
Setelah selesai memilih furniture yang sesuai dengan keinginannya, Shanum dan juga Nanda segera pulang. Shanum mengantarkan Nanda dulu sebelum dia kembali ke rumah.
Sore itu, Shanum sudah berada di rumah. Dilihatnya kendaraan sang suami juga sudah ada di dalam garasi. Shanum segera beranjak menuju dalam rumah. Keningnya berkerut saat tak Mendapati keadaan rumah tampak sepi. Shanum berjalan menuju dapur dimana bi Yam sedang menyiapkan makan malam.
"Bi, kemana semuanya? Kok tumben sepi?" Tanya Shanum sambil mengambil air minum.
"Eh, Non. Itu, tadi nyonya Fara dan tuan El baru berangkat untuk melayat ke rumah bu Dibyo."
Seketika Shanum terkejut setelah mendengar perkataan bi Yam.
"Bu Dibyo? Siapa yang meninggal Bi?"
"Pak Dibyo, Non."
"Innalillahiwainnailaihirojiun. Berarti kemarin operasinya nggak berhasil, Bi."
"Sepertinya begitu, Non."
Shanum dan bi Yam memang mengetahui keadaan pak Dibyo. Beliau adalah rekan kerja daddy El yang lumayan sering datang ke rumah. Tidak hanya pak Dibyo, namun juga sang istri dan putra pertamanya juga sudah lumayan dekat dengan keluarga daddy El.
Belum sempat Shanum menanggapi perkataan bi Yam, terdengar suara Cello memanggil dari arah tangga.
"Lho, sudah pulang, Yang? Kok nggak langsung naik."
Shanum menoleh dan melihat sang suami terlihat baru saja mandi.
"Iya, Mas. Baru sampai ini."
Cello mendekat ke arah dapur. Dia juga mengambil air minum yang ada di lemari pendingin dan segera menenggaknya. Shanum masih berdiri di sampingnya untuk meletakkan gelas yang tadi digunakannya.
"Bersih-bersih dulu, Yang. Setelah ini, aku ingin ngomong sesuatu." Kata Cello yang juga sudah mengembalikan botol air minumnya.
"Ada apa, Mas?"
"Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin kamu menjelaskan sesuatu tentang kejadian tadi siang di kampus." Kata Cello.
Deg.
Shanum sedikit membulatkan kedua mata dan mulutnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika sang suami mengetahui peristiwa tadi di kampusnya. Entah dia mendapat informasi dari siapa. Yang pasti, Shanum harus menceritakan semuanya nanti kepada sang suami. Dia tidak ingin ada sesuatu yang disembunyikan dari Cello.
"Iya. Aku akan menjelaskan nanti setelah ini. Aku mandi dulu, Mas." Kata Shanum.
Cello menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Shanum segera beranjak menuju kamar tidurnya untuk membersihkan diri. Sementara Cello, dia juga segera menyusul Shanum.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Shanum sudah selesai membersihkan diri. Dia melihat sang suami yang sudah berada di dalam kamar dan tengah memainkan ponselnya di atas sofa. Shanum segera mengeringkan rambutnya dan beranjak menuju sang suami. Dia mendudukkan diri di samping Cello.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?" Tanya Shanum memulai pembicaraan. Sebenarnya, dia sudah mengerti maksud Cello. Namun, Shanum hanya ingin Cello mengatakan apa yang ingin diketahuinya.
Cello yang saat itu tengah memainkan ponselnya, segera mematikan ponselnya dan bergeser untuk menghadap ke arah sang istri. Cello menatap manik mata Shanum sebelum akhirnya mulai menyampaikan keinginannya.
"Aku tahu ada yang terjadi tadi di kampus. Aku hanya ingin tahu detail kejadiannya." Kata Cello sambil menatap manik Shanum dengan tatapan serius.
Shanum berusaha untuk mengartikan tatapan Cello sebagai rasa khawatir terhadapnya. Shanum mengulas senyumannya dan menyentuh pipi kiri Cello sebelum mulai bercerita.
"Aku akan menceritakan semuanya, Mas. Tapi, sebelumnya aku minta kamu jangan marah dulu. Dengarkan ceritaku sampai selesai dan jangan berasumsi yang tidak-tidak dulu sebelum kamu mendengar semua cerita sebenarnya dan apa yang aku rasakan. Setuju?"
Cello menatap ke dalam manik Shanum. Dia melihat kesungguhan dari apa yang dikatakan oleh Shanum. Setelahnya, Cello segera menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Shanum.
Scroll ya 👇