
Bian benar-benar terkejut saat mendapati tindakan Revina.
"Deeekkkk?!"
Bian berteriak tertahan saat mendapati tingkah tiba-tiba sang istri. Bagaimana tidak, saat itu dia merasakan hangat di bagian bawah tubuhnya. Kedua bola matanya menatap tajam pada wajah Revina yang sedang meringis menahan sakit. Keningnya berkerut, kedua bola matanya terpejam dan bibir bawah yang tergigiti.
"Ma-maassss, kok sakit inihhh, padahal baru ketuk pintu. Nggak muat masuk ih." Kata Revina sambil bergerak-gerak gelisah.
Melihat tingkah sang istri, Bian langsung menghentikan gerakan Revina. Dia memegang pinggul sang istri di kedua sisinya untuk membuat Revina diam. Menyadari tindakan sang suami, Revina membuka kedua matanya dan menatap ke arah Bian.
"Kenapa ditahan Mas? Ka-kamu nggak mau melakukannya denganku?" Tanya Revina dengan kening berkerut.
Mendadak d*da Revina terasa sakit saat menyadari sang suami tidak menginginkannya. Dia berpikir jika Bian tidak mau melakukan hal itu dengannya. Revina menggeser tubuhnya. Dia berniat untuk beranjak berdiri dan pergi dari posisinya saat ini yang tengah menindih sang suami.
Bian yang melihat wajah kecewa sang istri langsung panik. Bukan itu maksudnya. Mana mungkin dia menolak untuk eksekusi akhir tersebut. Bian hanya merasa kasihan saat melihat wajah sang istri yang tengah kesakitan tadi.
Saat Revina hendak mengangkat tubuhnya untuk beranjak berdiri, Bian langsung memeluknya dan menggulingkannya ke samping. Kini, posisi Bian sudah berada di atas tubuh polos sang istri.
"Kamu ini ngomong apa? Mana mungkin aku tidak mau melanjutkannya. Aku hanya tidak mau kamu kesakitan." Kata Bian sambil menatap lekat-lekat ke dalam mata sang istri.
"Meskipun sakit harus tetap ditahan, Mas. Mau sampai kapan memangnya kita menundanya." Kata Revina sambil masih mengerutkan keningnya. Perasaannya masih belum cukup membaik.
"Yakin mau melakukannya sekarang? Yakin tidak akan menyesal?" Tanya Bian mencoba untuk meyakinkan.
"Menyesal? Menyesal kenapa? Kita kan memang sudah menikah, Mas."
"Menyesal karena belum ada rasa apapun diantara kita. Yakin kamu mau melakukannya?"
"Bukan kita Mas, tapi kamu. Aku memang sudah lama menyukaimu." Jawab Revina sambil tersenyum manis. Tangan kanannya kini juga sudah mendarat pada pipi kiri Bian.
Mendengar jawaban Revina, kedua bola mata Bian tampak membesar. Dia masih belum bisa mencerna perkataan sang istri. Benarkah Revina menyukainya sejak lama? Batin Bian.
Menyadari sang suami masih diam terpaku, Revina mengangkat wajahnya dan sedikit menarik kepala Bian untuk mendekat ke arahnya. Bian yang masih terkejut tidak bisa menolak saat bibir Revina sudah menyapu lembut bibirnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bian langsung membalas perlakuan Revina.
Suara pertemuan dua benda kenyal tersebut seolah bersahutan dengan derasnya hujan di luar villa. Hingga aktivitas itu berhenti saat tangan Revina sudah menggenggam sesuatu milik Bian di bawah sana dan sedikit menggodanya.
"Aaaiisssshhhhh, Deeekkkk." Bian hanya bisa merem melek mendapati perlakuan sang istri.
"Kasihan ini kedinginan, Mas. Panas-panasan, yuk." Kata Revina sambil mulai membawa si perkutut untuk mulai berpetualang di tempat yang baru.
"Aku tidak akan berhenti jika sudah memulainya, Dek." Kata Bian sambil mencoba untuk menahan sesuatu yang menuntut di bawah sana.
"Justru aku tidak ingin kamu berhenti, Mas." Jawab Revina sambil tersenyum dan mengecup bibir sang suami dengan singkat.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bian segera menuruti keinginan sang istri. Eh, sebenarnya keinginannya juga sih.
"Ini akan sakit di awal, coba tahan sebisa mungkin." Kata Bian sambil mencoba bekerja di bawah sana.
"Aauuwwhhh, aduuuhhh pelan-pelan, Mas. Kuncinya nggak bakal muat ini. Auuuhhh i-ini sekeras pentungan di pos ronda. Aduuhhh duuuhhhh terus Mas."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=
Yang kemarin ada part part terpotong, sudah othor post di ig ya. Mohon maaf ada revisian.
Mohon maaf masih up seadanya dulu. Semoga nanti bisa up lagi. Bantu kasih like, komen dan vote ya. Biar tambah semangat. Kirimkan bunga atau kopi buat othor juga boleh ðŸ¤