The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.2



Mommy Vanya terlihat begitu panik. Dia masih saja menangis di ruang tunggu IGD. Meski El sudah berusaha menenangkan mommy, namun tangisnya masih tidak bisa berhenti.


"Mommy takut dia kenapa-napa, El." Kata mommy Vanya ditengah isak tangisnya.


"Sudah, Mom. Jangan terlalu khawatir. Yakinlah dia tidak apa-apa." Kata El sambil berusaha menenangkan mommy.


"Cepat hubungi daddy kamu, El. Suruh dia segera ke rumah sakit. Mommy nggak mau tahu dia harus segera pulang." 


"Iya, iya. Ini El hubungi daddy." Jawab El sambil merogoh ponselnya yang berada di saku celananya.


Tak berapa lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD. Mommy yang sudah tidak sabar langsung memberondong sang dokter untuk menanyakan keadaan pasien.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya mommy sudah tidak sabar.


"Anda orang tua, pasien?"


"Eh, bu-bukan, Dok. Sebenarnya kami…." Belum sempat mommy menyelesaikan perkataannya, El sudah menyahuti jawaban mommy.


"Kami saudaranya, Dok." Kata El. "Dia keponakan saya." Lanjutnya.


Sang dokter pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lukanya tidak parah. Hanya saja, benturan pada kakinya saat kecelakaan tadi menyebabkan ada sedikit retakan di lututnya. Jadi, mungkin untuk beberapa waktu, dia tidak boleh berjalan dulu agar bisa segera sembuh dan berjalan dengan normal kembali." Jelas sang dokter.


Mommy Vanya dan El sedikit merasa lega setelah mendengar penjelasan dokter. Mereka bersyukur jika lukanya tidak terlalu parah. Setelahnya, mereka segera memindahkan pasien ke ruang perawatan. Mommy dan El menunggunya hingga sadar.


"Mom, apa tidak sebaiknya kita menghubungi keluarganya?" Tanya El.


"Mommy juga berpikir seperti itu. Sebaiknya, kita menghubungi keluarganya. Tapi, dimana kita bisa menemukan keluarganya?"


"Dia pasti punya ponsel. Coba aku tanyakan dulu kepada petugas dimana mereka meletakkan tasnya."


Setelahnya, El segera bergegas untuk menanyakan tas pasien tersebut kepada petugas. Beberapa saat kemudian, dia sudah terlihat kembali. Mommy mengernyitkan keningnya saat melihat El berjalan memasuki ruang perawatan tanpa membawa apapun.


"Mana tasnya, El?" Tanya mommy.


"Tidak ada, Mom. Tadi dia tidak membawa apa-apa." 


"Benarkah?"


"Iya. Tadi kita terlalu panik, jadi tidak sempat mencari barang-barangnya." Jawab El.


Mommy mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bisa mengerti penjelasan El. Setelahnya, mommy meminta El untuk pergi makan siang terlebih dahulu.


Sekitar setengah jam kemudian, mommy melihat ada pergerakan pada kelopak pada pasien yang tengah ditungguinya. Mommy buru-buru berjalan mendekat saat kedua mata pasien tersebut mengerjap-ngerjap terbuka.


Mata itu masih menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang mengenai matanya. Mommy menunggu dengan sabar hingga kedua mata tersebut benar-benar terbuka.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?!" Tanya mommy sambil mengulas senyumannya.


Kedua mata yang baru saja terbuka tersebut langsung menatap wajah mommy. Terlihat jelas kerutan pada keningnya meskipun ada beberapa perban yang menempel di dahi sebelah kirinya.


"Tante siapa? Dan, dimana ini?" 


"Sa-ya kecelakaan, Tante?"


"Iya. Tapi tenang saja, kata dokter lukanya tidak terlalu parah." Jawab mommy. "Boleh Tante tahu siapa namamu?" Tanya mommy.


"Saya Fara, Tante. Diandra Farasha. Tante bisa memanggil saya Fara."


Mommy tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah Fara, Tante bisa minta alamat atau nomor telepon orang tua kamu? Tante harus memberitahukan keadaan kamu di sini." 


Wajah Fara terlihat murung saat mendengar perkataan mommy. Melihat hal itu, mommy mengernyitkan keningnya.


"Ada apa?" Tanya mommy.


"Ehm, sa-saya sudah tidak memiliki ibu, Tante. Ayah saya baru menikah lagi seminggu yang lalu." Jawabnya dengan wajah sedih.


Mommy begitu terkejut mendengarnya. Dia mengusap bahu Fara yang tidak sakit. Mommy berusaha menghibur Fara.


"Maafkan Tante, Sayang. Tante tidak tahu jika ibu kamu sudah tiada."


"Tidak apa-apa kok, Tante." Jawab Fara sambil berusaha tersenyum.


"Sekarang, boleh tante minta alamat atau nomor ponsel ayah kamu? Tante ingin menghubunginya. Tante juga mau minta maaf."


"Ehm, tidak usah, Tante. Ayah sudah pergi ke rumah istri barunya."


"Hhaaa? Maksudnya?"


"Ehm, dia…."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Sabar dulu ya, ngetiknya dibagi-bagi sama yang di sono. 


Nanti diusahakan up lagi. Kasih dukungan yang banyak dengan klik like, komen dan vote, biar othor semangat upnya.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda.


Terima kasih.