The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 24



Dena hanya bisa pasrah saat menatap ke arah sang papi yang sedang menghubungi papanya Rean. Ingin membantah pun, dia tidak akan mungkin bisa. Jadi, mau tidak mau Dena harus menunggu papinya menyelesaikan pembicaraan via telepon tersebut.


Sekitar dua puluh menit kemudian, papi Dena terlihat sudah selesai menelepon. Beliau meletakkan ponselnya di atas meja makan dan langsung menoleh ke arah Dena. Ditatap demikian, Dena menjadi gugup. Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh papinya tersebut.


Papi Dena masih menatap wajah putrinya lekat-lekat. "May, ada yang ingin Papi  bicarakan. Kemarilah." Papi Dena menepuk salah satu kursi di ruang makan tersebut.


Mau tidak mau, Dena hanya bisa mengangguk dan menuruti keinginan sang papi. Dia segera berjalan menuju kursi dan mendudukkan diri di sana.


"Ada apa, Pi?" 


"Kamu tahu sebenarnya apa yang hendak Papi bicarakan. Ini tentang rencana perjodohan kamu dengan Rean. Kamu sudah berjanji untuk memikirkannya, kan?"


Dena bingung harus menjawab apa. Sebenarnya, dia memang sudah berjanji untuk mempertimbangkan rencana perjodohan tersebut. Tapi, dia masih belum bisa menerima jika orang yang akan dijodohkan dengannya adalah mahasiswanya sendiri. Apalagi, selisih usia mereka cukup jauh. Dena benar-benar belum siap menerimanya.


"Iya, Pi. Aku memang sudah berjanji untuk mempertimbangkannya. Tapi, aku masih merasa berat menerimanya, Pi." Dena menundukkan kepala. Dia terlihat takut menatap wajah sang papi.


Terdengar helaan napas berat dari papi Dena. "Jadi, kamu menolak rencana perjodohan ini?"


Dena masih terlihat bingung. Dia benar-benar dilema. Melihat sang putri masih tampak ragu, papi Dena kembali bersuara,"Jika kamu menolak rencana perjodohan ini, baiklah. Papi dan Mami juga tidak akan memaksa. Mulai sekarang, silahkan urusi kehidupanmu sendiri. Jangan lagi meminta bantuan Papi atau Mami lagi. Jika kamu mau datang ke rumah, silahkan. Kamu mau menemui Papi dan Mami, silahkan."


"Ingat, segala keputusan, akan ada konsekuensi yang ditanggungnya, baik atau buruk. Papi pulang dulu." Papi Dena langsung beranjak berdiri. Dia bahkan tidak menunggu pesanan makan malam yang sudah dipesan oleh Dena.


Melihat sang papi hendak pergi, Dena semakin panik. Tidak biasanya papinya bersikap seperti ini. Jika biasanya papi Dena akan marah-marah jika Dena melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, tapi kali ini tidak. Papi Dena bersikap tenang dan, itu justru membuat Dena ketakutan.


"Pi, jangan pergi dulu, Pi. Makan malamnya belum datang. Aku nggak mau Papi sakit lagi nanti," cegah Dena saat sang papi hendak keluar.


Papi Dena menoleh sekilas sambil mengulas senyuman. Namun, entah mengapa senyuman tersebut terasa dingin bagi Dena. "Nggak usah, terima kasih."


Setelah mengatakan hal itu, papi Dena langsung beranjak keluar. Air mata Dena langsung luruh saat melihat papinya pergi. Entah mengapa sangat terlihat sekali jika papinya itu sangat kecewa.


Hari-hari pun berlalu, selama empat hari ini, Dena berusaha untuk menghubungi papi dan maminya. Meskipun mereka mengangkat panggilan telepon tersebut, namun kesan dingin tetap saja dirasakan oleh Dena. 


Malam itu, Dena berniat pergi ke rumah orang tuanya. Dia merasa tidak tenang ketika kedua orang tuanya bersikap seperti orang asing terhadapnya. Setelah selesai mengajar pada jam terakhir, Dena langsung memesan taksi untuk menuju rumah orang tuanya. Hari itu, dia memang tidak membawa mobil. Dena merasa capek jika harus menyetir ke rumah utama orang tuanya yang berada di Bogor.


Menjelang makan malam, Dena sudah tiba di rumah orang tuanya. Dia yakin jika malam itu kedua orang tuanya ada di rumah, karena besok weekend. Dena segera berjalan memasuki rumah setelah membayar taksi yang ditumpanginya.


Saat hendak menuju ruang tengah, terdengar suara isak tangis dari sang mami. Kaki Dena seketika terasa kaku untuk melangkah. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh orang tuanya.