
Cello sudah mengadzani kedua buah hatinya sebelum mereka dibawa ke dalam ke ruang bayi. Baby twins juga sudah melakukan IMD sejak tadi. Kini, Cello hanya tinggal menunggu Shanum untuk dipindahkan ke ruang perawatan.
Saat ini, Cello tengah berada di depan igd. Dia masih menunggu Rean yang hingga sekarang belum juga siuman. Entah mengapa dia bisa sampai tidak sadarkan diri saat melihat Shanum hendak melahirkan.
Cello melihat mama Revina dan juga papa Bian berjalan tergesa-gesa dari arah timur. Ya, tadi memang Cello sudah memberitahu kedua mertuanya jika Shanum sudah melahirkan.
Meskipun sudah tengah malam, mama Revina dan papa Bian langsung berangkat ke rumah sakit. Mereka ingin segera bertemu dengan putrinya dan juga cucu-cucu pertama mereka.
"Cell, bagaimana keadaan Shanum?" Tanya mama Revina begitu sudah berada di samping Cello.
"Alhamdulillah semua baik-baik saja, Ma. Shanum sangat luar biasa tadi. Sekarang masih mendapat penanganan pasca melahirkan dari dokter Risma."
"Alhamdylillah," ucap kedua orang tersebut.
"Lalu, cucu-cucu mama bagaimana?"
"Alhamdulillah mereka sehat-sehat semua, Ma. Sekarang sudah ada di ruang bayi."
"Mama mau lihat dulu, sudah nggak sabar mau bertemu dengan cucu-cucuku. Ayo, Mas," ajak mama Revina kepada papa Bian.
"Iya, kamu duluan dulu,"
Mama Revina langsung mengangguk dan segera berlalu menuju ruang bayi. Sementara papa Bian masih berada ditempat yang sama dengan Cello.
"Kenapa kamu ada di depan igd? Rean kemana?" Tanya papa Bian. Ya, papa Bian memang tidak mengetahui jika Rean tidak sadarkan diri saat melihat sang kakak hendak melahirkan.
"Rhm, i-itu Pa, Rean ada di dalam,"
"Hhaah? Di igd? Kenapa?" Tanya papa Bian bingung.
"Tadi Rean tidak sadarkan diri saat melihat Shanum hendak melahirkan."
"Apa?!"
"Iya, Pa."
"Hhhh, ternyata trauma anak itu masih saja belum sembuh." Kata papa Bian sambil menghembuskan napas beratnya. Cello mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan sang mertua.
"Dulu, Rean pernah trauma saat melihat darah. Ternyata dia masih saja merasakan hal itu,"
Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, pap Bian meminta izin kepada petugas jaga igd untuk melihat sang putra. Beruntung saat itu Rean sudah sadar dan sedang duduk di atas brankar sambil memijat kepalanya.
"Masa lihat kakak kamu mau lahiran malah pingsan sih, Re?" Kata papa Bian begitu sudah berada di dekat sang putra.
Seketika Rean membuka kedua matanya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat sang papa.
"Aku kan nggak tahu, Pa. Mana tahu jika aku juga akan pingsan begini,"
Papa Bian hanya bisa mencebikkan bibirnya. Setelah itu, Rean sudah diperbolehkan untuk keluar dari igd. Papa Bian membantu sang putra untuk berjalan keluar. Pada saat bersamaan, terlihat mama Revina sudah kembali dari ruang bayi dan melihat mereka berdua. Mama Revina cukup terkejut melihat Rean dibantu oleh sang papa ketika berjalan.
"Lho, kamu kenapa Re?" Tanya mama Revina sambil menatap ke arah Rean dan sang suami bergantian.
"Dia baru saja pingsan karena nggak kuat melihat kakaknya mau melahirkan," kali ini papa Bian yang menjawab pertanyaan mama Revina.
"Astaga! Masih saja belum sembuh juga itu trauma. Bagaimana nanti jika kamu buka segelan Re, bisa-bisa balik kanan jika kamu melihat istri kamu kesakitan," kata mama Revina.
Rean hanya bisa mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang mama. Bisa-bisanya mamanya mengatakan hal itu disaat dirinya sedang merasa tak baik-baik saja seperti itu.
"Memangnya kesakitan kenapa? Katanya rasanya enak sampai nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata?" Tanya Rean sambil berjalan ke arah kursi tunggu yang ditempati Cello.
"Iya jika sudah berkali-kali. Tapi jika masih awal, rasanya ya pasti nggak nyaman, sakit."
"Kenapa?"
"Ya bayangkan saja sendiri, suntikan sebesar dan sepanjang itu membobol tempat sempit yang masih rapet, rasanya pasti sakit, Re!" Gerutu mama Revina.
"Suntikannya kan tumpul, Ma."
"Halah embuh, Re. Mas, segera nikahkan anak kamu ini. Lama-lama aku jadi pusing sendiri. Heran deh, kamu ini menuruni sifat siapa sih?!"
Menurun dari siapa ya?🤔