
Sambil menyantap makan malamnya, Dena mulai menceritakan kisah perjalanan Kinan yang harus menikah dadakan dengan suaminya yang ternyata seorang duda tersebut.
Setelah ini, cerita Kinan ya. Anggap saja Dena sedang menceritakan cerita Kinan dengan memposisikan dirinya sebagai Kinan.
Kinan Series.
Hujan yang mengguyur kota Jakarta sejak siang, membuat Kinan harus menunda kepulangannya dari kampus hari itu hingga menjelang sore. Sejak Dena cuti dari kampus, Kinan merasa tidak punya orang yang bisa diajaknya bercerita. Hal itu bukan berarti dia tidak punya teman di kampus. Namun, hanya saja Kinan merasa tidak nyaman jika membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi dengan orang yang tidak mengenal dekat dirinya.
Suasana hati Kinan juga mendadak buruk setelah mendapat telepon dari sang ibu siang tadi. Apalagi jika bukan masalah perjodohan. Ibu Kinan benar-benar suka sekali menjodohkannya dengan anak-anak sahabatnya yang masih lajang. Tentu saja hal itu langsung ditolak oleh Kinan.
Menjelang petang, hujan yang turun tak kunjung reda. Mau tidak mau, Kinan terpaksa pulang meski dengan resiko terjebak banjir di daerah tak jauh dari tempat tinggalnya. Ya, Kinan memang tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang terletak di sebuah perumahan. Dia memutuskan pindah dari tempat tinggalnya yang lama karena merasa tidak nyaman.
Dengan mengendarai mobilnya, Kinan terpaksa menerobos hujan yang masih mengguyur dengan derasnya sore itu. Ketika sudah mendekati minimarket yang terletak tak jauh dari kampusnya. Kinan memutuskan untuk mampir ke minimarket karena di rumahnya memang sudah kehabisan bahan makanan.
Dengan sedikit menerobos hujan, Kinan berlari-lari kecil dari mobilnya menuju minimarket tersebut. Setelah memasuki minimarket, Kinan segera mengambil keranjang dan mulai mengambil barang-barang kebutuhannya.
Hampir setengah jam Kinan berada di minimarket tersebut untuk membeli barang-barang yang dibutuhkannya. Setelah selesai, dia segera membawa barang belanjaannya menuju kasir dan membayarnya.
Suara adzan maghrib mulai terdengar di segala penjuru masjid begitu Kinan keluar dari minimarket tersebut. Dengan sedikit berlari, Kinan menerobos hujan kembali menuju mobil.
Setelah berhasil masuk ke dalam mobil dan meletakkan barang belanjaannya di jok belakang, Kinan bergegas menyalakan mobil dan segera menjalankannya.
Berhubung saat itu hujan masih cukup deras, pandangan mata Kinan juga terbatas. Mungkin karena hujan dan tempat parkir minimarket tersebut juga sedikit miring, membuat konsentrasi Kinan sedikit tidak fokus. Dia memundurkan kendaraannya tanpa memperhatikan posisi jalanan di belakangnya.
Suasana mendadak kacau petang itu. Namun, beruntung tidak ada luka yang cukup parah. Baik Kinan maupun pengendara mobil yang sudah menabraknya, tidak mengalami luka yang berarti. Mereka sama-sama memakai seatbelt saat itu. Hanya saja, bagian belakang mobil Kinan dan bagian depan mobil pengendara tersebut tidak dapat terselamatkan.
Kinan dan sang pengendara mobil tersebut keluar dari mobil bersama-sama. Meskipun dalam keadaan hujan, keduanya tetap basah-basahan untuk melihat keadaan mobil mereka.
Kinan cukup terkejut saat melihat bagian belakang mobilnya sudah ringsek. Hal yang sama juga dirasakan oleh si pengendara mobil yang sudah menabrak mobil Kinan.
Merasa kesal, Kinan pun segera berjalan menghampiri pengendara mobil tersebut.
"Om, bagaimana ini? Mobilku ringsek gara-gara Om!" ucap Kinan saat sudah berada di depan pengendara mobil yang menabraknya.
Laki-laki tersebut memicingkan kedua matanya di tengah-tengah derasnya hujan sambil menatap wajah Kinan yang sudah basah kuyup karena hujan.
"Seharusnya aku yang bertanya. Jika kamu tidak mundur sembarangan, aku tidak akan mungkin mengalami hal seperti ini."
"Cckkk, enak saja! Siapa juga yang mundur sembarangan. Tuh lihat, tempat parkirnya miring. Disitu juga ada pembatas, Om yang jalannya terlalu kepinggir," ucap Kinan tidak terima.
Belum sempat laki-laki itu menjawab ucapan Kinan, terdengar sebuah suara menginterupsi perdebatan mereka.
\=\=\=
Cerita Kinan nyempil di sini sedikit ya. 🤗