
"Hhaaah, apa?"
Gadis yang masih berdiri di depan Rean tersebut tampak terkejut dan mengerutkan keningnya. Dia masih menatap Rean yang masih berdiri sambil mengulurkan ponselnya.
"Tolong bantu ketikkan nomor ponselmu disini," pinta Rean.
"Untuk apa?"
"Ya, siapa tahu aku mengalami gegar otak dan harus mendapatkan perawatan. Jadi, aku bisa langsung menghubungimu nanti."
Gadis tersebut mengerucutkan bibirnya. Tanpa menunggu lagi, gadis tersebut segera mengambil ponsel Rean dan segera mengetikkan beberapa angka di sana. Setelah selesai, dia segera mengembalikan ponsel tersebut kepada Rean.
"Itu sudah aku ketikkan. Sekali lagi aku minta maaf karena kelalaianku tadi. Permisi." Kata gadis tersebut langsung beranjak meninggalkan Rean tanpa menunggu jawaban.
Rean masih menatap punggung gadis tersebut hingga berbelok masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Ternyata ada cewek secantik itu disini. Hhhmmm, jadi tambah semangat kuliah disini," gumam Rean sambil mengulas senyumannya.
Seketika dia tersadar dengan nomor ponsel yang sudah diketikkan tadi. Rean segera memeriksa nomor tersebut. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat deretan angka dan nama yang diketikkan disana.
IGD RS Permata
+62854826xxxxx
Kedua bola mata dan mulut Rean langsung terbuka lebar. Dia mendengus kesal karena baru menyadari telah di kerjai oleh gadis tadi.
"Si*lan. Ternyata ini nomor igd. Awas saja jika ketemu lagi nanti. Aku pastikan tidak hanya nomor ponsel yang kamu berikan, tapi juga hati kamu," gumam Rean.
Hari itu, Rean sudah menyelesaikan urusannya di kampus. Menjelang siang, dia segera mengendarai motor besarnya menuju cafe sang kakak ipar. Dia sudah membuat janji dengan kakak iparnya tersebut.
Tak butuh waktu lama bagi Rean untuk sampai di cafe Cello. Dia segera memarkirkan motornya dan berjalan memasuki cafe tersebut. Beberapa karyawan yang memang sudah mengenal Rean langsung menyapanya. Rean yang memang sudah beberapa kali ke sana langsung ikut membantu. Berhubung saat itu sudah memasuki jam makan siang, banyak sekali para pengunjung di sana.
Tanpa sungkan-sungkan Rean langsung membantu melayani para pengunjung tersebut dengan mencacat semua pesanannya. Dia juga tanpa ragu-ragu ikut membawakan pesanan makanan beberapa pengunjung.
Cello yang juga ikut turun tangan sendiri langsung tersenyum saat melihat sang adik ipar tengah membantu para karyawannya. Dia sama sekali tidak terlihat malu untuk melakukan hal itu. Hingga beberapa saat kemudian, para pengunjung sudah mulai berkurang. Rean segera beranjak untuk menemui sang kakak ipar yang berada di ruangannya.
"Mau aku minta Andi bawakan makan siang?" Tawar Cello sambil beranjak berdiri dari kursinya.
"Iya, boleh Kak. Lapar ini."
Cello segera mengangguk dan pergi keluar ruangan untuk meminta pegawainya membawakan makan siang untuk mereka. Setelahnya, dia segera kembali ke ruangannya untuk menemui Rean.
"Bagaimana tadi di kampus? Sudah beres?" Tanya Cello sambil mendudujkan diri di single sofa yang berada di depan Rean.
"Lancar, Kak. Persiapan untuk ospek juga sudah beres."
"Bagus kalau begitu. Ingat, jalani apapun pilihan kamu dengan serius. Kamu sudah berhasil diterima di kampus itu. Gunakan kesempatan itu baik-baik. Ingat, Kesempatan ini tidak datang dua kali. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya."
"Iya, Kak. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin."
Tak berapa lama kemudian, makan siang mereka sudah datang. Baik Cello dan juga Rean langsung menyantapnya dengan segera. Makan siang hari itu, di selingi dengan obrolan terkait dengan kuliah yang akan dijalani oleh Rean.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Cello dan Rean segera bersiap-siap untuk pulang. Shanum sudah beberapa kali menghubungi Cello agar segera menjemputnya.
Menjelang sore, Cello sudah sampai di rumah mama Revina. Sedangkan Rean yang memang menggunakan sepeda motor, sudah lebih dulu tiba di rumah. Cello segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama setelah memarkirkan mobilnya. Dia segera masuk setelah mengucapkan salam.
Cello langsung berjalan menghampiri Shanum yang tengah berdiri di depan lemari pendingin yang terbuka. Dia segera melingkarkan kedua tangannya pada perut sang istri yang sudah terlihat sangat besar tersebut. Shanum yang tidak mengetahui kedatangan Cello langsung berjengkit kaget.
"Eh, maaf aku mengagetkanmu, Yang."
"Datang diam-diam, ih. Nggak ngomong-ngomong." Gerutu Shanum sambil berbalik dan langsung memeluk tubuh Cello. Seperti kebiasaannya selama ini, Shanum benar-benar merasa tenang jika sudah nempel pada tubub Cello dan menghirup aroma tubuhnya.
Awalnya, Cello merasa risih. Namun, lama kelamaan dia menjadi terbiasa.
"Mas, sepertinya anak-anak kamu minta dimandiin daddynya, deh."
"Eh, anak-anak apa mommynya ini yang minta?"
Memang ada beneran orang yang seperti Shanum itu? 🤔