The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 149



Cello benar-benar gelagapan. Dia merasa sangat bingung. Entah apa yang harus dijawabnya saat mendengar pertanyaan sang istri.


"Ehm i-itu beda, Yang. Itu sudah bukan hanya menjadi kebiasaan lagi, tapi keharusan. Kamu kan tahu sendiri jika hal itu langsung saja refleks dilakukan. Mana sempat aku merencanakannya," jawab Cello sambil masih tersenyum nyengir.


"Ccckkk, mana ada yang seperti itu. Itu hanya alasan para laki-laki saja," kata Shanum sambil mengerucutkan bibirnya.


"Beneran ini, Yang. Coba kamu tanya pada para laki-laki."


"Itu hanya akal-akalan kamu saja, Mas. Sudah-sudah, kamu berangkat saja ke kampus. Jangan sampai terlambat," kata Shanum sambil mendorong punggung sang suami agar segera berangkat.


Mau tidak mau, Cello menuruti perkataan sang istri setelah memberikan beberapa kecupan pada pipi gembul kedua jagoannya. Hari itu, Cello lebih memilih memakai motornya. Dia akan mampir ke cafe setelah pulang kuliah nanti siang.


Sekitar pukul sembilan, Shanum sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Dia kembali menitipkan kedua putranya pada Mbak Siti dan juga mommy Fara. Tentu saja mommy Fara tidak akan keberatan. Mommy Fara dengan senang hati akan menjaga kedua cucu gemoynya tersebut.


Hari itu, Cello langsung pergi menuju cafenya setelah selesai kuliah. Dia sudah mulai aktif lagi di cafe dan tempat futsalnya saat sore atau malam hari. Selebihnya, dia akan ke perusahaan untuk membantu sang daddy.


Cello segera memarkirkan sepeda motornya begitu dia sampai di cafe. Cello segera masuk dan menemui beberapa karyawannya. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara memanggil namanya dari arah luar.


"Kak Cello!"


Cello segera berbalik dan mendapati adik iparnya tersebut berjalan memasuki cafe dengan senyuman merekahnya. Keduanya langsung berpelukan sambil bertukar canda tawa. Ya, saat itu adalah pertemuan pertama mereka setelah Cello kembali dari Kanada. Keduanya segera memasuki ruangan Cello dan saling bertukar kabar. 


Cello dan Rean terlihat bercerita tentang banyak hal. Tak lupa juga Cello menanyakan perihal kecelakaan yang menimpa istri Rean tersebut.


"Setiap rumah tangga itu, pasti memiliki jalan cerita sendiri-sendiri, Re. Tinggal bagaimana kita melihatnya dari sisi yang mana. Kita tidak bisa menyamaratakan masalah yang dialami oleh orang lain dengan apa yang kita alami."


"Benar, Kak. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan apa yang menurut kita terbaik. Tapi, kembali lagi hasil akhir ada pada Sang Maha Pengatur."


"Betul sekali. Diambil hikmahnya saja, Re."


"Iya, Kak. Oh iya, bgaimana kabarnya twins, Kak? Aku kangen banget ini," kata Rean sambil menyeruput jus mangga.


"Waahhh, bagaimana itu ceritanya. Bisa-bisa Kak Cello juga ikut nimbrung nih, hahahaha."


"Sembarangan!" gerutu Cello. "Eh, bagaimana keadaan istri kamu? Maaf kami belum sempat menjenguk."


"Nggak apa-apa, Kak. Sudah lebih baik kok. Hanya saja, semester ini masih mengajukan cuti mengajar."


"Sudah kembali ke Jakarta?"


"Sudah, Kak. Masih di rumah papi, sih."


Cello mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan obrolan hingga menjelang sore.


Cello sampai di rumah menjelang Maghrib. Dia segera membersihkan diri sebelum menemui kedua jagoannya tersebut. Malam itu setelah makan malam, Daddy El meminta bantuan Cello untuk memeriksa proposal pengajuan kerja sama dari salah satu perusahaan yang baru berkembang. Cello membawa proposal tersebut ke ruang tengah sambil bermain-main dengan kedua jagoannya. Hingga saatnya mereka tidur, Cello membantu menidurkan kedua buah hatinya tersebut.


"Ini alokasi dananya belum dijelaskan semuanya, Dad?" tanya Cello setelah membantu menidurkan Drew dan Dryn dan kembali ke ruang tengah bersama sang daddy.


"Sepertinya iya. Kamu pelajari dulu rancangan programnya. Jika menurut kamu itu menarik, kita minta penjelasan tentang alokasi dana tersebut."


Cello mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah mulai punya gambaran tentang proposal yang dibacanya tersebut. Saat sedang fokus pada proposal di tangannya, tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk pada ponselnya.


Cello segera membuka aplikasi perpesanan tersebut dan betapa terkejutnya saat melihat ternyata pesan tersebut berasal dari sang istri. Shanum mengirimkan sebuah gambar dirinya sedang memakai baju ha*am namun halal tersebut dengan disertai caption di bawahnya.


Nyoba baju baru dari Mommy. Kira-kira, akan ada ikan yang terjaring masuk nggak ya? ~ tulis Shanum pada bagian bawah fotonya.


Kira-kira apa yang akan dilakukan Cello ya?


Mumpung sudah hari Senin, jangan lupa kasih vote buat othor ya, biar tambah semangat up. Terima kasih.