
Seketika Revina tersadar dari lamunannya. Dia gelagapan karena telah mengabaikan Bian.
"I-iya, Mas."
"Bagaimana? Kamu bersedia?"
"Iya, Mas. Aku bersedia menjadi istri kamu." Jawab Revina.
"Hhaah?"
Bian sempat terkejut dengan jawaban Revina. Apa maksudnya bersedia menjadi istri? Batin Bian. Dia benar-benar tidak mengerti maksud Revina.
"Apa maksudnya menjadi istri?" Tanya Bian.
Revina yang tersadar pun langsung gelagapan. Dia benar-benar sudah keceplosan. Revina bahkan tidak mendengar pertanyaan apa yang diajukan oleh Bian.
"Eh, ehm, a-anu itu tadi aku hanya sekilas lihat drama, Mas. Maaf." Kilah Revina. Beruntung bagi Revina saat itu dia tengah menyalakan laptop dan membuka drakor yang sejak kemarin malam ditontonnya secara marathon.
Setelah mendengar jawaban Revina, Bian hanya mengangguk-anggukkan kepala di seberang sana.
"Lalu, bagaimana? Apa kamu bersedia membantuku untuk berpura-pura menjadi calon istri?" Tanya Bian. Dia sudah menanyakan hal itu sejak tadi. Namun, Revina masih tidak memberikan responnya karena tengah asyik dengan pikirannya sendiri.
"Eh, berpura-pura?" Ulang Revina.
"Ehm, iya."
"Kenapa harus berpura-pura, Mas?" Tanya Revina.
Kali ini, Revina berpikir dengan cepat. Jika dia mendapat kesempatan untuk dekat dengan Bian, dia akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Bian benar-benar jatuh cinta kepadanya. Dan Revina akan mengambil kesempatan itu.
"Eh, maksudnya?" Tanya Bian bingung.
Revina menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bian. Dia harus menjelaskan maksudnya agar Bian tidak salah paham.
"Kenapa aku harus berpura-pura menjadi calon istri jika aku bisa menjadi calon istri beneran?" Kata Revina. "Jika mas Bian memberiku kesempatan, aku bisa pastikan mas Bian tidak akan pernah bisa berpaling dariku. Aku akan membuat mas Bian juga menyukaiku. Seperti yang mas Bian ketahui, aku memang menyukaimu, Mas." Lanjut Revina.
Biar saja aku dikatakan perempuan yang agresif dan tidak tahu malu. Apa salahnya mengungkapkan perasaan. Kami sama-sama belum memiliki pasangan. Aku hanya mengusahakan apa yang aku rasakan. Masalah nanti diterima atau tidak, itu bukan menjadi kewenanganku. Bagiku, yang penting aku sudah berusaha. Aku akan tetap mencoba, dari pada menyesal di kemudian hari. Batin Revina.
Keheningan tercipta selama beberapa saat setelah Revina mengatakan jika dia menyukai Bian. Revina hanya bisa menggigiti bibirnya bawahnya saat menunggu jawaban dari Bian.
"Ehm, apa kamu serius dengan ucapanmu?" Tanya Bian setelah beberapa saat terdiam.
"Tentu saja, Mas. Aku tidak pernah main-main untuk urusan hati." Jawab Revina.
"Baiklah. Aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan ucapanmu. Kita akan lihat nanti, apakah kamu benar-benar bisa membuatku jatuh hati kepadamu." Kata Bian.
"Hhhmmm."
"Terima kasih, Mas. Terima kasih telah memberiku kesempatan. Aku yakin tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk membuat kamu jatuh cinta kepadaku." Kata Revina dengan keyakinan penuh. Sepenuh rasa cintanya kepada mas Bian eeeaaa 😍
Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya pembicaraan via telepon tersebut berakhir. Malam itu, Revina benar-benar merasa sangat bahagia. Dia tidak jadi mengutuk Angga karena telah lalai memberikan flashdisknya kepada Bian. Revina justru berterima kasih untuk tindakan tidak sengaja yang dilakukan oleh Angga tersebut. Setelah cukup lama berangan-angan ria, akhirnya Revina tertidur dengan lelap.
Keesokan harinya, Revina membantu mama Fida untuk menyiapkan seluruh keperluan guna menyambut hari yang fitri esok hari.
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Revina beserta kedua orang tuanya pun menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita. Setelah melaksanakan sholat ied, Revina beserta kedua orang tuanya langsung berangkat menuju rumah kakek dan neneknya. Biasanya, mereka akan berada di sana hingga lebaran hari kedua atau ketiga, mengingat akan banyak saudara yang datang ke rumah kakek dan nenek Revina.
Namun, menjelang siang hari, Revina mendapat telepon dari Bian. Dia diminta untuk ikut ke Surabaya menemui kakek dan nenek Bian. Bian juga menelepon papa Reyhan dan mama Fida untuk menjelaskan kondisi yang sedang terjadi. Baik papa Reyhan dan mama Fida mengizinkan Revina untuk ikut ke Surabaya. Tentu saja papa Reyhan sudah memberikan ultimatum kepada Bian untuk menjaga Revina dan tidak akan macam-macam terhadap Revina. Papa Reyhan dan mama Fida akan segera menyusul ke Surabaya jika seluruh keluarga mereka sudah pulang.
…
Dan, disinilah sekarang Bian dan Revina berada. Mereka baru saja tiba di bandara Juanda. Revina terlihat berjalan terburu-buru menuju tempat parkir di bandara. Dia masih mengikuti kemana tangannya ditarik oleh seorang laki-laki.
"Kita mau kemana?" Tanya Revina saat dia sudah berhenti di depan sebuah mobil. Tangannya sudah terlepas dan sang laki-laki pun membukakan pintu mobil untuk Revina.
"KUA." Jawab Bian sekenanya.
Revina bukannya segera masuk ke dalam mobil, namun dia masih saja berdiri sambil menatap wajah Bian. Bibirnya mengerucut tanda tidak suka dengan guyonan Bian.
"Jangan bercanda deh, Mas. Mana ada KUA yang buka di hari lebaran seperti ini. Ngebet banget ingin segera menghalalkanku." Goda Revina.
"Memangnya barang ha*ram apa dihalalin. Sudah, ayo cepat naik. Kita harus segera ke rumah sakit." Kata Bian.
"Iya, iya."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf baru selesai ngetik, othor baru saja sampai rumah.