
Cello segera beranjak menuju mobilnya. Dia buru-buru ingin segera menjemput sang istri. Mungkin, istrinya tersebut sudah menyelesaikan ujiannya lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.
Beberapa saat kemudian, Cello sudah berada di depan fakultas Shanum. Dia melihat sang istri tengah berbicara dengan dua orang sahabatnya, sebelum akhirnya melihat kedatangannya. Shanum terlihat berpamitan kepada dua orang sahabatnya dan berjalan menuju mobil Cello yang berhenti tak jauh darinya.
"Maaf, yang. Menunggu lama ya?" Tanya Cello setelah Shanum mengecup tangan kanannya.
"Lumayan sih. Lagian, ponsel kamu kenapa bisa mati sih, Mas. Aku sampai harus telpon Aldi tadi."
"Maaf, Yang. Semalam benar-benar lupa di charge. Salah kamu juga sih godain aku semalaman."
"Eh, nggak ada ya. Mana ada judulnya itu godain kamu hingga lupa ngecharge ponsel. Lupa mah lupa aja, Mas. Nggak usah nyalahin orang lain." Jawab Shanum dengan ketusnya.
Cello yang melihat perubahan mood sang istri pun menjadi semakin heran. Pasalnya, sejak beberapa hari ini istrinya tersebut mengalami perubahan mood yang bisa dikatakan sangat cepat. Shanum bisa langsung berubah menjadi sangat sedih hanya karena melihat ada seorang peminta-minta yang kebetulan berpapasan di jalan. Hasilnya, dia bisa menangis sesenggukan sepanjang jalan.
Tidak hanya itu, dia bisa berubah menjadi sangat ketus jika merasa sedikit tersinggung. Dan juga, jangan lupakan pola makannya yang berubah sangat drastis. Shanum bisa makan sampai lima kali dalam sehari. Bahkan, tengah malam pun dia sudah terbiasa untuk bangun dan makan.
Cello benar-benar tidak berani menegur atau sekedar bertanya. Bisa-bisa dia akan terkena amukan sang istri nanti.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Cello sudah memasuki garasi rumahnya. Cello dan Shanum segera turun dan mendapati mommy Fara sedang membawa bunga mawar yang baru saja dipetik dari kebun bunga di belakang rumah mereka. Mommy Fara juga terlihat membawa beberapa mangga kweni yang terlihat menggiurkan dengan bau yang sangat harum.
Entah mengapa Cello merasa sangat ingin memakan buah mangga tersebut. Cello benar-benar bisa membayangkan dirinya mengupas buah mangga tersebut. Kemudian mengirisnya menjadi potongan dadu kecil-kecil. Hhhhmmm, Cello benar-benar bisa membayangkan buah mangga tersebut berada diatas lidahnya.
"Eh, kalian sudah pulang?" Kata mommy Fara sambil berjalan mendekat kearah Cello dan Shanum.
"Mom, aku mau mangganya dong." Kata Cello tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan sang mommy.
"Eh, tumben kamu mau makan mangga, Cell? Biasanya juga nggak begitu suka buah masam begini."
"Nggak tahu, Mom. Tapi aku mau makan mangga itu sekarang." Kata Cello sambil masih menatap mangga-mangga yang berada di dalam keranjang bunga mommy Fara.
Cello segera menerima dua buah mangga tersebut dan membawanya menuju dapur. Mommy Fara dan Shanum yang melihat tingkah Cello hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Malam harinya, Cello pergi ke tempat futsal yang sudah berpindah kepemilikan menjadi milik sang daddy. Meskipun begitu, Aldi tetap diberi kepercayaan untuk mengelola tempat futsal tersebut.
Cello berjalan menuju tempat duduk yang biasa ditempatinya dan teman-temannya saat berkumpul. Sudah ada Aldi, Tio, Revan, dan Pandu di sana. Sementara yang lainnya, sudah mulai masuk ke lapangan.
"Nggak main lagi, Lo?" Tanya Tio saat melihat Cello datang tanpa membawa perlengkapan futsalnya.
"Males, gue."
"Ccckkk, setelah menikah Lo jadi semakin loyo deh, Cell. Makanya, jangan kebanyakan nggenjot istri. Hahaha."
Ya, seperti itulah candaan teman-teman Cello setiap kali mereka bertemu. Tak berapa lama kemudian, teman-teman Cello sudah mulai bermain futsal. Kini, hanya tinggal Cello dan juga Aldi yang tidak ikut bermain. Aldi memang jarang ikut bermain karena harus mengawasi tempat tersebut.
"Ada yang mau gue tanyain, Cell." Kata Alde setelah menenggak minumannya.
"Tentang apa?"
"Miss Danisha."
•••
Hayo, memang kenapa lagi itu?
Scroll ya