
Adrian langsung tersentak kaget setelah mendengar ucapan Kinan. Apa maksudnya itu tadi? Belah-belahan? Adrian langsung menoleh ke arah Kinan.
"Ehemm. A-apa maksudnya itu?"
Adrian tampak gugup. Kalau boleh jujur, dia belum siap dengan semua yang terjadi hari ini. Jangankan belah-belahan, menikah dengan Kinan saja rasanya masih seperti mimpi.
"Ya, tentu saja pelepasan status duda kamu, Mas. Aku tahu jika kamu penasaran juga, kan?" Kinan bahkan mengedipkan sebelah matanya ke arah Adrian sambil tersenyum.
Tentu saja Adrian semakin panik. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kinan akan menawarkan diri untuk, ah sudahlah.
Adrian menegakkan duduknya. Dia berdehem untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba nenyerang tubuhnya.
"Eheemmm. Nggak usah berpikiran terlalu jauh. Kita perlu menyesuaikan diri terlebih dahulu. Bukankah kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini, kan?"
Adrian menatap wajah Kinan dengan tatapan datarnya. Kalau boleh jujur, dia sebenarnya juga merasa gugup saat itu. Namun, tentu saja dia juga harus meyakinkan hatinya terlebih dahulu.
Bagi Adrian, pernikahannya kali ini tidak ingin dibuat main-main. Sudah cukup dia mengalami kegagalan pada pernikahan sebelumnya. Dan untuk pernikahan keduanya ini, Adrian ingin berlangsung selamanya hingga maut memisahkan.
Kinan yang mendengar ucapan Adrian, langsung mengerutkan kening. Dia cukup kaget saat mendengar ucapan Adrian tadi. Kinan tidak menyangka jika Adrian akan mengucapkan hal seperti itu.
Sedikit merasa tersinggung, namun Kinan tetap berusaha menampilkan ekspresi biasa meski hatinya terasa sedikit sakit. Secara tidak langsung, Adrian telah menolaknya pada malam pertama setelah pernikahan mereka.
Eits, jangan salah dulu. Mungkin jika orang lain akan bersedih dan menangis saat mendapati penolakan dari suaminya. Namun, hal itu tidak akan terjadi dengan Kinan.
Dengan masih menyunggingkan senyuman hangat, Kinan menatap ke arah Adrian sambil menyahuti ucapannya.
"Nggak apa-apa. Kita punya waktu seumur hidup untuk menyesuaikan diri. Tidak seperti mengajar yang harus membutuhkan RPP dan melakukan semua aktivitas sesuai yang tercantum di dalamnya, namun kita tidak membutuhkannya dalam menjalani pernikahan ini."
"Aku tidak masalah jika kamu menginginkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri, Mas. Tapi, aku tidak bisa menjamin jika kamu akan menolak lebih lama sentuhan, pijatan, gigitan, luumatan, bahkan jepitanku." Kinan menjawab sambil mengerling nakal ke arah Adrian. Jangan lupakan gerakan tangannya yang seolah sengaja menunjukkan si kembar gemoy dan menggerakkan tubuhnya.
Adrian terasa sesak napas melihat tingkah sang istri. Kedua bola matanya hampir keluar saat melihat si kembar gemoy yang tampak, ah sudahlah.
Kinan yang melihat sang suami telah sedikit terprovokasi, dia segera beranjak berdiri. Jangan lupakan gerakan mengibaskan rambut ala-ala iklan shampo yang dilakukan oleh Kinan saat berdiri.
"Aku ke kamar dulu. Jangan lama-lama. Segeralah istirahat, Mas," ucap Kinan sambil beranjak berdiri.
"Hhhmmm."
Adrian henya bisa menjawab dengan deheman. Sementara kedua matanya, tak lepas memperhatikan gerakan tubuh Kinan saat berjalan menuju kamar. Bahkan, Adrian masih sempat menahan napas saat merasakan desiran aneh pada tububnya. Dan, tentu saja desiran itu langsung turun dan berpusat pada 'kail jumbo' Adrian.
Adrian menatap ke bagian bawah tubuhnya. Dia langsung meraup wajahnya dengan kasar saat melihat si kail sudah bereaksi.
"Astaga! Kenapa cepat sekali bereaksi. Apa dia sudah tidak sabar mau bertemu pawangnya?"
\=\=\=
Kira-kira apa yang akan terjadi di malam itu ya?
Ada yang bisa menebak?
🤭🤭