
Malam itu, setelah makan malam Kenzo langsung mengekori Vanya menuju kamar. Dia bahkan mengabaikan Reyhan yang sudah menunggunya di ruang tengah untuk membahas proyek baru mereka di Surabaya. Reyhan yang melihat tingkah aneh Kenzo pun hanya bisa pasrah. Dia beranjak menuju dapur untuk menemui bi Ani.
"Eh, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya bi Ani saat melihat Reyhan tengah berdiri di samping bi Ani.
"Nggak usah, Bi. Saya hanya mau buat kopi kok." Kata Reyhan sambil mengambil cangkir dari dalam rak penyimpanan piring dan gelas.
"Eh, eh. Saya buatkan, Tuan. Jangan buat kopi sendiri. Sini saya bantu." Kata bi Ani sambil mengambil cangkir yang di pegang Reyhan.
"Nggak usah, Bi. Nanti malah merepotkan." Elak Reyhan.
"Nggak merepotkan kok. Sudah, sekarang Tuang tunggu saja di kursi ruang tengah, nanti saya antarkan kopinya." Kata bi Ani.
"Ehm, saya tunggu di sini saja Bi." Jawab Reyhan sambil menggeser kursi di dekat mini bar di dapur tersebut.
Reyhan menunggu bi Ani untuk membuatkan kopinya.
"Ehm, bi Ani sekarang berapa cucunya?" Tanya Reyhan. Dia sudah lama mengenal bi Ani. Sejak Reyhan bekerja di keluarga Kenzo pun bi Ani sudah bekerja di sana.
"Anak saya empat, cucu saya sudah tujuh Tuan. Banyak ya. Hehehe." Jawab bi Ani sambil tertawa riang. Beliau terlihat bahagia sekali.
"Waahh, sudah banyak cucunya ya Bi. Lalu, kenapa bi Ani masih mau bekerja? Apa tidak ingin menghabiskan masa tua dengan para cucu?" Tanya Reyhan.
Bi Ani berjalan ke arah Reyhan sambil membawa secangkir kopi untuknya. Setelah itu, bi Ani menarik kursi dan duduk tak jauh dari posisi Reyhan.
"Anak pertama saya perempuan. Dia mempunyai tiga orang anak. Mereka tinggal di Banyuwangi, karena menantu saya bekerja di sana. Anak kedua saya juga perempuan. Dia juga mempunyai tiga orang anak. Mereka tinggal di Samarinda, karena dia dan suaminya bekerja di sana."
Anak ketiga saya laki-laki, sudah menikah selama empat tahun dan belum memiliki momongan. Dia dan istrinya tinggal di Denpasar, Bali. Mereka bekerja di restoran di sana. Sedangkan anak keempat saya baru menikah tiga tahun yang lalu. Dia sudah mempunyai seorang anak berusia satu tahunan. Dia tinggal di Surabaya. Dia pindah kesana karena ikut suaminya yang bekerja di sebuah bank di Surabaya."
"Suami saya juga sudah meninggal, Tuan. Saya juga tidak mau ikut anak-anak saya meski mereka terus memaksa. Daripada saya berdiam diri di rumah, lebih baik saya bekerja. Hehehehe." Kata bi Ani.
Reyhan yang mendengar cerita bi Ani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesekali dia menyeruput kopi panas yang ada di depannya. Reyhan memang mengetahui semua anak-anak bi Ani berada di luar Jakarta. Reyhan bahkan mengenal putra ketiga bi Ani. Usianya dua tahun di bawahnya.
"Lalu, apa bi Ani tidak kangen dengan cucu-cucu bi Ani?" Tanya Reyhan.
"Kangen banget, Tuan. Makanya hampir setiap hari saya video call dengan mereka. Setiap hari ganti-ganti. Hehehehe." Jawab bi Ani. "Ehm, maaf sebelumnya Tuan. Apa anda tidak ingin segera menikah? Maksud saya, tuan Kenzo kan sudah menikah. Apa anda tidak ingin seperti tuan Kenzo yang bahagia bersama istri?" Tanya bi Ani.
Seketika Reyhan mendonggakkan kepalanya menatap bi Ani. Dia menghembuskan napas beratnya setelah mendengar perkataan bi Ani.
"Bukannya tidak ingin menikah, Bi. Tapi saya masih belum menemukan perempuan yang bisa menerima saya apa adanya. Saya hanyalah seorang anak yatim piatu. Saya berasal dari keluarga biasa. Sejak SMA, saya harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Saya sangat beruntung bisa bertemu dengan tuan Mike dan tuan Kenzo. Mereka sangat baik kepada saya. Mereka bahkan memberikan pekerjaan yang sangat bagus untuk saya, Bi." Kata Reyhan.
"Benar. Tuan Mike dan nyonya Tari memang sangat baik. Selama tiga puluh tahun lebih saya bekerja di keluarga nyonya Tari, saya selalu dianggap keluarga oleh keluarga nyonya Tari. Bahkan, mendiang nyonya besar pun sangat baik kepada saya." Kata bi Ani.
Reyhan yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, mereka masih melanjutkan obrolan hingga kopi yang ada di cangkir Reyhan benar-benar habis.
"Eh, Tuan. Saya dengar dari nona Vanya, jika tuan Reyhan dijodohkan dengan sahabatnya, ya?" Tanya bi Ani blak-blakan.
Sontak saja Reyhan langsung menoleh menatap wajah bi Ani.
"Dijodohkan apaan sih, Bi. Enggak kok." Kata Reyhan berusaha mengelak.
"Yeee, orang nona sendiri kok kemarin yang bilang sama bibi. Eh, sahabat nona Vanya yang akan dijodohkan dengan tuan Reyhan itu, nona Fida bukan?" Tanya bi Ani.
Reyhan menghembuskan napas beratnya saat mendengar perkataan bi Ani.
"Bukan dijodohkan, Bi. Nona Vanya memang meminta saya untuk membantu sahabatnya itu dengan berpura-pura menjadi pacarnya. Dia tidak ingin dijodohkan, dia ingin menunjukkan kepada orang tuanya jika dia sudah punya pacar." Jawab Reyhan.
"Apa maksud, Bibi?"
"Non Fida itu suka sama tuan Reyhan. Beberapa kali bibi sempat memergoki non Fida memperhatikan tuan Reyhan. Dia juga sering tersenyum-senyum sendiri saat memperhatikan anda, Tuan. Saya yakin jika non Fida benar-benar suka dengan tuan Reyhan." Kata bi Ani.
Reyhan kembali diam terpaku memikirkan perkataan bi Ani. Bi Ani segera pamit untuk beristirahat kepada Reyhan. Tak berapa lama kemudian, Reyhan juga segera beranjak ke dalam kamarnya.
Reyhan segera membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Saat hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Reyhan mengambil ponselnya yang sejak makan malam tergeletak di atas nakas. Netra mata Reyhan membulat saat mendapat banyak pesan beruntun dan panggilan tak terjawab dari Fida.
Reyhan membuka satu persatu pesan itu dan membacanya.
20.13
Sayang, Vanya baru menghubungiku. Besok serius kita akan berkencan? 😍
20.18
Iihh, kok belum dibalas sih. Lagi sibuk?
20.24
Masih belum di balas juga. Hhhmm, nggak apa-apa sih menunggu lama. Untung sayang, eh.
20.46
Sayang?
21.13
Kita harus bicarakan rencana besok. Aku tidak ingin kita salah ngomong di depan papa dan mama.
Langsung hubungi aku jika sudah buka pesanku.
21.32
Masih belum dibuka ya 😥
Gini ya rasanya menunggu di buka.
Besok jika kita menikah, aku mau langsung buka. Aku nggak mau menunggu lama-lama.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=
Lanjutannya masih ngetik ya