
Extra part Rean dan Dena ini tidak banyak ya. Othor hanya akan menceritakan sedikit perjalanan rumah tangga Rean dan Dena. Syukur-syukur jika sampai punya anak. Hehehe. ðŸ¤
Bagi yang masih setia di sini, cuss kepoin extra part cerita Rean dan Dena berikut.
***
Hari berganti hari, tak terasa kini pernikahan Rean dan Dena sudah hampir berusia dua tahun. Lebih tepatnya, dua puluh bulan. Kalau boleh jujur, sebenarnya mereka sudah menginginkan kehadiran seorang anak di kehidupan mereka. Namun ternyata, Tuhan belum berkehendak.
Sekitar satu tahun yang lalu, Rean dan Dena sudah mengadakan resepsi pernikahan mereka. Saat itu, semua kenalan Rean dan Dena mendapat undangan. Tak terkecuali rekan dosen Dena.Â
Para rekan dosen Dena cukup terkejut saat mengetahui Dena sudah menikah. Bahkan, dengan mahasiswanya sendiri. Meskipun begitu, mereka tidak tetap memberikan selamat kepada Rean dan Dena, serta memberikan doa untuk kebahagiaan mereka.
Pagi itu, seperti biasa Dena sudah menyiapkan sarapan untuk Rean. Hari ini, Rean ada jadwal kuliah pagi. Sementara Dena, ada jadwal kuliah jam ketiga.
"Yakin nggak barengan, Yang?" tanya Rean di sela-sela aktivitas sarapannya.
"Enggak, Mas. Hari ini aku kan ada jadwal jam ketiga. Mau nyuci dulu di rumah," jawab Dena.Â
Ya, saat ini Rean dan Dena memang sudah pindah ke rumah yang dibangun oleh Rean. Meskipun tidak sebesar rumah kedua orang tua mereka, namun Rean dan Dena merasa sangat bahagia.
"Baiklah. Tapi ingat, jangan terlalu capek. Lagian, kenapa sih kamu menolak untuk memakai asisten rumah tangga, Yang? Aku nggak mau kamu kecapekan dengan pekerjaan rumah tangga."
Dena tersenyum sambil masih menatap ke arah Rean. Dia tahu jika sang suami pasti akan ngomel jika dia terlalu capek. "Nggak apa-apa, Mas. Aku masih bisa handle, kok. Nanti jika sudah tidak sanggup, kita bisa cari asisten rumah tangga."
Rean hanya bisa pasrah dengan keinginan sang istri. Hari itu, aktivitas Rean dan Dena berjalan dengan lancar. Siang-siang mereka lebih banyak bekerja di luar rumah. Tapi, malam-malam Rean dan Dena banyak bekerja di dalam kamar. Ya, mereka memang sedang menjalani program hamil.Â
Setelah sarapan, Shanum dan si kembar yang sudah berusia tiga tahun tersebut sudah datang. Seperti biasa, twins akan langsung heboh saat sudah turun dari mobil.
Begitu mengucapkan salam, twins langsung menghambur untuk memeluk Dena. Mereka rupanya cukup kangen dengan auntunya tersebut.
"Waahh, Drew dan Dry segar sekali hari ini. Sini cium dulu." Dena menciumi pipi gembul Drew dan Dryn bergantian. Tidak hanya sekali, tapi Dena menghujami pipi kedua balita tersebut dengan kecupan bertubi-tubi.
"Aaaaa, geli, onty. Geli." Dryn tampak berteriak-teriak karena kegelian.
Dena langsung tergelak melihat tingkah menggemaskan balita kembar tersebut.
"Uncle Re mana?" Drew mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah, namun tidak menemukan keberadaan uncle kesayangannya tersebut.
"Uncle masih bobok, Sayang. Kalian mau bangunin uncle?" tawar Dena.
"Mauuuu!" Kedua balita kembar tersebut tampak kegirangan.Â
Dena segera menuntun Drew dan Dry menuju kamarnya. Namun, begitu pintu kamar terbuka, mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan Rean.
"Mana uncle?" Dryn menolehkan kepalanya ke seluruh kamar.
Belum sempat Dena menjawab pertanyaan balita tersebut, terdengar suara dari dalam kamar mandi.
"Hoeekk hooekkk."