
Dena hanya bisa melongo setelah mendengar perkataan Rean. Bisa-bisanya si bocah ini mengatakan hal seperti itu. Apa dikiranya aku mau menawarkan tubuh kepadanya? Batin Dena.
"Apa-apaan itu maksudnya? Apa kamu kira aku seperti perempuan diluar sana yang suka menawarkan tubuhnya?" Ketus Dena.
Rean hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia hanya bisa tersenyum nyengir saat menyadari dia salah ngomong. "Hehehe, maksudnya bukan begitu, Miss. Tapi, nanti jika kita sudah menikah, tidak ada salahnya melakukan hal itu, kan? Dapat pahala lho, Miss." Rean masih menatap Dena dengan wajah jahilnya.
Lagi-lagi Dena hanya bisa menghembuskan napas berat mendengar perkataan Rean. Sudah dipastikan dia akan sering mendengar perkataan absurd Rean setelah menikah nanti.
"Jangan terlalu berharap. Walaupun kita menikah nanti, kita tidak akan seperti pasangan suami istri umumnya," ucap Dena sambil menatap tajam ke arah Rean.
Rean pun mengernyitkan kening. Dia bingung dengan apa yang dikatakan oleh Dena. "Maksudnya bagaimana, Miss?"
Sebelum mulai menjelaskan, Dena menarik napas dalam-dalam. Dia harus mengatur emosi dan nada suaranya agar tidak gugup saat menyampaikan maksudnya tersebut.
"Sebelum kita melanjutkan rencana perjodohan ini, aku ingin menyampaikan sesuatu. Perlu kamu ketahui, aku menerima rencana pernikahan ini hanya karena orang tuaku. Tidak ada sedikitpun alasan aku melakukannya selain karena orang tua."
"Tentu kamu sudah bisa menduga, jika aku bukan perempuan yang bisa dengan mudah menerima kehadiran seseorang. Apalagi, jika orang tersebut adalah mahasiswaku sendiri yang berusia jauh di bawahku. Bukan aku tidak menerima kehadiranmu, Re. Tapi, aku merasa belum siap membuka hatiku. Butuh waktu bagiku untuk menerima orang baru di kehidupanku. Apalagi, kita baru saling mengenal."
"Untuk pernikahan, bukan aku menolak atau tidak menerima. Tidak, tidak seperti itu. Aku tetap menerima pernikahan ini. Orang tuaku sudah memilih kamu sebagai calon suamiku, dan aku percaya jika pilihan mereka tidak akan salah. Aku juga menginginkan pernikahan sekali seumur hidup."
"Namun, aku belum bisa melakukan kewajiban seperti seorang istri pada umumnya. Setidaknya, sampai kamu lulus kuliah. Untuk yang lainnya, aku berjanji akan tetap menjalankan kewajibanku. Untuk itu, aku mohon pengertianmu, Re. Itupun jika kamu bisa menerima apa yang aku katakan," ucap Dena panjang lebar.
Bagaimana mungkin Dena meminta dia untuk bersikap biasa-biasa saja selama sekitar tiga setengah tahun lagi? Bukankah jika mereka sudah menikah, berarti mereka harus saling menerima, saling mengisi dan saling berbagi? Lalu, apa ini? Batin Rean.
Rean mengepalkan kedua tangannya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk meredam emosinya. Kedua matanya terasa panas saat berusaha mengendalikan emosi. Napasnya juga terasa memburu.
Beberapa saat kemudian, Rean sudah bisa mengendalikan emosinya. Dia juga sudah bisa mengatur deru napasnya yang memburu. Rean berusaha tersenyum saat menatap ke arah Dena.
Baiklah jika itu mau kamu. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Bagiku juga sama. Aku juga menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Jika kamu menginginkanku untuk menjaga jarak, aku akan pastikan, kamu sendiri yang akan mendekat kepadaku, batin Rean.
"Baiklah. Aku setuju, Miss." Rean masih menatap Dena dengan senyuman lebarnya.
"Se-serius?" Dena bahkan cukup terkejut saat mendengar jawaban Rean. Dia terkejut jika Rean langsung menyetujui permintaannya.
"Tentu saja, Miss. Tapi, aku juga punya syarat. Jika aku menyetujui rencana Anda, aku tidak mau kita tinggal terpisah. Dan, aku juga tidak mau ada surat-surat perjanjian bermaterai atau apalah itu namanya. Aku tetap ingin pernikahan kita sah secara hukum dan agama. Bagaimana?"
\=\=\=
Kira-kira, jawaban miss Dena bagaimana ya? 🤔