The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Obrolan



Ketika Vanya hendak memindahkan mie instan ke dalam mangkuk, terdengar suara ketukan pintu. Vanya segera beranjak membukakan pintu yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


Ceklek. 


Pintu terbuka. Terdengar suara gerimis hujan turun mengenai atap kos-kosannya. Vanya melihat Kenzo sedikit basah. Air hujan terlihat menetes dari ujung rambutnya. Kemeja putih yang kedua lengannya sudah di gulung asal hingga siku itu terlihat cukup basah. Hingga hampir tercetak jelas bentuk tubuh yang berada di dalamnya. Vanya masih diam mematung tanpa kedip memandang Kenzo


Kenzo mendengus kesal ketika Vanya masih diam saja tanpa mempersilahkan dia masuk. "Apa kamu akan tetap berdiri didepan pintu dan tidak menyuruhku masuk?" Tanya Kenzo sambil merengut. Seketika Vanya tersadar dan segera menggeser tubuhnya agar Kenzo bisa masuk. 


Kenzo segera mendudukkan diri di sebuah kursi di samping meja yang berada di dekat pintu. Kursi itu yang semula akan diduduki Vanya. Melihat Kenzo yang agak basah, Vanya segera mengambilkan handuk bersih dan memberikannya pada Kenzo. Kenzo segera menerimanya dan mengeringkan rambutnya yang basah.


Sementara Vanya segera menyiapkan mie instan dan segera memberikannya kepada Kenzo saat masih panas.


"Maaf hanya ada mie instan, Mas" kata Vanya sambil meletakkan mie dan teh hangat untuk Kenzo. Dia juga segera mengambil mie instan miliknya yang sudah mulai dingin untuk dibawanya duduk di atas kasur.


"Tidak apa-apa. Aku juga sudah lama tidak makan mie instan," jawab Kenzo sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


Mereka makan dalam diam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing. Setelah selesai, Vanya segera membereskan mangkuk dan gelas bekas makan mie tadi. Vanya juga memberikan segelas air putih untuk Kenzo. Setelah beres, Vanya kembali duduk di atas kasur menunggu Kenzo selesai mengutak atik ponselnya.


Beberapa saat kemudian, Kenzo terlihat selesai dan meletakkan ponselnya di atas meja. Matanya beralih menatap Vanya.


"Ada yang ingin aku omongin," kata Kenzo memulai pembicaraan.


"Ada apa?" Tanya Vanya was-was sambil mengerutkan dahinya. Dia sedikit khawatir jika Kenzo berubah pikiran untuk membatalkan rencana pernikahan yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Bukan apa-apa, Vanya merasa tidak sampai hati menyakiti perasaan orang tuanya jika sampai acara pernikahan itu dibatalkan. 


"Eheemmm," Kenzo berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya. "Kita sebentar lagi akan menikah. Seperti kita ketahui bahwa kita belum saling mengenal. Bahkan bisa dikatakan 'tidak saling mengenal'. Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Mungkin, kamu juga merasakan hal yang sama," kata Kenzo berhenti sejenak untuk meneguk air putih yang ada di depannya.


Vanya yang terlihat semakin cemas pun merasa semakin khawatir. Dia terlihat mengerutkan dahinya. "Lalu?" tanya Vanya tidak sabar.


Kenzo kembali meletakkan gelas setelah meminum airnya hingga tandas.


"Aku tahu ini semua tidak seperti yang kita harapkan, terlebih harapan kamu. Aku tahu usiamu masih sangat muda. Masih perlu mengeksplore potensi diri. Masih perlu mencari banyak pengalaman di luar sana," kata Kenzo terputus sambil menatap mata Vanya dengan tatapan serius. Sementara Vanya yang ditatap demikian merasa tambah khawatir.


"Sebenarnya apa sih yang mau kamu omongin Mas?" tanya Vanya geram. "Kamu ingin membatalkan rencana pernikahan ini?" lanjut Vanya to the point.


Kenzo tersentak mendengar pertanyaan Vanya. "Kenapa kamu berpikir begitu?" Tanya Kenzo.


Vanya mengerucutkan bibirnya. "Habisnya dari tadi ngomongnya muter-muter terus seperti benang ruwet," gerutu Vanya. Sementara Kenzo mendengus kesal mendengarnya.


"Bukan begitu. Aku cuma ingin memulai pernikahan ini secara baik-baik," kata Kenzo. "Setelah kemarin ibu kamu menjelaskan panjang lebar mengenai pernikahan, aku tersadar. Memang benar apa yang dikatakan ibu. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tapi juga dua keluarga. Pernikahan juga bukan hanya berjanji di hadapan orang tua dan kerabat, tapi juga janji di hadapan Tuhan. Pernikahan tidak bisa di anggap main-main,"


Vanya masih cengo mendengarkan penjelasan Kenzo. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kenzo yang cukup irit bicara dan selalu ketus itu akan bisa ngomong panjang lebar seperti itu. Melihat Vanya yang masih tidak merespon, Kenzo menyenggol lengan Vanya yang segera menyadarkan si empunya.


"Ah, i-iya. Ak-aku juga akan berusaha," jawab Vanya seketika. Meski dia bingung apa maksud perkataannya sendiri. Kenzo tersenyum tipis mendengar jawaban Vanya. 


"Jadi, maukah kamu menjalani pernikahan ini denganku?" tanya Kenzo.


Mendengar pertanyaan Kenzo seketika Vanya mengerucutkan bibirnya. "Pertanyaan macam apa itu?, Sudah jelas aku akan menikah denganmu Mas, kenapa masih ditanyakan lagi," Kata Vanya.


Kenzo tersenyum tipis sebelum menjawabnya. "Bukan begitu, maksudku apa kamu bersedia menjalani pernikahan ini denganku sampai nanti meski saat ini belum ada rasa cinta diantara kita?" 


Vanya menatap ke dalam mata Kenzo yang juga tengah menatapnya. Entah mengapa hatinya merasa yakin dengan laki-laki yang ada di depannya saat ini. Vanya mengangguk mengiyakan.


"Iya Mas, insyaAllah aku bersedia," jawab Vanya.


Seketika senyum lebar terulas dari bibir Kenzo." Meskipun pernikahan ini berawal dari ketidaksengajaan, aku berharap segala sesuatu yang terjadi setelah pernikahan kita akan terjadi dengan penuh kesengajaan," kata Kenzo sambil masih mengulas senyumnya.


Vanya yang mendengar perkataan Kenzo langsung membulatkan matanya. "Sengaja apa maksudnya?" Tanya Vanya dengan intonasi sedikit tinggi.


Sementara Kenzo yang melihat Vanya sedikit gusar malah semakin tersenyum. Hal itu justru membuat Vanya memikirkan hal yang iya-iya.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ka, like, comment, dan vote.


Biar authornya berasa ada temennya


Thank you 🤗🤗