The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 148



Malam itu, Cello sampai di rumah menjelang pukul sebelas malam. Dia langsung beranjak menuju kamar tidurnya. Cello melihat Shanum sedang menyusui Dryn yang terbangun. Shanum yang mendengar pintu kamarnya terbuka langsung menoleh.


"Baru pulang, Mas?"


"Iya. Dia bangun?" tanya Cello sambil beranjak mendekati tempat tidur.


"Iya. Gantian sama si kakak tadi. Sana, bersih-bersih dulu. Jangan dekat-dekat anak kamu, Mas."


"Iya, iya. Ini mau bersih-bersih dulu," jawab Cello sambil beranjak menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Shanum segera memindahkan Dryn ke dalam box bayinya. Bayi tersebut sudah kembali terlelap saat merasakan perutnya sudah kenyang.


Setelah itu, Shanum segera mengambilkan baju ganti untuk sang suami. Dia menyiapkan baju ganti tersebut dan meletakkannya di dekat pintu kamar mandi.


Shanum segera beranjak menuju tempat tidur untuk merebahkan diri. Tubuhnya benar-benar terasa sangat letih. Maklum saja, dia baru merasakan aktivitas baru dengan berkuliah. Tubuhnya masih beradaptasi dengan jadwal yang sudah mulai memadat.


Tak perlu waktu yang lama bagi Shanum untuk segera terlelap. Namun, dia kembali membuka kedua bola matanya saat merasakan ada gerakan di samping kiri. Shanum melihat sang suami sudah berada di sana dan tengah tersenyum hangat sambil menatapnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Shanum sambil bergerak mendekati sang suami. Dia kembali berusaha memejamkan kedua bola matanya.


"Yang, hari ini kita kan sudah beraktivitas lumayan banyak. Apa kamu nggak mau sedikit berolahraga lagi untuk membakar kalori?"


Namun, pertanyaan Cello benar-benar tidak mendapatkan respon dari Shanum. Shanum yang sudah menempel pada tubuh sang suami dan mendekapnya dengan erat tersebut langsung terlelap karena kelelahan. Dia bahkan sudah tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Cello.


Melihat sang istri telah terlelap, Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia meninggalkan kecupan pada pucuk kepala sang istri sebelum menyusulnya kembali ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Shanum sudah memandikan twins dan menyuapinya. Ya, karena sekarang usia twins sudah mencapai delapan bulan, dia sudah mulai mendapatkan MPASI. Beruntung hari itu Shanum mendapatkan kelas mulai jam kedua. Jadi dia bisa berangkat agak siang.


"Iya, Mas. Hari ini dua mata kuliah."


"Satu kelas sama Davian juga?" tanya Cello sambil menoleh untuk menatap wajah sang istri. Jangan lupakan ekspresi wajahnya yang terlihat benar-benar tidak suka.


Shanum yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia bisa langsung mengerti jika sang suami tengah membawa bumbu dapur sekebon alias jahelaos (baca jealous ya)


"Enggak kok, Mas. Hari ini nggak ada jadwal barengan sama Davian. Lagian memang kenapa jika aku satu kelas dengan Davian? Bukannya kemarin kalian sudah kenalan?"


"Kenal sih kenal, Yang. Tapi aku bisa melihat jika dia punya rasa suka sama kamu. Awas saja jika dia berani dekat-dekat," jawab Cello sambil mendengus kesal.


"Hehehehe, jangan ngambek gitu ih. Biarkan saja dia suka sama aku, Mas. Asal aku sukanya tetap sama kamu," kata Shanum sambil memeluk tubuh sang suami. Jangan lupakan wajahnya sudah berada di ceruk leher Cello. Bisa ditebak apa yang akan dilakukan oleh Shanum. Ya, dia membuat stempel alami seperti yang sering dilakukannya dulu saat masih hamil.


Cello yang sudah hafal dengan tingkah Shanum hanya pasrah menerima perlakuan sang istri. Dia hanya berpesan agar tidak terlalu mencolok.


"Nah, sudah." Kata Shanum sambil tersenyum puas saat melihat hasil karyanya.


"Kebiasaan kamu kenapa nggak hilang-hilang sih, Yang. Perasaan tuh twins juga sudah lahir, deh." Kata Cello sambil menghadap ke arah cermin. Dia mengamati stempel alami sang istri yang sudah tercetak di lehernya.


"Mana ada yang seperti itu hilang Mas," jawab Shanum sambil mengerucutkan bibirnya. "Coba aku tanya, jika kebiasaan kamu yang tangannya suka menjelajah gua dan menjalar kemana-mana itu, bisa hilang nggak?"


"Eh, i-itu…,"


Hayo, kira-kira apa jawaban Cello ya?