
"Pada dasarnya semua boleh dikonsumsi. Tapi memang ada beberapa makanan dan buah yang tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil secara berlebihan. Nanti akan aku tuliskan apa saja yang memang tidak baik dikonsumsi oleh ibu hamil." Jawab dokter Friska.
Baik Kenzo dan Vanya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Untuk aktivitas ranjang bagaimana?" Tanya Kenzo.
Seketika dokter Friska menoleh menatap wajah Kenzo sambil mencebikkan bibirnya. Vanya, jangan ditanya lagi bagaimana malunya dia. Vanya hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya dan meremas kedua tangannya.
"Itu, yang ada di otak kamu apa hanya urusan ranjang saja sih, Zo." Cibir dokter Friska.
Kenzo yang mendengar perkataan dokter Friska hanya bisa menggerutu kesal.
"Itu kan kebutuhan utama, Fris. Coba tanya suami kamu, mana bisa nahan lama-lama dia."
"Bisa, kok. Mas Daniel bisa menahan untuk tidak melakukan hal itu lama." Jawab Friska sambil menahan senyum.
"Benarkah? Aku sama sekali nggak yakin." Cibir Kenzo. Vanya yang mendengar perdebatan keduanya hanya bisa menatap mereka bergantian.
"Bisa lah. Waktu sehabis melahirkan aku kan ada masa nifas. Jadi, mau tidak mau mas Daniel harus menahannya. Hahahaha." Jawab dokter Friska.
Mendengar jawaban dokter Friska, Kenzo dan Vanya hanya bisa melongo.
"Ccckk, pantas saja. Lagian, aku nggak percaya sama sekali si Daniel bisa tahan lama. Dia kan bule, on fire terus." Kata Kenzo dengan kesal karena merasa dikerjai dokter Friska.
"Ya, ya, ya. Iyain aja deh, biar senang." Jawab dokter Friska sambil mencebikkan bibirnya.
"Lalu untuk urusan ranjang tadi bagaimana? Masih boleh kan?" Tanya Kenzo tidak sabar.
"Maaass, apaan sih." Kata Vanya sambil mencubit paha Kenzo. Dia merasa malu dengan dokter Friska.
Dokter Friska yang melihat tingkah Vanya pun hanya bisa tersenyum.
"Tidak apa-apa, Van. Memang harus dijelaskan agar Kenzo mengerti." Jawab dokter Friska. "Sebenarnya tidak masalah, Zo. Tapi, sebaiknya kalian menunda dulu untuk masalah ranjang sampai usia kehamilan Vanya lebih dari tiga bulan, agar kandungannya lebih kuat." Lanjut dokter Friska.
"Hhhhaaaa?! Kenapa lama sekali." Kata Kenzo sambil sedikit berteriak.
"Lama bagaimana sih, Zo. Paling sekitar dua bulan lagi. Tahan sebentar apa susahnya sih." Kali ini giliran dokter Friska yang menggerutu.
"Dua bulan itu lama banget, Fris. Nggak akan kuat nunggu selama itu." Jawab Kenzo dengan ketus.
"Halah dua bulan saja kamu bilang lama. Dulu selama dua puluh delapan tahun lebih saja kamu mampu menahannya, ini hanya dua bulan kamu bilang lama. Ingat, itu semua demi calon anak kalian." Kata dokter Friska sambil mendelik tajam.
Skak mat.
Kenzo langsung kicep setelah mendengar perkataan dokter Friska. Mau membantah pun pasti dia akan tetap kalah jika berdebat dengan dokter Friska. Kenzo hanya bisa diam sambil mengerucutkan bibirnya.
Dokter Friska yang melihat ekspresi Kenzo hanya bisa menahan tawa. Dia sangat yakin jika Kenzo tengah mengumpatnya dalam hati.
Vanya menoleh menatap wajah Kenzo yang tengah kesal. Dia mengusap punggung tangan sang suami untuk membuatnya tenang.
"Nggak usah di tekuk seperti itu wajahnya, Zo. Makin butek lihatnya." Kata dokter Friska.
"Ini semua gara-gara kamu, Fris." Gerutu Kenzo.
"Bukan gara-gara aku, tapi ini semua demi calon anak kalian. Sebenarnya tidak apa-apa jika kalian melakukannya. Tapi, kalian harus berhati-hati, pelan-pelan dan tidak memakai gaya yang aneh-aneh." Tutur dokter Friska.
Seketika wajah Kenzo langsung berbinar. Dia langsung berdiri sambil menatap wajah dokter Friska.
"Oke, aku akan pelan-pelan. Thanks, Fris. Aku balik dulu." Kata Kenzo sambil menarik lengan Vanya.
Seketika dokter Friska hanya bisa melongo melihat tingkah Kenzo. Sementara Vanya yang terkejut hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada dokter Friska sambil berjalan mengikuti Kenzo.
"Dasar. Laki-laki yang sudah kelamaan puasa ya seperti itu jadinya. Yang ada di dalam otaknya hanya iya, ho-oh, iya, ho-oh." Gerutu dokter Friska.
"Itu sahabatnya ya, Dok?" Tanya seorang perawat yang tengah berdiri di samping meja dokter Friska.
"Iya, Sus. Sejak kami kecil, rumah kami sudah tetanggaan hingga kuliah. Setelah itu, aku menikah dan pindah ke rumah suamiku." Jawab dokter Friska.
"Ouwh, pantas saja. Tapi, sepertinya sifatnya hampir sama dengan suami dokter Friska ya untuk urusan ranjang." Kata perawat tersebut sambil terkekeh geli.
"Huuussstt, jangan keras-keras, Sus." Kata dokter Friska sambil menahan tawa geli.
"Apa yang sedang mereka lakukan, Mas?" Tanya Vanya.
"Entahlah. Sepertinya kita melewatkan sesuatu." Jawab Kenzo sambil menarik lengan Vanya.
"Ehemmm, apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Kenzo saat sudah berada di dekat Reyhan dan Vanya.
Seketika Reyhan dan Vanya menoleh ke arah datangnya Kenzo dan Vanya. Mereka tampak terkejut melihat kedatangan Kenzo dan Vanya.
"Ah, anda sudah selesai? Mari, saya antar pulang." Kata Reyhan sambil beranjak berdiri. Dia tidak menjawab sama sekali pertanyaan Kenzo.
"Aku pulang naik taksi saja, Van." Kata Fida sambil ikut berdiri. Raut wajahnya tampak terlihat kesal.
Vanya dan Kenzo yang melihat hal itu hanya bisa saling pandang. Mereka masih belum mengetahui apa yang terjadi di antara Reyhan dan Fida.
"Tidak boleh!" Kata Vanya sambil menahan lengan Fida.
"Apa maksud kamu, Van?" Tanya Fida.
"Orang tua kamu belum pulang. Aku nggak mau kamu tinggal sendiri lagi. Malam ini menginap saja di rumah kami. Sekalian ada yang mau aku bahas." Jawab Vanya.
Fida mengerucutkan bibirnya. Jika sudah seperti itu, bisa dipastikan Vanya tidak akan bisa di bantah. Lagipula, dia juga merasa sedikit merinding saat melihat tatapan mata tajam Kenzo. Akhirnya, Fida terpaksa mengiyakan permintaan Vanya.
Setelahnya, mereka segera pulang ke rumah Kenzo. Saat dalam perjalanan, suasana kendaraan yang dikemudikan oleh Reyhan terasa menegangkan. Tidak ada percakapan sama sekali dari Reyhan maupun Fida. Sementara Vanya sudah terlelap dalam dekapan Kenzo.
Tak berapa lama kemudian, mobil mereka sudah masuk ke dalam garasi rumah Kenzo. Satu persatu mereka turun dan segera membersihkan diri. Vany sendiri juga sudah bangun dan segera membersihkan diri.
Malam itu, mereka memilih untuk memesan makan malam. Vanya dan Fida terlalu capek jika harus memasak untuk makan malam. Setelah selesai makan malam, Vanya meminta semua orang untuk bergabung di ruang tengah. Dia ingin membahas sesuatu.
"Ada apa sih, Van?" Tanya Fida begitu dia mendudukkan diri pada single sofa di ruang tengah tersebut.
"Ehemm, aku ingin membahas tentang rencana perjodohan kamu, Fid. Kamu serius ingin membatalkan rencana perjodohan itu?" Tanya Vanya.
"Tentu saja. Aku sedang memikirkan caranya." Jawab Fida.
Kenzo dan Vanya saling menatap setelah mendengar jawaban Fida.
"Baiklah, kami akan membantu kamu. Aku punya solusi terbaik saat ini untuk membatalkan rencana perjodohan itu." Kata Vanya.
"Serius, Van? Rencana apa itu?" Tanya Fida penuh semangat. Dia berharap rencana Vanya bisa benar-benar terlaksana dengan baik.
"Tentu. Kamu harus memperkenalkan seorang laki-laki kepada orang tua kamu. Katakan bahwa laki-laki itu adalah kekasih kamu, calon suami kamu." Jawab Vanya.
Setelah mendengar perkataan Vanya, Fida langsung mendengus kesal sambil mencebikkan bibirnya.
"Kamu mulai ngawur Van, sudah tahu sendiri aku belum punya pacar. Siapa yang akan aku bawa ke hadapan orang tuaku dan ku perkenalkan sebagai calon suami, coba." Ketus Fida.
"Reyhan. Reyhan yang akan kamu perkenalkan sebagai pacar kamu dan calon suami kamu." Jawab Vanya.
"Diaa?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, klik like, komen dan vote
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda
Thank you