas kerjanya mendorong trolley mengikuti seorang perempuan di belakangnya. Sesekali wanita itu bahkan terlihat tertawa-tawa sambil berbicara kepada Reyhan. Fida tidak bisa menangkap ekspresi Reyhan saat itu, karena posisi Reyhan membelakangi Fida.
Fida yang melihat kedekatan Reyhan dan perempuan tadi merasa seolah ada bongkahan batu yang menghantam dadanya, sesak dan perih. Fida bahkan merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Netra matanya masih mengamati punggung Reyhan hingga mereka berbelok di ujung rak.
Fida masih diam tak bergeming, hingga sebuah suara mengagetkannya. Seorang ibu-ibu memintanya untuk lebih ke pinggir karena trolley miliknya tidak bisa lewat. Fida yang tersadar pun langsung beranjak dari posisinya. Fida langsung mendorong trolleynya menuju kasir. Dia melupakan belanjaannya yang masih belum semua terbeli.
Fida buru-buru pergi ke kasir agar dirinya tidak bertemu dengan Reyhan. Namun, nasib baik tidak berpihak kepadanya saat itu. Reyhan dan perempuan yang bersamanya juga tengah menuju kasir.
Awalnya, baik Reyhan maupun Fida sama-sama tidak menyadari jika mereka berada di depan kasir. Namun, saat Fida telah selesai melakukan pembayaran dan berbalik, netra mata mereka bertemu. Reyhan dan Fida sama-sama terkejut. Mereka saling pandang dan diam membisu.
Perempuan yang sedang bersama Reyhan pun menyadari tingkah keduanya. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Reyhan sambil berbicara.
"Siapa perempuan ini Rey? Kamu mengenalnya?" Tanya perempuan itu sambil mengusap-usap lengan Reyhan. Reyhan masih diam membisu sambil terus menatap wajah Fida.
Fida yang tersadar pun langsung mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia berusaha tersenyum di depan Reyhan dan perempuan tadi.
"Saya Fida. Saya tidak begitu mengenal pak Reyhan. Saya hanya sahabat dari istri atasan pak Reyhan." Jawab Fida sambil tersenyum hangat. Dia berusaha menyembunyikan sakit hatinya.
Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Oh, kamu sahabat istrinya Kenzo." Kata perempuan tersebut.
"Iya, benar. Kalau begitu, saya permisi dulu." Kata Fida sambil mengangguk dan segera pergi dari tempat itu. Dia sama sekali tidak melirik ke arah Reyhan. Fida sama sekali tidak mengetahui ekspresi Reyhan. Dia hanya merasa harus segera pergi dari tempat itu.
Fida segera memakai helmnya dan menyalakan motornya dengan tergesa-gesa. Air matanya langsung luruh tanpa diundang. Fida menangis sepanjang perjalanan menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Fida mulai berpikir perempuan itulah alasan Reyhan tidak membaca pesan Fida sejak kemarin. Fida merasa sudah kalah. Dia tidak akan memperjuangkan apa yang sudah menjadi milik orang lain.
Setelah hari itu, Fida menghentikan kegilaannya selama beberapa minggu ini yang selalu mengirimi Reyhan pesan. Fida benar-benar memutuskan semua interaksi dengan Reyhan. Fida juga berusaha menata hati agar tidak baper lagi jika suatu saat bertemu dengan Reyhan. Dia berusaha bersikap cuek dan ceria seperti biasanya. Fida sama sekali tidak menunjukkan rasa kecewa sedikitpun saat beberapa kali bertemu dengan Reyhan di rumah Vanya.
Vanya yang mendengar cerita Fida pun masih membulatkan mata dan mulutnya. Dia merasa gagal menjadi seorang sahabat. Vanya sama sekali tidak mengetahui gejolak hati yang dirasakan sahabatnya itu.
Vanya langsung beranjak berdiri dan memeluk Fida. Entah mengapa dia merasakan perasaan yang melow saat itu. Dalam pelukan Fida, Vanya menangis sesenggukan sambil mengucapkan permintaan maaf berkali-kali.
"Maaf Fid, maafkan aku. Aku sama sekali tidak mengetahui perasaanmu. Maafkan aku yang telah gagal menjadi sahabatmu. Maafkan aku hiks hiks hiks." Kata Vanya sambil menangis sesenggukan.
"Hei, hei. Kenapa kamu meminta maaf sih. Kamu tidak salah Van, jangan aneh-aneh deh." Kata Fida sambil mengusap punggung Vanya.
Namun, bukannya berhenti menangis, Vanya justru tambah menangis meraung-raung. Fida jadi kebingungan dengan tingkah Vanya.
"Kenapa semakin kencang sih nangisnya? Aku yang patah hati, kenapa jadi kamu yang nangis kejer gini sih, Van?" Kata Fida sambil berusaha mengusap-usap punggung Vanya.
Vanya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Fida dengan air mata yang masih mengalir.
"Katakan, Fid. Katakan apakah kamu sudah tidak mengharapkan Reyhan lagi?" Tanya Fida sambil sesenggukan.
Fida menggelengkan kepalanya. Dia berusaha tersenyum untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Enggak Van. Perasaanku tidak sebesar itu. Aku sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi dari Reyhan. Kamu jangan mengkhawatirkan aku lagi." Jawab Fida sambil mengusap air mata Vanya.
Namun, Vanya masih tetap kekeh tidak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kamu mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak bisa membohongiku Fid. Aku masih bisa melihat harapan dari tatapan mata kamu saat memandang wajah Reyhan." Kata Vanya sambil mengusap sendiri air matanya. Dia mengambil tisu yang ada di atas meja makan dan segera membersihkan ingusnya.
Fida yang melihat tingkah Vanya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu itu yakin banget Van, orang aku yang menjalaninya kok." Jawab Fida.
"Aku tetap akan mencalonkan Reyhan untuk membantu kamu menyelesaikan masalah perjodohan itu. Mau tidak mau, kamu harus menurut." Jawab Vanya dengan nada berapi-api.
Sementara Fida hanya bisa melongo mendengar perkataan Vanya
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, klik like, komen dan vote
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda
Thank you