The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Pemeriksaan Ulang



"Ngidam?!" 


Kata Kenzo dan Vanya bersamaan. Mereka terkejut setelah mendengar perkataan Reyhan. Mereka menoleh saling pandang.


"Apakah kemarin itu aku ngidam?" Tanya Kenzo.


"Entahlah, Tuan. Saya juga tidak tahu. Tapi yang jelas, selama beberapa hari terakhir ini selera makan anda berubah. Sekarang saja anda bisa melihat makanan yang anda pesan. Tanpa sadar anda memesan sambal ijo banyak sekali. Padahal, seingat saya anda sangat tidak suka sambal ijo." Kata Reyhan sambil kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Kenzo dan Vanya kembali mengamati makanan yang di pesan oleh Kenzo. Dan, benar saja. Makanan yang dipesan oleh Kenzo berbeda sekali dengan selera makannya selama ini.


"Kamu beneran ngidam, Mas?" Tanya Vanya.


"Entahlah, aku nggak tau, Yank. Aku hanya merasa ingin sekali makan makanan ini." Jawab Kenzo.


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia hanya berharap jika benar suaminya ngidam, ngidamnya tidak aneh-aneh. 


Setelahnya, mereka melanjutkan makan siang. Saat mereka sudah selesai, Kenzo memaksa Vanya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan kembali.


"Mas, aku baru saja dari klinik lho ini, aku baru periksa kandungan. Masa iya sekarang harus periksa lagi." Protes Vanya saat berjalan hendak keluar dari restoran.


"Aku nggak mau tau. Pokoknya sekarang harus periksa lagi. Aku ingin melihat sendiri calon anakku." Kata Kenzo.


Fida yang tengah berjalan di belakang Kenzo dan Vanya pun menyahut.


"Eh, melihat sendiri itu maksudnya nengokin calon anak kamu gitu ya, Van? Emang boleh ya? Usia kandungan kamu kan masih muda sekali." Tanya dengan polosnya.


Sontak saja Kenzo, Vanya dan Reyhan menghentikan langkah kaki mereka dan berbalik menatap wajah Fida.


"Apaan sih, Fid. Itu yang ada dipikiran kamu iya-iya mulu ih." Gerutu Vanya. Setelahnya, dia melirik ke arah Reyhan. 


"Kamu masih punya urusan denganku, Rey. Setelah periksa kandungan, kita selesaikan urusan kita." Kata Vanya.


Reyhan yang sudah mengerti maksud Vanya pun hanya mengangguk sambil menghembuskan napas beratnya. Mau tidak mau, dia harus mengikuti permintaan Vanya. Dulu sebelum hamil saja permintaannya harus dituruti, apalagi sedang hamil seperti ini. Bisa-bisa semua orang akan kena imbasnya. Batin Reyhan.


Sore itu, Kenzo memaksa Vanya untuk memeriksakan kehamilannya lagi. Mau tidak mau Vanya hanya bisa mengikuti kemauan Kenzo. 


Dan, disinilah mereka berempat berada. Di ruang tunggu dokter kandungan seperti permintaan Kenzo. Kenzo menginginkan Vanya diperiksa oleh dokter kandungan yang sudah dikenalnya. Dokter Friska, teman sejak kecil Kenzo. Mereka sudah seperti keluarga karena rumah mereka dulu bertetangga.


"Van, kenapa aku harus ikut juga sih?" Protes Fida. Ya, Vanya memaksa Fida ikut memeriksakan kandungannya karena setelah ini, ada hal yang ingin dibicarakannya.


"Habis gini ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, Fid." Jawab Vanya.


Fida hanya bisa memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Vanya.


"Tadi Nabila tanya kenapa ponsel kamu mati. Nanti jangan lupa hubungi balik anak itu. Bisa-bisa dia ngomel tujuh hari tujuh malam nanti." Kata Fida.


"Iya, iya. Kamu kan tau sendiri aku lupa ngecharge ponsel tadi." Jawab Vanya.


Tak berapa lama kemudian, nama Vanya dipanggil untuk segera masuk ke dalam ruangan periksa. Vanya dan Kenzo segera beranjak menuju ruangan dokter. Sementara Reyhan dan Fida menunggu di luar.


Suasana canggung dirasakan oleh Fida dan Reyhan. Mereka sama-sama bingung untuk memulai pembicaraan. 


"Ehm, kalau boleh tahu, sejak kapan nona Vanya mengetahui kehamilannya?" Tanya Reyhan memecah kecanggungan.


Fida menoleh menatap wajah Reyhan yang terlihat memandang ke segala arah. Fida mencebikkan bibirnya setelah menyadari hal itu.


"Kalau ngomong itu dilihat wajahnya dong, Yank." Kata Fida.


Seketika Reyhan menoleh menatap wajah Fida. Netra mata mereka bertabrakan saat itu.


"Kenapa masih memanggilku seperti itu?" Tanya Reyhan.


"Lhah, bukannya kemarin kamu memintaku untuk memanggil sayang, ya?" 


Reyhan mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan Fida.


"Aku hanya bercanda kemarin. Mengapa jadi serius sekali sih menanggapinya."


"Nggak apa-apa juga sih. Hitung-hitung belajar membiasakan diri." Jawab Fida dengan santainya.


Sementara di dalam ruangan periksa, Kenzo dan Vanya baru saja mendudukkan diri di depan meja seorang dokter wanita yang masih terlihat sangat muda. dr. Friska Andhiska, SpOG nama yang tertera pada name tag nya.


"Ternyata benar ini kamu, Zo." Kata dokter Friska sambil tersenyum memandang wajah Kenzo.


"Iya lah. Tadi kan aku sudah bilang di telepon. Nggak percaya sekali aku yang akan datang kemari." Gerutu Kenzo.


"Ya, bukannya nggak percaya. Cuma nggak yakin saja jika kamu bisa melakukannya. Hahaha." Kata dokter Friska.


Kenzo menggerutu tidak jelas setelah mendengar perkataan dokter Friska. Sementara Vanya masih memandangi suami dan dokter wanita tersebut bergantian. Vanya merasa sepertinya mereka sudah mengenal sangat dekat. Vanya merasa kesal dengan hal itu. 


"Ah, maafkan saya jika terlalu berlebihan. Kita belum berkenalan secara pribadi. Saya Friska, sahabat Kenzo sejak kecil." Kata dokter Friska sambil mengulurkan tangan kepada Vanya.


Vanya yang merasa dipandangi oleh Kenzo dan dokter Friska pun merasa tidak enak. Mau tidak mau dia mengulurkan tangannya kepada dokter Friska.


"Vanya, istrinya mas Kenzo." Jawab Vanya.


Dokter Friska yang mendengarnya pun berusaha menahan senyumannya. Dia bisa melihat jika Vanya tengah cemburu terhadapnya. Menurutnya wajar jika Vanya cemburu. Vanya pasti belum mengetahui siapa dirinya.


"Iya, saya tahu kamu istrinya Kenzo. Saya minta maaf dulu waktu pernikahan kalian saya tidak bisa hadir. Saya baru melahirkan anak kedua saya waktu itu. Jadi, hanya suami saya yang hadir." Kata dokter Friska sambil tersenyum.


Vanya yang mendengar perkataan dokter Friska pun langsung tersenyum. Ternyata pikirannya salah. Dokter Friska sudah menikah dan sudah punya anak. 


"Tidak apa-apa, Dok. Yang penting doanya." Jawab Vanya sambil tersenyum. Dia sudah tidak khawatir dengan dokter Friska yang mengenal suaminya.


Setelahnya, dokter Friska meminta Vanya untuk berbaring pada tempat periksa. Dia ingin melakukan USG. Kenzo segera mengekori Vanya dan membantu Vanya untuk berbaring.


"Nggak usah lebay gitu juga kali Zo. Istri kamu ini sedang hamil, bukannya lumpuh." Gerutu dokter Friska setelah melihat Kenzo begitu heboh membantu Vanya naik ke atas brankar dan berbaring.


"Biarin, ini kan kehamilan pertamanya, jadi wajar dong jika kami harus berhati-hati." Jawab Kenzo tak mau kalah.


"Iyain saja lah, biar cepet." Cibir dokter Friska.


Vanya yang melihat sang suami tengah berdebat dengan dokter Friska hanya bisa tersenyum. Dia penasaran sedekat apa hubungan mereka ini.


Dengan bantuan seorang perawat, dokter Friska memeriksa perut Vanya. Seorang perawat membantu mengoleskan gel pada perut bagian bawah Vanya.


"Yang mana calon anakku, Fris?" Tanya Kenzo tidak sabar sambil melihat monitor kecil yang ada di dekat brankar.


"Yaelah, nggak sabaran banget sih, Pak. Ini juga masih belum mulai." Gerutu dokter Friska.


"Kenapa lama sekali sih." Kata Kenzo sambil menatap apa yang sedang dilakukan dokter dan perawat tersebut.


Vanya yang menyadari tingkah tidak sabaran sang suami merasa malu. Dia memukul lengan Kenzo sekilas.


"Sabar dulu ih, Mas." Kata Vanya.


"Sudah nggak sabar, Yang." Kata Kenzo.


"Hadeewwwh, yang model gini mau jadi bapak. Apa kabar anak kamu nanti, Zo." Kata dokter Friska.


"Diam ih. Cepat lakukan pemeriksaan." Kata Kenzo.


Setelahnya, dokter Friska benar-benar melakukan pemeriksaan. Dia menjelaskan kepada Kenzo dan Vanya tentang kondisi kehamilannya. Dokter Friska juga menunjukkan calon anak mereka pada layar monitor. 


Setelah beberapa saat kemudian, pemeriksaan yang dilakukan sudah selesai. Kenzo kembali membantu Vanya untuk turun dan berjalan menuju tempat duduk.


"Aku tidak akan memberikan resep vitamin untuk kamu Van. Seperti yang kamu bilang tadi, kamu habiskan dulu vitamin dari dokter sebelum kesini tadi." Kata dokter Friska.


"Baik, Dok. Saya akan menghabiskan dulu vitamin dari dokter Vivi tadi." Jawab Vanya.


"Lalu, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Vanya?" Kali ini Kenzo yang bertanya.


"Pada dasarnya semua boleh dikonsumsi. Tapi memang ada beberapa makanan dan buah yang tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil secara berlebihan. Nanti akan aku tuliskan apa saja yang memang tidak baik dikonsumsi oleh ibu hamil." Jawab dokter Friska.


Baik Kenzo dan Vanya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Untuk aktivitas ranjang bagaimana?" 


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Haduuhh itu pertanyaannya 🤦


Mohon dukungannya ya, klik like, komen dan vote, biar othor tambah semangat. 


Kadang othor mikir, ini yg respon sedikit sekali, masih adakah yang menunggu?