
Aktivitas yang hendak dilakukan tersebut langsung ambyar saat Shanum berteriak kesakitan. Entah mengapa Cello menjadi bersemangat seperti itu. Hingga dia tidak menyadari jika tangannya sudah melakukan hal yang, ah sudahlah.
Shanum yang baru saja kembali dari ruang ganti langsung berjalan menuju tempat tidur. Dilihatnya Cello sudah menunggunya di sana dengan bibir mengerucutnya.
"Kenapa sih, Mas?" Tanya Shanum sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Masih tanya kenapa? Nggak nyadar apa tadi gagal icip-icip," gerutu Cello.
Shanum langsung mengerucutkan bibirnya. Dia menatap wajah Cello dengan wajah sedikit ditekuk.
"Lagian kamu aneh-aneh deh, Mas. Ngapain juga tangan usil banget sih. Ini ku jadi sakit, Mas. Merah-merah gini."
"Maaf, aku nggak nyadar aku tadi. Lagipula, ngapain mau tidur masih pakai kacamata. Nggak engap itu? Coba lihat mana yang merah-merah?" Tanya Cello sambil menatap bagian depan dada Shanum.
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar pertanyaan Cello
"Modus ih. Aku kan masih malu, Mas." Jawab Shanum sambil menundukkan kepalanya. Dia memang masih belum bisa terbuka kepada Cello.
"Mana ada modus sama istri sendiri. Lagi pula, cepat atau lambat kita memang harus memulainya, kan. Kita tidak akan bisa memulai apapun itu jika kita tidak saling terbuka." Kata Cello. Dia berusaha untuk membuat istrinya itu tidak canggung lagi terhadapnya.
Namun, perkataan Cello justru ditanggapi lain oleh Shanum. Dia mengernyitkan keningnya menatap wajah Cello sebelum menggeser tubuhnya sedikit. Pelan-pelan, Shanum menggerakkan tangannya untuk membuka kancing baju tidurnya. Cello yang melihat tingkah Shanum langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya. Entah mengapa dia mendadak panas dingin.
"Ma-mau apa, kamu?" Tanya Cello sambil tak berkedip saat melihat tiga kancing teratas baju tidur Shanum sudah terbuka hingga menampilkan sesuatu yang berada di dalamnya.
"Eh, tadi kata mas Cello harus saling terbuka, kan?"
Cello menepuk keningnya saat mendengar jawaban Shanum. Dia mengatur napasnya yang sudah terasa ngos-ngosan sebelum menjawab perkataan Shanum.
"Maksudku bukan terbuka seperti ini. Terbuka untuk apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita harapkan." Jawab Cello.
Setelah mendengarkan jawaban Cello, Shanum menunduk dan mendapati bagian atas baju tidurnya sudah hampir terbuka dan memperlihatkan isi di dalamnya.
"Maaf, Mas. Tadi aku kira terbuka untuk yang ini. Jadi, aku tutup lagi, ya." Kata Shanum sambil mencoba mengancingkan kembali kancing baju tidurnya tersebut.
"Eh, jangan!" Kata Cello hampir berteriak.
Shanum yang terkejut karena teriakan Cello langsung terlonjak kaget.
Cello menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara kedua matanya, tak berpindah sedikitpun dari bagian depan tubuh Shanum.
"Jika sudah terbuka seperti itu, biarkan saja. Hitung-hitung belajar untuk membiasakan diri. Lagipula, aku kan juga belum terlalu lama kenalan dengan itu. Siapa tahu, jika sudah saling kenal, akan tumbuh rasa suka nanti." Jawab Cello sambil tersenyum nyengir.
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Cello.
"Dingin, Mas. Aku lepas kacamatanya saja ya."
"Yaahh, nggak bisa lihat dong." Keluh Cello dengan wajah ditekuknya.
"Nggak bisa lihat tapi bisa merasakan, kan." Jawab Shanum sambil mulai melepas kacamata hitam tersebut.
Seketika wajah Cello terlihat berbinar bahagia mendengar perkataan Shanum. Dia merasa sudah tidak sabar lagi ingin segera melakukan apa yang sudah ada di dalam otaknya.
"Aku nggak mau merasakan dengan tangan." Kata Cello setelah melihat Shanum sudah menyelesaikan aktivitasnya.
"Hhhaah? Lalu bagaimana?"
"Dengan mulut dong." Jawab Cello sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
Shanum yang melihat hal itu menjadi geli. Tengkuk dan tangannya langsung meremang. Dia sudah membayangkan bibir Cello yang akan nemplok di, ah sudahlah.
Cello yang melihat Shanum masih diam tak bergerak, langsung menubruknya hingga mereka sudah saling tindih di atas tempat tidur. Cello benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk berkenalan bibir.
"Jangan banyak bergerak. Diam dan nikmati saja apa yang akan aku lakukan. Lihat dengan jelas siapa aku. Jika kamu masih ragu, jangan menutup kedua mata kamu dan perhatikan apa yang akan aku lakukan." Kata Cello sambil menatap dalam ke arah kedua mata Shanum.
Melihat kesungguhan Cello, Shanum langsung mengangguk mengiyakan. Dia sudah pasrah mau diapakan oleh Cello. Eh, memang mau diapakan?
Tak perlu menunggu lebih lama lagi, bibir Cello sudah langsung bersilaturahmi ke kedua benda yang membuat ketagihan para bayi beserta bapaknya itu. Shanum langsung berteriak tertahan sambil mencengkram bahu Cello dengan kuat.
"Aaahhh, lidahmu, Mas. Aahhh nak aahh kaaalll."
•••
Besok dihukum saja jika lidah Cello masih nakal 🙄