The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 72



Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Ternyata benar kamu sudah kembali ke Jakarta, Re?" 


"Eh?"


Rean dan papi Hendra sama-sama menoleh ke arah pintu. Mereka cukup terkejut saat melihat Dena sudah berada di sana. Rean buru-buru berdiri dan bergegas menghampiri sang istri. Namun, langkah kakinya terhenti saat tiba-tiba Dena mengacungkan tas selempang Rean.


Rean cukup terkejut saat melihat bagaimana tas selempangnya bisa ada pada Dena. Namun, ingatannya langsung kembali saat dia mengeluarkan dompet dari tas selempang tersebut, dan meletakkannya di atas kulkas. Dan, saat dia pergi ke rumah sang mama, Rean benar-benar melupakan tas selempang tersebut.


"I-ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Yang." Rean berusaha menjelaskan kepada Dena. Dia tidak ingin sang istri berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya.


Dena masih menatap wajah Rean dengan tatapan kecewa. Rupanya, bukan hanya karena itu Dena terlihat kecewa terhadap Rean. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Rean.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu sembunyikan. Tapi, bukan begini caranya. Jika kamu memang memiliki perempuan lain, ngomong saja. Tidak usah berbohong seperti ini. Oh iya, satu lagi. Jangan pernah lagi membawa perempuan lain ke apartemenku," ucap Dena sambil berbalik. Dia bahkan tidak menyapa sang papi yang terlihat bingung.


Rean cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia melihat benda yang diberikan oleh Dena. Sebuah cardigan. Rean segera tersadar. Dia langsung berlari untuk mengejar Dena sambil berteriak-teriak memanggil namanya. Namun, ternyata Dena sudah memasuki taksi. Taksi tersebut sudah berjalan meninggalkan rumah papi Hendra.


Rean meraup wajahnya dengan kasar. Dia masih belum bisa berpikir dengan jernih. Rean menatap kedua benda yang ada di tangannya.


"Kalau ini memang tas selempang punyaku. Tapi kalau cardigan rajut ini punya siapa?" Rean bergumam sambil bergegas berjalan kembali ke dalam rumah. Dia harus segera mengejar Dena dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Saat memasuki rumah papi Hendra, Rean dihadapkan dengan papi Hendra yang sudah menunggunya di ruang keluarga. Mau tidak mau, Rean menjelaskan semua yang terjadi kemarin. Mulai dari rencana kejutan untuk Dena, hingga kedatangan nenek Dena.


Papi Hendra cukup terkejut saat mendengar penjelasan Rean. Papi tidak menyangka jika nenek Dena sampai mendatangi Dena. Beruntung saat itu Dena tidak ada di apartemen. 


"Lalu, cardigan ini punya siapa?" tanya papi Hendra saat menatap sebuah cardigan hitam yang diletakkan di atas meja oleh Rean.


"Kamu yakin?"


Rean menatap wajah papi Hendra lekat-lekat, kemudian menggelengkan kepala. 


"Aku tidak yakin sih, Pi. Tapi aku berani sumpah. Aku tidak mengajak perempuan lain ke apartemen, Pi. Aku juga baru datang dari Surabaya saat nenek datang. Setelah itu, aku langsung ke rumah papa. Aku tidak tahu ini punya siapa, Pi."


Papi Hendra mengangguk-anggukkan kepala. Dia juga mempercayai Rean. Lagi pula, tidak mungkin Rean melakukan hal itu.


"Papi percaya sama kamu, Re. Sekarang, sebaiknya kamu jelaskan semuanya kepada Mayang. Jelaskan baik-baik apa yang kamu alami."


Rean segera mengangguk mengiyakan. "Baik, Pi. Aku akan menjelaskan semuanya kepada Dena. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Kami baru saja baikan, tidak mengenakkan nanti jika kami harus berselisih paham lagi."


Papi Hendra mengangguk. Dia memberi dukungan kepada sang menantu. Papi juga mewanti-wanti agar Rean bisa sedikit lebih sabar saat menghadapi Dena yang keras kepala.


Setelah itu, Rean segera berpamitan. Tujuan pertama adalah apartemen. Dia ingin menjelaskan semuanya kepada Dena. Sepanjang perjalanan, Rean berusaha menghubungi sang istri. Namun, ponsel Dena tidak dapat dihubungi.


Hingga sampai di apartemen, Rean ternyata juga tidak menemukan keberadaan Dena di sana. Lagi-lagi, panggilan telepon Rean juga tidak bisa terhubung.


Rean buru-buru mengambil kunci mobilnya, dan mulai berkeliling untuk mencari Dena. 


\=\=\=


Ehm, kira-kira kemana ya?