
Revina segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bu Neni. Dia harus segera menyelesaikannya jika tidak mau lembur hari ini. Lagi pula, laporan tersebut juga sudah ditunggu oleh atasannya.
Sekitar satu jam kemudian, Revina sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera membereskan mejanya dan segera pergi ke ruang pak Bian. Sebelumnya, dia sempatkan diri untuk melirik penampilannya sebelum menghadap sang atasan.
"Rin, sudah oke kan?" Tanya Revina sambil membenahi rambutnya yang keluar dari ikatannya.
Erin menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat penampilan Revina yang tengah berdiri di depan kubikelnya.
"Lumayan." Jawab Erin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mau kemana?" Tanya Erin.
"Menemui sandaran hati, dong." Jawab Revina penuh semangat.
"Ccckkk. Itu tu noh sandaran." Jawab Erin sambil menunjukkan sandaran kursi.
"Sirik aja sih. Inget, sirik itu tanda tak mampu." Jawab Revina sambil memeletkan lidahnya kemudian beranjak pergi meninggalkan kubikel Erin.
Erin hanya mendengus kesal setelah melihat kepergian Revina.
Revina segera berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dua belas tempat dimana ruang pemimpin mereka berada.
Ting.
Revina langsung beranjak keluar dari lift yang pintunya sudah terbuka. Dia berjalan menghampiri meja sekretaris.
"Selamat siang, Mbak. Pak Biannya ada?" Sapa Revina kepada Veronika, sekretaris Kaero.
"Oh, iya ada. Revina, ya?" Tanya Veronika.
"Iya. Bisa saya bertemu dengan pak Bian, Mbak? Saya ingin menyampaikan laporan." Jawab Revina.
"Sebentar. Saya sampaikan dulu." Jawab Veronika. Setelahnya, dia langsung menghubungi Bian.
Ruangan Bian berada di sebelah ruangan Kaero. Namun, saat itu memang Bian sedang berada di ruangan Kaero.
"Silahkan langsung masuk saja ke ruangan pak Kaero. Pak Bian sudah menunggu di sana." Jawab Veronika.
"Eh, tidak apa-apa saya masuk, Mbak? Tidak mengganggu pak Kaero?" Tanya Revina. Dia merasa takut jika mengganggu atasannya.
"Tidak apa-apa. Pak Kaero sedang bersantai dengan istri dan putranya, kok. Silahkan masuk saja."
Revina segera mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia segera menuju pintu ruangan Kaero. Sebelum mengetuknya, Revina menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Dia mengulanginya beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya.
Tok tok tok.
Revina mengetuk pintu ruangan Kaero. Tidak ada jawaban dari dalam. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara kenop pintu tertarik dan pintu yang ada di depan Revina terbuka. Seketika Revina membulatkan mata dan mulutnya begitu melihat Bian yang membukanya.
"Silahkan masuk." Kata Bian.
Revina yang tersadar pun segera mengerjap-ngerjapkan matanya dan menutup mulutnya. Dia mengangguk mengiyakan dan berjalan mengekori Bian yang sudah mendahuluinya.
Dia dalam ruangan, Revina melihat sebuah karpet bulu terhampar di dekat jendela. Disana sudah banyak mainan anak berserakan. Revina melihat sang atasan, Kaero tengah tidur terlentang dengan seorang batita duduk di atas perutnya. Dia terus saja berceloteh sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh seorang wanita yang tengah duduk bersila di sampingnya.
Wanita itu sangat cantik. Revina bahkan sempat melongo karena melihat wanita itu memang benar-benar cantik alami, tanpa make up sama sekali. Wanita itu tersenyum kepada Revina. Revina gelagapan dan segera membalas anggukan wanita tersebut sambil membungkuk. Ini pertama kali Revina bertemu dengan istri Kaero, Keyyaza.
"Silahkan duduk." Kata Bian mempersilahkan Revina.
Revina segera mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia segera menjelaskan laporan yang baru saja di kerjakannya. Revina juga menjelaskan tambahan beberapa poin terhadap laporan tersebut. Bian mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Revina.
"Eh, Sean sudah selesai makan?" Tanya Bian sambil mengangkat Sean kedalam pangkuannya.
"Udah. Tu capa? Antik." Kata Sean.
"Eh," Bian kaget mendengar pertanyaan Sean.
Bian menoleh menatap orang tua Sean yang tengah duduk di atas karpet tak jauh dari posisinya. Bian melihat kali ini Kaero tengah menyandarkan kepalanya pada paha sang istri sambil memejamkan mata. Sementara sang istri tengah mengusap-usap rambutnya. Bian hanya bisa menghembuskan napas beratnya melihat tingkah atasan dan istrinya.
"Ini kak Revina. Sean main sama daddy dulu ya, om Bian mau kerja dulu." Kata Bian sambil menurunkan Sean.
Sean, yang baru berusia dua setengah tahun tersebut berjalan mendekati Revina. Dia tersenyum manis di depannya.
"Antik." Kata Sean sambil menepuk-nepuk lutut Revina.
"Eh," Revina hanya bisa tersenyum melihat batita gemoy yang tengah berjalan menuju orang tuanya tersebut. Kedua matanya tak lepas mengamati batita tersebut yang kini sudah kembali naik di atas perut sang daddy.
"Eheemm. Bisa kita lanjutkan?" Tanya Bian memecah lamunan Revina.
"Bisa, Dad."
"Hhaah?"
Fabian Wira Atmaja
Kaero Exa Alasta
Keyyaza Hanindya Rufi
Sean Berry Alasta
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hayoo, siapa yang mau cium online daddynya Sean? 🤭
Jangan lupa kasih dukungan vote, like dan komen buat cerita ini ya. Tebarkan bunga dan kopi juga boleh. 🤗