
"Kamu?!" Cello benar-benar terkejut saat bertemu dengan orang yang sering membuatnya darah tinggi.
"Iya, memang kenapa jika ini aku? Mau marah?"
Seketika Cello langsung membuang napasnya dengan kasar. Kedua tangannya ikut terkepal untuk meredakan emosinya. Cello menatap sekeliling dan mendapati dirinya tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana. Cello buru-buru mengambil ponselnya dan segera berjalan berniat meninggalkan orang tersebut.
"Dasar cewek jadi-jadian. Cewek kok nggak ada anggun-anggunnya. Bar-bar sekali." Gerutu Cello.
Namun naas, perkataan Cello tersebut bisa didengar oleh perempuan yang yang tadi secara tak sengaja menabraknya. Dia adalah Shanum Aura Atmaja. Putri pertama Revina dan Bian. Sekaligus gadis yang akan dijodohkan dengan Cello.
Shanum berjalan cepat untuk mengikuti Cello. Dia terlihat kesusahan mengejar langkah kaki Cello yang berjalan sangat cepat. Apalagi postur tubuh Cello yang tinggi membuatnya melangkah dengan langkah kaki yang cukup lebar. Sementara Shanum harus kesusahan mengejarnya ditengah-tengah padatnya bandara saat itu.
"Hheehh, apa maksud kamu dengan cewek jadi-jadian? Jangan seenaknya kalau ngomong." Kata Shanum yang saat itu sudah berada di belakang Cello.
Cello hanya melirik Shanum sekilas sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya. Dia benar-benar tidak peduli dengan gadis yang ada di belakangnya tersebut. Jangankan menjawab perkataan Shanum, Cello bahkan terlihat enggan memperlambat langkah kakinya.
Shanum yang tidak mendapatkan respon dari Cello benar-benar merasa kesal. Dia berjalan semakin cepat hingga benar-benar berada tepat di belakang tubuh Cello. Tanpa aba-aba, Shanum langsung melompat ke arah punggung Cello.
Bruk!
Ya, kini Shanum sudah naik ke belakang tubuh Cello dan mencengkeram erat lehernya. Cello yang mendapat serangan tiba-tiba dari Shanum sedikit terhuyung ke depan. Namun, dia tidak sampai hati menjatuhkan tubuh gadis yang sudah bergelantungan di punggungnya.
"Hheeeh, apa-apaan ini. Turun cepat!" Kata Cello sambil menggerak-gerakkan tubuhnya bermaksud untuk membuat Shanum turun dari gendongannya.
Bukannya turun dari punggung Cello, Shanum justru semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada leher Cello.
"Hheehh, mana ada perempuan tulen tapi tingkah laku bar-bar seperti ini. Yang ada perempuan itu lemah lembut, anggun dan kalem. Lha ini, bar-bar sekali. Aku jadi kasihan nanti yang jadi suami kamu." Sahut Cello.
"Ccckkk, kamu lupa atau hilang ingatan. Kamu nanti yang akan jadi suamiku." Balas Shanum.
Seketika Cello berhenti dan mencerna perkataan Shanum.
Iya juga, ya. Aku kan memang sudah dijodohkan dengan gadis bar-bar ini. Ccckk, bagaimana nasibku nanti. Batin Cello.
Belum sempat Cello membalas perkataan Shanum, terdengar suara menyapa mereka.
"Astaga, ini anak dua sudah main gendong-gendongan saja padahal di tempat umum. Apa jadinya jika ditempat sepi? Mau main kuda-kudaan?!"
Seketika Cello dan Shanum menoleh ke arah sumber suara. Kedua pasang bola mata mereka langsung membulat saat melihat siapa orang yang menghampiri mereka.
"Eh, O-opa?" Kata Cello gelagapan. Dia merasa tidak enak saat melihat opa, oma dan juga Fida beserta Reyhan, kakek dan nenek Shanum berada di sana dan melihat adegan yang baru saja terjadi.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Shanum. Saking terkejutnya, dia bukannya turun dari punggung Cello, namun justru mengeratkan pelukannya pada leher Cello. Melihat tingkah sang cucu, Fida langsung berdehem dan menatap tajam ke arah cucunya.
"Oh, jadi begini yang dinamakan menolak perjodohan itu? Dengan nempel seperti tas ransel di punggung begitu? Nggak takut itu jeruk balinya kejepit?"
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, klik like, komen dan vote. Terima kasih.