
Mohon maaf lama up. Butuh waktu untuk menaikkan mood melanjutkan cerita ini. Buat yang kurang berkenan, bisa ditinggalkan cerita ini ya. Bagi yang masih menunggu othor ucapkan terima kasih sudah mengikuti alur cerita yang othor buat. Sekali lagi mohon maaf karena lama menunggu up. 🙏
***
Kinan langsung menggeliat. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Adrian tersebut berhasil membuat tubuhnya meremang hebat. Bahkan, pikiran Kinan pun mulai terasa tidak mampu lagi berpikir dengan jernih.
Suara yang berhasil keluar dari bibir Kinan juga berusaha diredamnya. Kinan tidak ingin suaminya tersebut mendengar suara 'horor' yang keluar dari bibirnya. Entah mengapa Kinan mendadak malu.
Hingga, ketika jari tangan Adrian mulai mengabsen satu persatu harta karun yang baru saja ditemukan, terdengar suara sirine ambulance yang semakin mendekat. Seketika Kinan dan Adrian menghentikan aktivitas mereka.
Secepat kilat Kinan juga langsung beranjak berdiri sambil memperbaiki pakaiannya yang sempat berantakan.
"Suara ambulance. Kenapa sepertinya berhenti di depan?" tanya Adrian bingung.
Kinan pun juga merasakan hal yang sama. "Entahlah, Mas. Aku juga tidak tahu. Coba biar aku lihat dulu," jawab Kinan sambil beranjak berdiri.
Kinan segera beranjak keluar rumah. Dia membuka pintu dan segera berjalan menuju jalan. Terlihat banyak sekali para tetangga yang berbondong-bondong keluar rumah.
"Ada apa Mbak Ami?" tanya Kinan mendekati tetangga sebelah kiri rumahnya. Terlihat beberapa orang mendatangi rumah Pak RT yang berada sekitar lima tumah dari rumah kontrakan Kinan.
"Pak RT meninggal."
"Innalillahi, kok aku nggak tahu jika Pak RT sakit, Mbak?"
"Pak RT memang nggak sakit, Kin. Beliau masuk angin semalam. Sebenarnya oleh istrinya langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi, ternyata takdir berkehendak lain."
Kinan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Belum sempat dia menjawab, suami Mbak Ami sudah berjalan keluar dari rumah. Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun tersebut berpamitan hendak ke rumah pak RT untuk membantu proses pemakaman.
"Suami kamu nggak ikut sekalian, Kin?" Tanya Pak Heru, suami Mbak Ami.
"Baiklah. Kamu tanya saja dulu, aku tunggu. Jika mau, ayo bareng sekalian. Jika tidak mau, aku tinggal," ucap Pak Heru.
Kinan segera mengangguk. Setelah itu, dia segera bergegas masuk untuk bertanya kepada sang suami. Namun, Kinan tidak menemukan keberadaan Adrian di ruang tengah.
Kinan beranjak ke dalam kamar untuk mencari Adrian. Dan, ternyata dia berada di sana. Adrian bahkan sudah berganti baju dengan celana dan kemeja berlengan pendek. Kinan bahkan sampai tertegun saat melihat suaminya tersebut.
"Mau kemana, Mas?" tanya Kinan.
"Takziah. Aku sempat dengar obrolan kamu dengan Mbak Ami tadi jika pak RT meninggal," jawab Adrian yang tampak biasa-biasa saja. Tidak ada kecanggungan di wajahnya sama sekali.
"Eh, serius?"
Kening Adrian berkerut bingung. "Maksudnya?"
"Ini kamu serius mau ikut takziah, Mas? Memang kamu sudah biasa melakukan hal seperti itu?" tanya Kinan. Sebenarnya, bukannya Kinan meremehkan Adrian. Hanya saja, Kinan tidak menyangka jika Adrian tidak merasa canggung saat ikut takziah, mengingat siapa Adrian sebenarnya.
"Cckkk. Aku sudah biasa melakukannya. Jika aku di rumah dan ada tetangga yang meninggal, aku juga sudah biasa datang. Hanya saja, saat ini aku memang jarang melakukannya karena tinggal di apartemen."
Kinan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia mengantar sang suami keluar rumah. Sementara Kinan, akan datang esok hari.
\=\=\=
Bagi yang tanya kenapa belum unboxing, mungkin bisa dibaca di bagian Dena kapan Kinan unboxing, ya. Tidak langsung setelah pernikahan.
Selamat berpuasa bagi yang menjalankan. 🙏