
"Nak Bian, jangan lupa nanti Om dan Tante tunggu untuk buka puasa di rumah, ya." Kata mama Fida.
Glek.
Bian berhenti dan menoleh untuk menatap mama Fida dan Revina. Dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Revina masih memandangi kepergian Bian. Dia merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti. Revina menolehkan kepalanya untuk menatap sang mama yang berada di sebelahnya. Revina memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya kepada sang mama.
"Ma, aku…." Belum sempat Revina menyelesaikan perkataannya, namun mama Fida langsung memotongnya.
"Mama tidak mau dengar penjelasan apapun sekarang. Kalian berdua jelaskan saja nanti malam. Sekarang, bantu mama untuk belanja." Kata mama Fida sambil berbalik dan masuk ke dalam minimarket tersebut.
Revina hanya bisa menghembuskan napas beratnya setelah mendengar perkataan sang mama. Mau tidak mau, dia segera menyusul mama Fida untuk membantunya berbelanja.
Siang itu, mama Fida membatalkan rencananya untuk pergi ke rumah orang tuanya. Mama Fida lebih memilih untuk pulang lebih cepat dan menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Revina juga diminta untuk membantu mama Fida memasak.
"Mas, nanti langsung pulang. Kamu ini sudah dekat lebaran masih saja ngantor." Gerutu mama Fida saat menelepon papa Reyhan.
"Iya, iya. Ini sudah jalan ke parkiran mau pulang. Kamu kan tahu sendiri proyek ini akan dimulai tepat setelah lebaran. Jadi, aku harus menyelesaikannya sekarang."
"Ya sudah. Pokoknya, besok harus libur. Kalau perlu, aku akan menghubungi Vanya untuk meminta bantuannya agar kamu bisa libur."
"Tidak perlu. Besok aku juga sudah libur. Selama satu minggu kedepan aku akan libur kok."
"Ya sudah, segera pulang. Jangan mampir-mampir lagi. Akan ada tamu spesial nanti saat buka puasa." Kata mama Fida.
"Tamu spesial, siapa?"
"Kamu akan tahu sendiri nanti, Mas. Sudah, sudah. Cepat pulang. Ingat, hati-hati jangan ngebut."
"Iya."
Setelah menutup panggilan teleponnya, mama Fida kembali melanjutkan acara memasaknya. Revina yang baru saja kembali dari kamar pun segera melanjutkan untuk membantu sang mama.
Sore itu, papa Reyhan sudah sampai di rumah. Mama Fida yang juga sudah selesai memasak pun langsung mengikuti papa Reyhan ke dalam kamar. Mama Fida menjelaskan apa yang terjadi tadi di minimarket kepada pap Reyhan.
Sementara di dalam kamar, Revina masih mencoba untuk menghubungi Bian. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Revina sudah menghubungi Bian. Namun, seluruh panggilannya tidak bisa terhubung. Beberapa pesan yang dikirimkannya pun juga masih belum terbaca. Revina menjadi semakin cemas dibuatnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar suara ponsel Revina berbunyi. Dia buru-buru mengambil dan memeriksa penelepon tersebut. Setelah mengetahui siapa penelepon tersebut, Revina seger menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hallo."
"Hallo, Rev. Maaf ponselku lowbat tadi."
"Ah, iya Pak. Tidak apa-apa."
"Ada apa?"
"Ehm, mengenai tadi siang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Revina. Dia masih terlihat tegang.
Keheningan lama terjadi setelahnya. Tidak ada suara yang keluar baik dari bibir Bian maupun Revina. Keduanya masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga Revina merasa sudah tidak sabar lagi.
"Pak?" Panggil Revina.
"Eh, iya."
"Bagaimana?"
"Ehm, boleh aku bertanya?"
"Silahkan, Pak."
"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Bian ragu-ragu.
"Eh, pa-pacar?" Ulang Revina. Pasalnya, dia merasa heran mengapa Bian menanyakan hal itu kepadanya.
"Be-belum Pak. Saya belum punya." Jawab Revina gugup. Otaknya sudah mulai traveling membayangkan jika Bian akan menyatakan perasaannya. Tak terasa bibirnya senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.
"Angga, dia siapamu?"
"Eh, Angga? Dia hanya rekan di kantor, Pak. Memangnya ada apa?" Senyum di wajahnya mendadak hilang. Entah apa yang dipikirkan Bian dengan menanyakan Angga.
"Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya?"
"Ya ampuunn, Pak. Angga itu hanya teman di kantor. Lagipula, dia juga sudah punya pacar, Pak." Jelas Revina.
Bian masih belum bersuara kembali setelah mendengar jawaban Revina. Hingga Revina kembali bersuara.
"Pak? Bagaimana?" Tanya Revina. Pasalnya dia masih belum menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Kamu tenang saja. Biar aku nanti yang akan menjelaskan semuanya kepada orang tua kamu."
"Eh, Bapak yakin?" Tanya Revina memastikan.
"Iya, sangat yakin."
"Ehm, baiklah kalau begitu. Saya akan menutup teleponnya dulu." Kata Revina.
"Tunggu!"
"Eh, iya Pak?"
"Nanti, bisa tolong jangan panggil aku Bapak?"
"Lalu, aku harus memanggil apa, Pak?"
"Mas, panggil aku Mas Bian."
"Ma-mas?"
"Iya, Dek."
Eeeeaaaaa
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mas Biaaann, adek boleh senderan di bahumu nggak?
Nggak boleh.
Kenapa?
Rambutmu bau belum keramas
Huaassyeemmm.
Jangan lupa kasih vote, like dan komen disini ya. Kirimkan bunga atau kopi buat nemeni othor begadang ngetik juga boleh 🤭