
Beberapa saat kemudian, cello dan daddy El langsung berjalan mengikuti Zee dan juga sang istri menuju ruangannya. Mereka memang sudah ditunggu oleh Dave yang menunggu di ruangan Zee.
Setelah berhasil membujuk sang istri, kini Zee sudah ikut bergabung dengan Cello dan yang lainnya. Mereka duduk di depan sebuah komputer yang sedang menyala, dimana Dave terlihat mengotak-atiknya.
"Sudah beres semua, Dave?" Tanya Zee saat mendekat ke arah Cello dan juga yang lainnya.
"Sudah, Pak. Saya sudah berhasil meretas semua data berdasarkan informasi yang Anda berikan. Anda bisa melihat video ini," kata Dave sambil menekan tombol play untuk sebuah video yang baru saja dibukanya.
Ketiga pasang mata yang lainnya langsung membulat dengan sempurna saat melihat Danisha tengah melakukan pembicaraan dengan seseorang di sebuah cafe tak jauh dari kampus. Kenapa Dave bisa mengetahui hal itu? Kebetulan sekali cafe tersebut adalah milik mamanya Zee, Retta.
"Ini kan cafe Mama, Dave?" Tanya Zee sedikit terkejut.
"Benar, Pak. Itulah mengapa saya mudah mendapatkan informasi tersebut. Saya juga sudah merekam semua percakapan yang mereka lakukan saat berada di cafe tersebut."
Ketiga orang tersebut hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka bisa melihat dan mendengar dengan jelas jika Danisha meminta dan membayar laki-laki tersebut untuk mengedit video percakapannya dengan Cello.
Cello yang melihat hal itu, langsung menoleh ke arah daddynya.
"Apa yang harus kita lakukan, Dad?"
"Tentu saja kita harus mengusut tuntas masalah ini. Jangan sampai perempuan itu berbuat semakin jauh lagi. Bisa-bisa dia nanti semakin nekat dan akan menjebak kamu."
"Menjebak? Maksudnya?" Cello mengerutkan keningnya setelah mendengar perkataan sang daddy.
"Tentu saja dia bisa melakukan hal-hal di luar perkiraan kita. Jika dia bisa nekat menyebar video seperti itu, kemungkinan besar dia juga bisa mengaku-ngaku jika sedang mengandung anak kamu. Kamu mau jika sampai itu terjadi?"
"Aaiisshh, amit-amit. Nggak mau lah, Dad. Enak saja," gerutu Cello.
"Maka dari itu, kita harus benar-benar membuatnya jera dan nggak bakal berani mengusik kamu lagi."
"Caranya bagaimana, Dad?"
Belum sempat daddy El menjawab pertanyaan Cello, terdengar Zee sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Tunggu El, gue ada ide. Kita bisa sekalian membuatnya tak berkutik dan akan menyesali perbuatannya."
"Apa itu, Zee?"
"Sebentar. Gue harus menelepon papa dulu."
"Eh, om Vanno?"
Tak berapa lama kemudian, Zee sudah terlibat percakapan dengan sang papa. Sementara ketiga orang tersebut hanya bisa memperhatikan apa yang disampaikan oleh Zee.
Beberapa saat kemudian, Zee terlihat sudah menutup panggilan teleponnya. Wajahnya tampak bahagia dengan senyum tersemat pada bibirnya.
"Kenapa senyum-senyum begitu? Menggelikan," gerutu El.
"Dasar lo, El. Orang bahagia yang senyum dong. Emangnya Elo, bahagia atau nggak cemberut aja. Gue sampai heran, kok bisa sih Fara bertahan sama lo yang dingin plus jutek begini," kata Zee sambil menatap ke arah sang sahabat.
"Biarin dingin diluar, tapi panas di ranjang."
Ketiga orang yang mendengar jawaban daddy El hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah absurd kedua sahabat tersebut.
Hari itu, Zee menjelaskan rencananya untuk membuat Danisha jera sekaligus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Zee juga sudah menghubungi papanya yang saat itu tengah berada di Bandung untuk menghadiri pembukaan yayasan terbaru milik GC.
Papa Vanno berjanji akan membantunya. Dia akan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Selama menunggu kedatangannya, Zee meminta El dan juga Cello untuk tidak menanggapi apapun jika ada yang bertanya atau meminta penjelasan. Dia tidak mau jika masalah itu akan semakin membesar.
Ketika sedang berdiskusi, tiba-tiba ponsel daddy El berbunyi. Terlihat nama mommy Fara di layar ponselnya. Daddy El segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, Yang. Ada ap…," belum selesai dadsy El bertanya, terdengar suara mommy Fara dari seberang sana.
"Mas! Kemana saja sih kalian?! Ini ponsel Cello kok nggak bisa dihubungi?"
"Eh, ponsel Cello tertinggal di mobil, Yang. Ada apa?"
"Suruh dia cepat pulang. Shanum nangis terus ini."
"Eh, Shanum menangis? Ada apa?"
Seketika El langsung beranjak berdiri. Dia ngeloyor pergi dari sana sambil berpamitan kepada Zee dan juga Dave.
Zee dan juga Dave yang melihat hal itu hanya bisa membulatkan kedua matanya.
"Kenapa anak lo?" Tanya Zee.
"Istrinya ngidam,"
"Wuuaaahhh, ngidam enak ini pastinya,"
Tinggalkan jejak untuk othor ya. Terima kasih.