The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Melon



"Siapa juga yang akan melihat." Gerutu Kenzo.


Vanya merengut kesal mendengar perkataan Kenzo. Namun, dia juga tidak mungkin tidur menggunakan bathrobe seperti ini. Dia pasti tidak akan bisa tidur karena tidak nyaman. Vanya segera mengambil satu dari beberapa baju tidur yang ada di dalam kopernya. Dia segera berdiri dan menatap wajah Kenzo.


Kenzo yang sedang memainkan ponselnya di atas tempat tidur menoleh melihat Vanya yang sudah berdiri.


"Ada apa?" Tanya Kenzo.


"Eehhmm, aku mau ganti baju." Kata Vanya lirih sambil menunduk.


Kenzo yang masih belum mengerti pun mengernyitkan dahinya bingung. 


"Lalu?" Tanyanya. "Perlu bantuan untuk ganti baju?"


Vanya mendengus kesal mendengar pertanyaan Kenzo.


"Ccckkk. Itu maunya kamu Mas." Gerutu Vanya. "Aku mau ganti baju, kamu keluar dulu gih." Lanjut Vanya.


Kenzo yang mendengarnya merasa kesal. Dia tidak mau bolak balik keluar karena udara diluar sangat dingin sekali.


"Ogah, diluar dingin sekali." Jawab Kenzo.


Vanya yang juga bisa merasakan betapa dinginnya udara di luar tidak membantahnya. 


"Lalu, bagaimana caranya aku ganti baju?" 


Kenzo memutar bola matanya. "Ganti saja di situ. Aku akan berbalik." Jawab Kenzo sambil membalikkan tubuhnya hingga membelakangi kamar mandi live nya.


Vanya tidak serta merta segera beranjak. Dia masih diam mematung sambil memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi nanti. Kenzo yang tidak mendengar pergerakan Vanya pun segera berbalik.


"Kenapa masih disini?, Tidak jadi ganti baju?" Tanya Kenzo.


"Jadi kok." Jawab Vanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah sana cepat ganti baju. Aku mau tidur. Setelah itu, jangan lupa matikan lampunya." Kata Kenzo sambil kembali berbalik memunggungi Vanya yang masih berdiri mematung.


Vanya masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya. Namun, dia berpikir jika Kenzo melihatnya pun seharusnya tidak apa-apa kan, mereka sudah menikah. Vanya memutuskan untuk mengganti baju tidurnya dengan cepat. 


Vanya begitu risih memakai baju itu. Bagaimana tidak, baju tidur itu hanya bisa menutupi tiga perempat asetnya. Baju itu juga hanya mempunyai satu tali yang diikatkan pada bahunya. Panjang baju itu juga hanya sebatas pertengahan pahanya sehingga mengekspos kulit kakinya yang bersih. Vanya nyaris berteriak saat melihat pantulan dirinya pada cermin. Dia benar-benar merutuki nasibnya saat itu.


"Hhhhhh, aku merasa seperti umpan yang diumpankan pada seekor singa kelaparan." Gumam Vanya lirih sambil masih mengamati pantulan diri lada cermin besar itu. "Eh, tapi singanya kan jinak ya, dia tidak akan berubah jadi buas dan liar kan," tanyanya pada diri sendiri.


Vanya kemudian berbalik dan berjalan mengendap-ngendap hingga mencapai tempat tidur king size itu. Dia beranjak naik dan segera masuk ke dalam selimut yang terhampar di atas tempat tidur itu.


Kenzo yang sudah mulai lelap segera tersadar karena merasakan ada gerakan pada tempat tidur di belakangnga. 


Vanya yang mendengarnya segera mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Segera setelah itu, dia merebahkan diri dan mencari posisi yang nyaman untuk beristirahat. 


Kenzo yang merasakan tidurnya terusik karena gerakan Vanya pun sedikit berbalik.


"Jangan bergerak-gerak terus, aku pusing tidak bisa tidur." Kata Kenzo.


Vanya mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Kenzo.


"Maaf, aku sedang mencari-cari guling. Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk guling." Jawab Vanya lirih.


"Hhhhhh, mana ada guling di sini." Kata Kenzo. "Sudahlah, cepat tidur." Lanjutnya dan segera berbalik.


Bukannya tidur, Vanya malah semakin gelisah. Dia benar-benar akan sangat sulit tidur jika tidak memeluk guling. Kenzo semakin kesal dibuatnya, karena tidurnya merasa terganggu. Kenzo segera berbalik dan menarik Vanya agar mendekat ke arahnya. Vanya pun semakin terkejut dan bingung dengan tingkah Kenzo.


"Aku pinjamkan lenganku untuk guling malam ini. Ini, jangan bergerak-gerak terus aku ngantuk." Kata Kenzo sambil tidur terlentang.


Vanya pun masih diam karena terkejut dengan sikap Kenzo. Menyadari tidak ada gerakan dari Vanya, Kenzo pun membuka suara.


"Jika tidak mau yasudah. Aku mau tidur, jangan mengganggu." Kata Kenzo hendak berbalik. Namun, langsung di cegah oleh Vanya. 


"I-iya, aku mau dari pada tidak bisa tidur." Kata Vanya lirih.


Dia segera melingkarkan tangannya dengan erat pada lengan Kenzo dan menumpangkan kakinya pada paha kanan Kenzo. Vanya tidak menyadari efek dari perbuatannya itu pada Kenzo.


Seketika Kenzo membuka matanya dengan lebar karena merasakan sesuatu. 


"Astaga, lenganku kejepit melon."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungan juga di novelku "Mendadak istri" ya, sudah up lagi kok


Terima kasih 🤗