The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 83



Malam itu, mommy Fara benar-benar heboh sendiri setelah mendengar berita kehamilan anak kembar Shanum. Dia benar-benar merasa bahagia. Bahkan, mommy Fara langsung meminta Cello dan juga Shanum untuk pindah ke kamar di lantai satu malam itu juga.


"Mom, nggak perlu pindah malam ini juga, kan. Besok juga bisa. Barang-barangku dan Shanum juga belum dipindahkan semuanya kan," protes Cello saat melihat sang mommy memaksanya.


"Iya, Yang. Biar besok saja mereka pindah kamar. Lagipula, kamar bawah juga belum dirapikan. Kasihan Shanum juga nanti jika merasa tidak nyaman," kali ini daddy El ikut membujuk mommy Fara.


Setelah mendengar perkataan daddy El dan juga Cello, akhirnya mommy Fara mengizinkan keduanya sementara menempati kamar di lantai dua. Dia juga berpesan kepada asisten rumah tangga untuk langsung membereskan kamar yang ada di bawah keesokan harinya.


Cello dan Shanum merasa sangat lega mendengarnya. Malam itu, mereka semua tidur dengan perasaan bahagia. Tanpa disuarakan, isi pikiran mereka sama. Mereka semua berdoa dan berharap agar kehamilan Shanum berjalan lancar sampai hari melahirkan.


Keesokan harinya, Cello yang ditemani daddy El akan berangkat menuju kantor Zee. Sebenarnya, kemarin Cello sudah diminta untuk datang ke Empero, namun karena harus ke rumah sakit untuk mengantarkan Shanum, dia menunda rencananya tersebut.


"Kira-kira, apa om Dave sudah menyelesaikan semuanya, Dad?" Tanya Cello di tengah-tengah aktivitasnya mengendarai mobil.


"Jika dilihat dari dimana dia bekerja, daddy rasa dia pasti sudah menyelesaikannya. Kamu tahu sendiri, GC bukan perusahaan sembarangan yang merekrut orang sembarangan pula."


Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Memang benar apa yang dikatakan oleh daddy El. GC pasti tidak akan merekrut sembarang orang. Sudah pasti om Dave, yang merupakan orang kepercayaan daddynya om Zee, pasti bisa menyelesaikan hal itu dengan cepat, batin Cello.


Tak berapa lama kemudian, Daddy El dan juga Cello sudah tiba di kantor GC. Begitu memarkirkan kendaraannya, mereka segera berjalan menuju bagian resepsionis untuk menanyakan keberadaan Zee. Namun, belum sempat sang resepsionis menjawab, terlihat Zee tengah berjalan memasuki lobi bersama dengan sang istri, Kiara.


El yang melihat kedatangan sahabatnya tersebut langsung menoleh dan memanggilnya.


"Eh, kalian sudah datang?" Sapa Zee dan juga Kiara yang tengah berjalan mendekat.


"Ini baru sampai. Hallo, Kia. Apa kabar?" Sapa daddy El sambil berniat menjabat tangan istri sahabatnya tersebut.


Namun, saat Kiara hendak menjabat tangan El, buru-buru Zee langsung menarik tangannya dan menggeser tubuh sang istri hingga berada agak ke samping. Sontak saja semua orang yang ada di sana langsung melongo melihat tingkah Zee.


"Apa-apaan sih, Mas. Ngapain main tarik-tarik, ih." Protes Kiara sambil memelototkan kedua matanya kepada Zee.


Sontak saja jawaban Zee membuat mereka yang mendengarnya langsung melongo. Daddy El hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata, sifat posesif sahabatnya ini masih saja ada. Bahkan, terlihat sekali semakin parah.


"Astaga, Mas. Kamu ini sudah punya cucu masih saja cemburuan. Bisa-bisanya kamu berpikiran aneh-aneh. Nanti malam, aku mau tidur di tempat Gen. Awas saja jika kamu ngitilin aku!" Kata Kiara sambil melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga orang tersebut.


Sontak saja Zee semakin panik mendengar perkataan sang istri.


"Aduh, jangan gitu dong, Yang. Aku nggak mau, Yang. Sekarang musim penghujan nih, nanti cacing alaska mainnya dimana jika kamu ke tempat Gen." Rengek Zee sambil mengekori langkah kaki Kiara.


"Bodo amat. Main sama spongebob dan patrick sana."


"Iihh, ogah. Emoh, Yang. Mereka mainnya sama batu, aku nggak mau sama yang diem begitu, nggak asyik. Maunya sama yang berisik."


"Nyalakan alarm kebakaran biar ramai!"


Cello dan daddy El yang melihat perdebatan kedua orang tersebut hanya bisa melongo tak berkedip.


"Itu om Zee jika lagi sama tante Kiara kok beda banget ya, Dad. Seperti daddy dan mommy." Celetuk Cello.


"Eh, apa maksudnya seperti daddy?!"


"Ya, bucinnya nggak ketulungan!"


"Biarin. Bucin sama istri sendiri ini. Daripada bucinin istri orang."


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk othor, ya.