
El dan Fara masih terdiam dengan pikirannya masing-masing tanpa berpindah tempat, hingga terdengar sebuah suara.
"Ini kenapa pegang-pegangan tangan disini? Awas saja jika mulai merembet nyicil pegang yang lainnya!" Kata daddy Kenzo yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat gazebo. Baik El dan Fara sama-sama tidak menyadari kedatangannya
"Eh, Dad-daddy?!" El langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Fara. Dia terlihat canggung saat mendapati sang daddy tengah menatapnya tajam.
"Ah, eh, ah, eh. Apa yang kamu lakukan di sini El? Awas saja jika kamu mengganggu Fara." Kata daddy Kenzo. Dia masih berdiri sambil melipat kedua tangganya di dada. Tatapan matanya juga masih menatap tajam ke arah El.
"Eh, kami tidak ngapa-ngapain kok, Dad. Hanya ngobrol sebentar." Jawab El. Sementara Fara masih diam sambil menundukkan kepalanya.
"Ngobrol tengah malam begini? Ditempat gelap pula. Kalian mau ngobrol sambil uji nyali?"
El mendengus kesal mendengar perkataan sang daddy.
"Ya kali kami uji nyali disini, Dad. Kami beneran hanya ngobrol, tidak ngapa-ngapain. Suer." Jawab El.
"Nggak ngapa-ngapain kok pegang-pegangan tangan. Jika Daddy tidak datang, Daddy yakin kamu pasti mulai pegang yang lainnya, El."
"Apaan sih, Dad. Pegang yang lain itu apa?" El benar-benar kesal digoda oleh sang daddy.
"Ya itu, barang jeroan." Jawab daddy sambil menggerakkan kepalanya menunjuk Fara.
"Sembarangan. Dikira ayam apa punya jeroan." Gerutu El.
"Sudah, sudah. Ra, segera kembali ke kamar kamu dan beristirahat. Jangan diluar terus. Ada serigala berbahaya yang siap menerkammu kapan saja di luar." Kata daddy Kenzo sambil melirik sang putra.
Fara segera berdiri dan mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia meminta izin untuk pamit ke kamarnya. Kini, hanya tinggal El dan sang daddy yang masih berada di sana.
"Besok oma Tari akan pulang. Daddy minta mulai besok segera persiapkan persyaratan untuk pernikahanmu, termasuk surat-surat yang diperlukan dan pendaftarannya. Daddy mau kalian segera menikah sebelum bulan puasa." Kata daddy Kenzo.
Seketika El menoleh menatap wajah daddy Kenzo dengan mulut terbuka.
"Secepat itu, Dad? Puasa kan tinggal empat hari lagi?"
"Iya, memang kenapa? Lebih cepat lebih baik. Dari pada kamu kebablasan nanti."
"Ngerem apanya? Itu tadi sudah berani pegang-pegang tangan. Coba jika Daddy tidak datang, tangan kamu pasti sudah bergerilya mencari lembah dan bukit alami." Dengus daddy Kenzo.
El hanya bisa pasrah mendengar perkataan sang daddy. Setelahnya, mereka segera masuk kembali ke dalam rumah untuk beristirahat.
Pagi harinya, rumah El terasa sangat heboh. Mommy Vanya benar-benar sangat antusias saat mendengar sang putra akan segera menikah. Menjelang sore, oma Tari juga sudah tiba. Beliau tak kalah antusiasnya saat mendengar cucu pertamanya akan segera menikah.
El hanya bisa menuruti keinginan orang tuanya untuk mengurusi segala persyaratan pernikahan. Kali ini, mereka hanya akan mengadakan prosesi ijab qobul dan syukuran kecil-kecilan. Untuk resepsi pernikahan, akan digelar setelah lebaran.
"Sayang, nanti jangan menunda memiliki momongan, ya. Mommy berharap kalian segera memberikan cucu untuk kami." Kata mommy Vanya kepada Fara sore itu.
Ya, sejak rencana pernikahan El diumumkan, mommy Vanya memang meminta Fara memanggilnya mommy dan daddy untuk daddy Kenzo. Mau tidak mau, Fara hanya bisa mengikuti keinginan mommy Vanya tersebut.
Fara yang sedang membantu menyiapkan makan malam pun menoleh menatap wajah mommy Vanya. Dia cukup terkejut mendengar perkataan sang calon mertua. Cucu? Bagaimana mungkin memikirkan cucu, kami saja masih berusaha menata hati. Batin Fara.
Namun, Fara hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia tidak ingin membuat sang calon mertua kecewa.
"Iya, Mom. In sha Allah kami tidak akan menundanya. Sedikasihnya saja." Jawab Fara sambil tersenyum, meski hatinya ketar-ketir khawatir.
Wajah mommy Vanya terlihat berbinar bahagia. Dia memang benar-benar berharap untuk segera memiliki cucu.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon bantuan vote ya mumpung masih hari Selasa. Jangan lupa klik like dan komen untuk karya othor. Terima kasih.