
Reyhan tersenyum mendengar jawaban Vanya. "Tapi anda sudah tidak bisa lari lagi nona. Keluarga Abram tidak akan membiarkan calon menantunya pergi begitu saja setelah pengumuman tentang rencana pernikahan kemarin malam" kata Reyhan. "Saya kira, anda sudah sangat tahu siapa keluarga Abram" lanjut Reyhan dengan suara tegas yang membuat Vanya sedikit bergidik.
Melihat Vanya yang sedikit bergidik ngeri, baik Kenzo maupun Reyhan sudah mulai bisa bernapas lega. Pasalnya, mereka tidak perlu bersusah payah untuk membujuk Vanya agar mau mengikuti rencana mereka.
"Lalu, apa mau kalian?" Tanya Vanya sambil menatap Kenzo dan Reyhan secara bergantian. "Kalian tidak akan memaksaku untuk melakukan hal-hal yang aneh kan?" Lanjutnya dengan wajah yang menunjukkan sedikit kekhawatiran.
Menyadari Vanya tengah khawatir, Reyhan tersenyum sambil menyerahkan sebuah map ke arah Vanya.
"Tentu saja tidak nona," jawab Reyhan. "Kami tidak akan meminta nona untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Kami juga tahu batasannya," lanjut Reyhan.
Vanya mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban Reyhan. "Lalu, apa ini?" Tanya Vanya sambil menunjukkan sebuah map yang ada di depannya.
Reyhan tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Vanya.
"Itu bukan apa-apa nona. Apa yang tertulis di sana hanya merupakan sebuah pemberitahuan tentang kompensasi yang akan nona terima jika nona menyetujui untuk menikah dengan tuan Kenzo," jawab Reyhan.
Vanya memutar bola matanya jengah setelah mendengar jawaban Reyhan.
"Cckkk. Aku tidak membutuhkan semua itu," jawab Vanya dengan ketus.
"Terserah nona mau menerima atau tidak. Tapi, tuan Kenzo tetap akan memberikan hak dan semua fasilitas untuk nona jika sudah menikah nanti," jawab Kenzo.
Vanya menghembuskan napas dengan kasar sambil menatap kedua orang yang ada di depannya kali ini.
"Dengar ya Om Reyhan,..."
"Iya, saya dengarkan nona Vanya. Dan mohon jangan memanggil saya dengan sebutan Om. Cukup Reyhan atau Rey saja. Saya belum setua itu," sela Reyhan sambil masih mengulas senyum getirnya.
Lagi-lagi Vanya dibuat kesal dengan orang yang ada di depannya kali ini. Vanya hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kesal.
"Oke-oke. Dengar Rey, aku masih sembilan belas tahun. Aku masih kuliah semester tiga, dan sama sekali belum mempunyai rencana untuk menikah di usia ini," kata Vanya. "Aku masih punya keinginan untuk menikmati masa muda dan mencari pengalaman kerja di luar sana. Kenapa kalian memilih aku?, jika kalian ingin menikah, kalian bisa mencari orang lain yang mungkin tidak akan mempersulit kalian kan?" Lanjut Vanya.
Ketika Reyhan hendak menjawab, Kenzo menghentikannya.
"Dengar Van," kali ini Kenzo yang berbicara, setelah tadi membiarkan Reyhan mengambil alih percakapannya. "Bukan keinginan kami untuk memilihmu. Sudah ku katakan kemarin, jika perempuan yang akan kami sewa untuk menjadi pasangan bayaranku berhalangan hadir. Lalu, kejadian tak terduga terjadi di luar kendali kami" lanjut Kenzo.
Vanya masih memandang Kenzo dengan kening berkerut. Memang kemarin Kenzo sudah menjelaskan tentang hal itu kepadanya. Namun, entah kenapa hatinya masih belum bisa menerima keadaan yang menimpanya.
"Kami, khususnya aku, berada pada situasi sulit saat ini. Jika aku tidak segera menikah, bisa dipastikan perusahaan yang sudah aku rintis dari nol akan diambil alih oleh papaku. Belum lagi, aku juga harus menikah dengan wanita pilihan mama yang bisa dipastikan akan sangat menyusahkanku kelak. Sedangkan Reyhan, bisa dipastikan akan kembali lagi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan papa yang ada di sana, dan itu akan sangat merepotkan," kata Kenzo.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membantu kalian?" Tanya Vanya sambil menatap wajah Kenzo dan Reyhan bergantian.
"Tentu saja menikah, nona" jawab Reyhan dengan cepat.
Vanya memutar bola matanya dengan jengah.
"Tidak semudah itu bambang," ketus Vanya. "Menikah adalah sebuah acara sakral. Kita tidak hanya berjanji dihadapan orang tua atau sahabat, tapi berjanji di hadapan Tuhan dan negara. Aku tidak mau bermain-main dengan hal itu," lanjut Vanya.
Kenzo dan Reyhan terdiam memikirkan perkataan Vanya. Benar juga, menikah tidak hanya janji di hadapan orang tua dan keluarga, tapi janji kepada Tuhan. Mereka tidak bisa bermain-main den hal itu.
Setelah keheningan beberapa saat, Kenzo membuka suaranya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan jika kita ingin menikah?" Tanya Kenzo.
Vanya memutar bola matanya dengan jengah sebelum menjawab. "Kalian ini sudah tua, tapi untuk urusan seperti ini ternyata masih nol besar," jawab Vanya sambil mencebikkan bibirnya.
"Sudah cukup menghina kami. Sekarang katakan apa yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menikah?" Tanya Kenzo dengan sedikit gusar.
"Jika kamu mau menikahiku, minta ijin ke orang tuaku,"
.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih adakah yang menunggu?
Jangan lupa like, vote dan komennya ya,
Biar tidak merasa sendiri akutuh 🥺🥺