
Adrian yang sudah mulai merasakan bagian bawahnya baper, langsung buru-buru menangkap tangan Kinan yang sudah mulai merembet naik dan nyaris menyentuh lehernya yang terbuka karena dua kancing teratas kemejanya memang tidak dikancingkan.
Entah dapat insting dari mana atau memang Adrian yang kesenengan, Adrian langsung mengecup pucuk kepala Kinan dan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Kinan.
"As you wish, Honey." Adrian tersenyum sambil menatap lekat-lekat wajah Kinan.
Jantung Kinan langsung berdebar-debar. Kedua netra Kinan tak henti menatap senyuman Adrian. Ya, Tuhan. Ada makhluk semanis ini di depanku. Apa dia makan gula kebanyakan ya, kok manisnya kebanyakan hingga rasanya membuatku diabetes, batin Kinan.
Adrian masih menatap wajah Kinan sambil mengusap pipinya. Mereka masih tidak tersadar jika aktivitas keduanya, lagi-lagi bisa membuat baper orang lain yang melihat. Hingga sebuah deheman kembali terdengar.
"Eheemmm."
Kinan dan Adrian langsung tersadar. Mereka buru-buru bergeser sedikit menjauh. Ekspresi wajah keduanya masih terlihat merona. Namun, keduanya sama-sama masih berusaha mengontrol ekspresi.
"Eh, maaf. Kami terlalu terbawa suasana tadi," ucap Kinan merasa tidak enak saat menyadari aktivitas mereka menjadi tontonan gratis beberapa rekan dosennya.
Tatapan menelisik penuh tanya masih dilayangkan beberapa rekan Kinan. Mereka menatap Kinan dan Adrian dengan ekspresi penasaran.
"Apakah Anda Pak Adrian Hanggara?" tanya salah seorang tersebut.
Adrian langsung mengangguk dan sedikit melangkah maju untuk mengulurkan tangan ke arah mereka.
"Benar. Perkenalkan saya Adrian, calon suami Kinan."
Kinan bisa melihat dengan jelas ekspresi terkejut dari para rekan dosennya. Mereka berkali-kali menatap wajah Kinan dan Adrian bergantian.
"Ehm, apa kalian serius akan menikah?" tanya salah seorang rekan Kinan.
"Tentu saja. Kami mohon doa dari semuanya." Lagi-lagi Adrian yang menjawab. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Kinan.
"Ehm, bu-bukankah Anda baru berpisah dengan mantan istri Anda?"
Kening Adrian kembali berkerut. Dia bisa menebak akan dibawa kemana pertanyaan mereka nanti.
"Saya berpisah secara resmi dengan istri saya sudah satu tahun yang lalu. Bahkan, lebih tepatnya empat belas bulan yang lalu. Saya mengenal Kinan beberapa bulan ini. Jadi, tidak ada istilah orang ketiga dalam rumah tangga saya. Kinan bukan orang ketiga di rumah tangga saya." Adrian langsung menjelaskan dengan tegas.
Tampak sekali wajah-wajah terkejut dari beberapa orang tersebut. Hal yang sama sebenarnya juga dirasakan oleh Kinan. Tapi, dia berusaha mengulas senyuman untuk menyamarkan kegugupannya.
"Saya bukan pelakor ya, Ibu-ibu. Saya juga bukan penggoda suami orang. Jika Anda semua masih beranggapan saya menggoda suami orang, silahkan saja tetap mempercayai rumor yang beredar."
"Lagi pula, kalaupun benar saya menggoda suami orang, pasti saya juga pilih-pilih, Bu. Saya akan memilih yang hot dan macho. Ya kali saya memilih yang gemulai, hehehe." Kinan langsung terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Adrian yang mengerti maksud ucapan Kinan, langsung mendaratkan sebuah kecupan pada pucuk kepalanya. Ya, Kinan memang membicarakan Firdan, suami Miss Adhia. Laki-laki itu memang sedikit gemulai. Dari penampilannya, memang Firdan terlihat seperti laki-laki yang macho, tapi jika sudah berbicara, dia akan terlihat seperti, ah sudahlah.
Para rekan Kinan langsung kicep. Mereka bingung harus menjawab apa. Hingga beberapa saat setelahnya, Kinan segera menarik lengan Adrian untuk mengajaknya mengambil minum.
Tinggalkan jejak di setiap bab ya, terima kasih.