The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 37



Malam itu, Shanum tidur dalam dekapan Cello. Entah mengapa hatinya merasa tenang setelah saling terbuka dengan Cello. Shanum merasa benar-benar ringan sekarang, seolah seluruh beban yang mengganjal hatinya terasa terangkat.


Hal yang berbeda justru dirasakan oleh Cello. Dia merasa gelisah dan gerah. Setelah apa yang tadi dilakukannya, kini Cello merasa kena batunya. Cello merasakan tubuhnya terasa panas. Ada sesuatu yang mulai menuntut untuk ditenangkan. Ditambah lagi, otaknya tidak mau berhenti untuk mengingat sesuatu yang baru saja dikenalnya.


Sepanjang malam, Cello bahkan tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Setiap gerakan yang dilakukan oleh Shanum, dia langsung terjaga. Jarak tubuh mereka yang saling menempel erat, membuat tubuh Cello semakin menegang. Namun, tidak ada yang bisa Cello lakukan untuk mengatasinya. Malam itu, benar-benar malam yang terasa sangat panjang bagi Cello.


Keesokan harinya, Shanum dan Cello bersikap biasa di depan mommy Fara dan juga daddy El. Hari itu, kebetulan mereka berkumpul di rumah karena weekend. Mereka berkumpul di teras samping yang luas sambil menonton TV. Jangan lupakan rujak buah yang mommy Fara dan Shanum siapkan untuk menemani mereka siang itu.


"Mas, ada apa tadi Fajar menelepon? Kalian ingin bekerja lagi disaat weekend seperti ini?" Tanya mommy Fara sambil menatap tajam ke arah daddy El.


"Eh, enggak kok, Yang. Nggak ada kerjaan weekend ini."


Mommy Fara hanya bisa mencebikkan bibirnya. Bagaimana bisa dia mempercayai perkataan sang suami dan juga asistennya tersebut jika menyangkut pekerjaan. 


"Halah, pasti juga bohong. Lagian ya Mas, aku heran dengan istrinya Fajar. Kok dia nggak protes dengan aktivitas suaminya yang banyak bekerja di kantor. Bahkan, saat weekend."


"Eh, jangan salah. Setiap Fajar bekerja lembur, sudah dipastikan dia akan minta kompensasi." Kata daddy El sambil meletakkan ponselnya yang sedari tadi dimainkannya.


"Kompensasi apa?"


"Kelonggaran waktu masuk kerja." Jawab daddy El.


"Eh, kelonggaran masuk kerja bagaimana?" Tanya mommy Fara bingung.


"Ya itu, Fajar selalu meminta untuk masuk kantor agak siang. Katanya, sang istri juga merajuk ingin dilembur juga,"


Mommy Fara, Cello dan Shanum yang mendengarnya hanya bisa membulatkan kedua mata dan mulut mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Fajar dan sang istri, ternyata diam-diam menghanyutkan.


Hari berganti hari, kini Shanum dan juga Cello sudah mulai saling terbuka. Mereka juga sudah berusaha untuk saling menerima. Bahkan, Shanum sedikit demi sedikit sudah mulai bisa melupakan peristiwa masa lalu tersebut dengan bantuan Cello. Shanum merasa sangat bersyukur mempunyai suami yang membantunya untuk menghilangkan trauma yang dimiliki. Meskipun, dengan cara yang sedikit, ah sudah lah.


Hari itu, Shanum sudah bersiap untuk ke kampus barunya guna melengkapi berkas persyaratan registrasi. Dia sudah menyiapkan berkas perlengkapan tersebut sejak beberapa hari yang lalu.


Awalnya, Shanum memang berencana untuk berangkat bersama dengan teman-temannya. Namun, karena mommy Fara tidak ingin melihat menantu kesayangannya berangkat sendiri, mommy Fara memaksa Cello untuk mengantarkan Shanum. Mau tidak mau Cello melakukan apa yang diminta oleh mommy Fara.


"Kalian janjian dimana?" Tanya Cello saat sudah berada di dalam kendaraan bersama dengan Shanum.


"Di kampus langsung sih. Kami kan hanya bertiga. Aku, Nanda dan juga Sania."


"Kalian satu jurusan juga?"


"Iya. Kami memang memiliki keinginan yang sama untuk memilih jurusan itu sejak kelas sebelas." 


Cello hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mereka terjebak macet pagi itu. Hal itu yang membuat Cello tak berhenti menggerutu. Melihat sang suami tengah kesal, Shanum berusaha menenangkannya.


"Jangan ngomel begitu, Mas. Ini juga paling sebentar lagi jalan. Nanti di depan bisa belok kiri langsung agar tidak terjebak macet," kata Shanum sambil menoleh menatap ke arah Cello yang berada di kanannya. Namun, Shanum begitu terkejut saat melihat adegan yang terjadi di dalam mobil yang berada tepat di samping mobil mereka.


Shanum langsung terkesiap sambil menutup mulutnya agar tidak berteriak. Cello yang menyadari tingkah Shanum pun langsung menoleh untuk melihat apa yang membuat Shanum terkejut.


"Astaga, sedotan bayi bangkotan kuat sekali itu."


Puk.


Shanum memukul bahu Cello karena geram dengan perkataannya.


"Aduuhh, apaan sih main pukul saja."


"Lagian, apanya yang bangkotan, Mas." Gerutu Shanum.


"Itu tadi. Laki-laki itu seperti orang kehausan menyerang sumber nutrisi anaknya." Jawab Cello sambil menatap ke arah Shanum. Seketika, dirinya penasaran dengan hal itu.


"Aku belum pernah mencobanya. Nanti malam dicoba, ya."


"Iya. Eh, apa?!"


Mohon bantuan dukungan untuk cerita ini. Tinggalkan jejak like, komen dan juga vote untuk othor. Terima kasih.